Wednesday, October 14, 2015

THIS IS A REVIEW: The Scorch Trials

Starring:
- Dylan O'Brien (Teen Wolf) as Thomas
- Ki Hong Lee (Unbreakable Kimmy Schmidt) as Minho
- Thomas Sangster (Game of Thrones, Phineas and Ferb) as Newt
- Kaya Scodelario (Skins) as Teresa 
- Jacob Lofland (Mud) as Aris 
- Rosa Salazar (Insurgent, American Horror Story: Murder House) as Brenda
- Giancarlo Esposito (Breaking Bad, Revolution) as Jorge

Budget: $ 61 juta
Box Office (per 28 September 2015): $ 239,5 juta
Lama: 2 jam 11 menit
Rotten Tomatoes: 50%
US Release: 18 September 2015

So.... harus mulai dari mana gue tentang film ini? Apa yang gue bilang soal BANYAK HAL YANG TIDAK BOLEH DIHILANGKAN DARI NOVELNYA? Maze Runner adalah film yang bagus karena tidak melenceng terlalu jauh dari source material-nya.

Ini novelnya. 
Tapi gue gak bakal ngamuk cuman karena banyaknya perbedaan antara novel dengan film The Scorch Trials. Film yang bagus tetaplah film yang bagus. Film yang jelek, ya.. masa' mau dikatain bagus? Dan dilihat dari filmnya, The Scorch Trials sebenernya gak sejelek itu, kok. Cuman, ya... let's just say it took some wrong steps. 

Salah langkah dalam artian apa? Take a look... 

#1: 
A Brand New Trial

Menurut pihak produser, The Scorch Trials (mulai dari sini pake istilah ST) adalah sekuel yang bakalan dipenuhi oleh action sequences. Pihak reviewer (termasuk para penyumbang skor Rotten Tomatoes) juga senada, hal yang paling menonjol adalah action sequences yang lebih kentara. 

Is that a bad thing? Gak juga. Selama saganya, serial The Maze Runner adalah cerita yang dipenuhi dengan action sequences. Apalagi The Scorch Trials. Justru, film adaptasi ST tanpa action sequences adalah sebuah kesalahan. Tapi di sisi lain, over-eksploitasi dari action sequences membuat sebuah film menjadi tidak berisi. Macam makan ayam KFC yang kebanyakan krispi-nya. Luarnya rasanya mantep, dalemnya gak sebanding. Apalagi kalo sinematografinya acakadut. Itu action sequence gak bakal bikin penonton tegang, tapi malahan jadi canggung.  

Trus, gimana ceritanya di film ini?

Dari kiri: Minho, Frypan, Newt, Thomas, dan Harriet.
Yah harus gue akuin bahwa action sequences di sini emang lebih banyak dari di Maze Runner. Dan bagusnya, LEBIH TERPOLES DAN LEBIH SERU. Lagian, emang itu, kan, harkat dan martabat action sequence? Seru? Tapi emang bener, adegan seru di sini gak terkesan berantakan meskipun pacing-nya tergolong cepat. Sinematografi yang bagus dan rapi mampu menyajikan action scenes yang menegangkan tanpa harus membuat penonton kebingungan karena banyaknya hal yang terjadi dalam layar. Yang mana biasanya karena terlalu banyak FX, penonton jadi bingung apa yang mau diperlihatkan, tidak terjadi di sini. Action scenes dibuat simpel tapi supel. 

Adegan aksi di film ini bukan hanya berimprovisasi dari novelnya (dan berhasil dalam hal itu), tapi juga menyajikan ketegangan yang gak jauh beda dari film sebelumnya. Padahal, setting yang ditawarkan di sini beda. Dibandingkan dengan terkena klaustrophobia di labirin, para Gladers dihadapkan dengan The Scorch, yaitu dunia di luar The Maze yang udah tinggal padang pasir, rongsokan, puing, dan isi-isinya yang mengancam nyawa. 

Ngomong-ngomong soal The Scorch, apakah sama dengan yang di novel? 

Ya.. dan tidak. 

Sure, sure, unsur umum seperti padang pasir (masa' mau dijadiin pegunungan gaya film Everest?), kota amburadul, dan penduduknya yang jelas gak bersahabat, dipertahanin di sini.

Selebihnya, rasanya enggak.

Beginilah The Scorch menurut filmnya.
See, menurut novel, daerah The Scorch digambarkan sebagai gurun pasir ultra-panas yang mana kemungkinan kita bisa bertahan hidup di sana mendekati nol. Suhu panas yang sangat menyengat, badai pasir yang lebih dari sekadar bikin kelilipan, dan lingkungan yang gak dihuni manusia. Tapi bukan berarti gak berpenghuni. Ngerti, gak?

Dan menurut sini, sayangnya, daerah Scorch gak separah itu.

Di film, the Scorch digambarkan sebagai:

- Sebuah gurun pasir yang (jelas) ditutupi oleh gundukan-gundukan pasir raksasa.
- Daerah perkotaan yang hampir gak memiliki manusia sebagai penduduk.

Dan... itu aja. Yep, sayangnya, itulah gambaran area Scorch menurut adaptasi ini. Untungnya masih pake gurun, tapi entah kenapa, kelihatannya daerah The Scorch tidak seberbahaya versi aslinya. Banyak sekali gambaran tentang The Scorch yang berbeda dari novelnya. Salah satu perbedaan yang paling gue sayangin, adalah bagaimana The Scorch gak 'sepanas' di novelnya. Dalam hal suhu, maksudnya. Tidak tergambarkan betapa panasnya The Scorch seharusnya di film. Di novel (ceritanya) panasnya The Scorch itu bisa menusuk dan (secara kias) membakar kulit. Sini? Padang pasir, gak lebih, (dan untungnya) gak kurang.
Dari kiri: Thomas, Newt, Minho, Teresa, Aris, dan Frypan.
Selain itu, keberadaan pemukiman manusia normal (yang belum menjadi Crank) di film ini juga bermasalah. Di sisi lain, film menjadi lebih tematis tentang keadaan dunia yang sudah hancur di ceritanya. Di sisi yang lebih penting, yang ada malahan tingkat 'kepanasan' The Scorch berkurang, karena mengingat The Scorch mestinya tidak bisa dihuni oleh manusia biasa, saking berbahanya tempat itu.

Meskipun harus diakui, secara visual, The Scorch tidak mengkhianati novelnya.  

#2:
The Maze is One Thing... 

Jelas, setelah keluar dari labirin Maze, cowok-cowok Glade butuh cucian mata. Mereka butuh bertemu dengan orang-orang baru. Kalo kayak Thomas yang kurang lebih baru satu minggu tinggal di Maze (dan kabur pada hari berikutnya), kayaknya gak masalah. Bagaimana dengan orang-orang yang tinggal lebih lama dari Thomas, macam Choi Minho dan Newt? Mereka udah bosen kali, setahunan lebih hidup bersama orang-orang yang sama, muka-muka yang sama, dan cowok-cowok yang sama. Gak ada yang jadi homo, tuh? Yakin?

Maka diperkenalkanlah, tokoh-tokoh baru berikut ini, yang jelas berasal dari novelnya, dengan perubahan-perubahan mereka masing-masing...



Janson (Aidan Gillen)
Di novel:
- Nama: 'Rat-Man'
- Ngapain: Suruhan WCKD 
- Peran: Supporting Character
- Gambaran: Kerempeng, tinggi, rada tuek, muka kek tikus (makanya julukannya Rat-Man)
Di film: 
- Nama: Janson (meskipun nama 'Janson' baru dikumandangkan di novel ketiga, The Death Cure)
- Ngapain: Suruhan WCKD
- Peran: Main Antagonist 
- Gambaran: Paruh baya, kurus tapi gak kerempeng, tinggi rata-rata, muka jelas gak kayak tikus
Impressions:
Lucunya, Janson udah kadung ditunjukkin sebagai antagonis di film ini, padahal di novelnya, dia cuman sebagai peran pembantu (meskipun udah kentara ni orang bakalan jadi antagonis). Belum lagi, yang paling penting adalah pemeranannya oleh Aidan Gillen. Bagi yang gak tahu, di novel, ya kurang lebih dia ini kayak tikus, baik dari perawakan maupun tampang. Di sini, yah dia hanya mengingatkan kita pada seekor tikus, meskipun tidak secara fisik. Mungkin karena Aidan Gillen yang jelas tampangnya gak mendekati seekor tikus, makanya langsung dikasih aja namanya, dari pada dijulukin Rat-Man. 

Thomas dan Janson. 
In any case, penokohan Janson di sini tetep kena. Mungkin secara sekilas gak sedingin yang digambarkan di novel, tapi dasarnya, Janson film dan Janson novel adalah orang yang sama: momok bagi kaum Gladers. Seneng juga sih, Gillen memerankan Janson sebagai tokoh yang kentara banget kualitas antagonisnya: dingin, sinis, skeptis, dan terpenting, mengancam. Meskipun gak setara novelnya, terutama di poin dingin. Then again, all in all, good.


Aris Jones (Jacob Lofland)
Di novel: 
- Nama: Aris
- Ngapain: Selain anggota Regu B (yang mana isinya adalah cewek semua), dia juga berperan sebagai "orang ketiga" dalam kisah roman Thomas dan Teresa. 
- Peran: Supporting Character
- Gambaran: Pirang, jangkung, muka mantap dan tamvan, fisik ideal layaknya Glader yang lain
Di film:
- Nama: Aris Jones
-Ngapain: Anggota kelompok Glader pelarian yang dipimpin Thomas.
-Peran: Main Character
-Gambaran: Pendek, pirang, muka macam nerd, tonggos (sangat tidak bisa dilewatkan), perangai Sonny Tulung lagak Wong Fei Hung
Impressions:
Yep, gue gak menyangka Aris bakal digambarkan kayak gini di filmnya. Gue mungkin berpendapat, Aris diperankan oleh Jacob Lofland adalah sebuah mis-casting alias salah ambil orang. Bukan karena Jacob Lofland tidak memerankan Aris dengan baik (percayalah, dia sudah menjalankan tugasnya). Tapi karena physique Lofland tidak sesuai dengan Aris yang digambarkan di novel. Belum lagi perannya di film yang, katakanlah, dibuat lebih simpel. Daripada jadi orang ketiga merangkap suruhan WCKD merangkap teman Thomas merangkap musuh Thomas di novel, mendingan jadi anggota baru kawanan Thomas dkk. Simpel, toh?
Aris. Serem juga, ya?
Dan apa yang gue maksud dengan "menjalankan tugasnya"? Yah satu sisi yang bagus, Aris memang digambarkan, baik secara langsung maupun enggak, sebagai sosok yang gak banyak omong. Di novel emang dia gak banyak berkata-kata, sedangkan di film, dia gak secerewet Thomas, Minho, dan kaumnya. Itulah Aris yang kita inginkan. Begitulah performa Jacob Lofland sebagai Aris. Selama jalannya film, terlihat Aris si ansos sebenarnya adalah aset yang sangat berguna bagi tim Thomas. Sementara di novel, Aris karena perannya sebagai orang ketiga di antara Thomas dan Teresa, malah gue gak terlalu suka. 

Brenda (Rosa Salazar)
Di novel:
- Nama: Brenda
- Ngapain: Crank (belum sedeng) yang membantu Thomas dalam perjalanannya melewati The Scorch.
- Peran: Main Character
- Gambaran: Rambut cokelat, cantik (menurut Thomas, seenggaknya), kurus
Di film:
- Nama: Brenda
- Ngapain: Penduduk Scorch yang membantu Thomas menyebrangi The Scorch.
Peran: Main Character
-Gambaran: Rambut macam cowok, postur biasa, warna rambut cokelat
Impressions:
Kalo soal fisik, intepretasi orang-orang terhadap tokoh novel berbeda-beda (kecuali Aris, itu mah nyasar, kalo pendapat gue). Dalam hal ini, Brenda secara keseluruhan tetap sesuai dengan versi novelnya. Soal tampang mah, rasanya itu hal yang relatif. Beda dengan perbedaan yang terdapat pada Aris, Brenda secara keseluruhan tidak terlalu drastis. Kesan yang diberikan di film dan di novel tidak terlalu jauh, terutama dengan rambutnya yang pendek memberikan kesan bahwa dia ini tomboy. 
Brenda dalam film. 
Kalo udah kayak gini, Brenda udah bagus. Dari segi pemeranan, Brenda adalah sosok yang awalnya sinis dan skeptis terhadap rombongan Thomas, tapi pada akhirnya, mendapatkan kepercayaan dari pihak Thomas, dan begitupun sebaliknya. Intepretasi dari Brenda hampir tidak melenceng (meskipun berbeda dari beberapa aspek) dari novelnya, dan di sinilah langkah tepat yang diambil oleh produser. 

Soal hubungan antara dia dan Thomas, nah di sini terjadi loncatan buta dari pihak produser. Adegan teler dia dengan Thomas di film menurut gue adalah hal yang sangat tidak terduga, mau itu yang nonton udah baca novelnya atau belum. Yang jelas, adegan ini menyegel hubungan antara Thomas dan Brenda dalam satu adegan saja: orang ketiga. Kurang lebih macam Aris dalam hubungan Thomas-Teresa di novelnya. Benar-benar sebuah gerakan nekat dan berani, bahkan lebih berani dari novelnya.


Jorge (Giancarlo Esposito)
Di novel:
- Nama: Jorge
- Ngapain: Crank yang membantu geng Thomas menyebrangi The Scorch.
- Peran: Main Character
- Gambaran: hispanic, paruh baya, kerempeng tapi jelas jauh dari kata 'lemah'
Di film:
- Nama: Jorge
- Ngapain: Penghuni The Scorch yang membantu Thomas dkk menyebrangi The Scorch
- Peran: Main Character
- Gambaran: paruh baya, hispanic, tidak terlalu kurus, apalagi kuat 
Impressions: 
Jorge di novel dan di film mirip, meskipun dalam wujud yang berbeda. Di novel, dia sangat nyentrik bahkan sedeng (karena statusnya sebagai Crank), sampe-sampe hampir membunuh Minho di saat pertama kali bertemu dengan geng Thomas. Pada akhirnya, Jorge berhasil membuktikan diri sebagai temen seperjalanan dan seperjuangan Gladers yang bisa diandalkan. 

Di film, Jorge sangat mirip dengan karakteristik itu, meskipun tidak seekstrim novelnya. Dia berawal dari sosok yang skeptis terhadap para Gladers. Pada akhirnya, dia adalah kompatriot yang sangat bisa diandalkan. Satu hal lagi, di film, "kegilaan"-nya karena statusnya sebagai seorang Crank di novel digantikan dengan kepintaran dan kecerdikannya dalam menghadapi masalah yang dihadapi Gladers. Meskipun ada sepercik sedikit dari kesintingannya di novel, Jorge lebih sering digambarkan sebagai orang yang pintar dibandingkan gila di film. Alternatif yang bagus. 

Brenda dan Jorge.
Tak kalah penting adalah hubungan antara Jorge dengan Brenda di film. Menurut Brenda (di novel), Jorge adalah semacam father figure baginya. Di film, pernyataan father figure lebih ditekankan (ironisnya), daripada di novelnya. Jorge terlihat sangat protektif terhadap Brenda yang sangat tough dan tomboy. Dan hal ini bagus, karena penokohan ini malahan tidak terlalu terlihat di novelnya. Di film, sifat overprotektif ini adalah kekuatan sekaligus kelemahan bagi Jorge, hal yang tidak ditunjukkan di novelnya. In short, peran Jorge sebagai father figure bagi Brenda lebih dalam di film daripada di novel. 

#3: 
Alternate Story?

Hah, selain dari The Scorch yang merupakan setting dari ST, banyak perbedaan yang terdapat pada filmnya, terutama pada CERITA. Well, untuk die-hard fans ini jelas akan terdengar mengecewakan, terutama gue (yang di review The Maze Runner mengatakan: "Ada banyak banget unsur yang gue gak pingin diilangin.").

But, hear me out first, guys, karena menurut pendapat gue..

Banyaknya perbedaan dari novel, it ain't all that bad.

Oke, sebelum para penggemar loyal menggebuki gue rame-rame, gue juga pingin menyatakan, secara pribadi, gue juga gak pingin unsur-unsur keren dari novel (for instance, si Crank yang pingin HIDUNGNYA THOMAS) diilangin. Okay? The Maze Runner udah cukup banyak melakukan penyimpangan dari novelnya, gue gak pingin film selanjutnya lebih dari itu. Lagian, ada alasan kenapa di film The Maze Runner terjadi banyak penyimpangan. Novelnya emang terlalu belibet jika dibandingkan dengan filmnya, bahkan dari sudut cerita. Tapi untuk The Scorch Trials... well, another story, another case.

See? Bayangin betapa kecewanya gue ketika melihat banyak sekali plot substance film yang melenceng dari novel. Gak cuman hal-hal kecil kek tampang ato nama, tapi bisa sampe ke ada unsur novel yang dihilangkan sama sekali dari film, ato unsur film yang gak ada di novel di bab manapun. Parahnya lagi, ada beberapa unsur film yang, versi gampangnya, begitu kita liat, kita bakal, "Ini berdasarkan novel The Scorch Trials?"

Lagi-lagi, dibandingkan dengan mengalami nervous breakdown akibat pelecehan pelencengan film terhadap novel (haish, gak banget), gue lihat dari sisi positifnya. Mungkin scene-scene yang miring ini tidak sama dengan novelnya, tapi MEREKA ADALAH ALTERNATIF. Yep, alternatif.  Bisa jadi, karena adegan ini lebih mudah dicerna dibandingkan dengan menggunakan adegan novel. Bisa jadi, karena adegan di film lebih fresh, karena adegan di novel mungkin tidak cocok jika difilmkan. Intinya, versi lain dari novel.

But then again, kebijakan ini adalah hit and miss. Yang mana film sebelumnya secara keseluruhan masih sama dengan novel kecuali penyajian, di sini, dari resepnya aja udah beda, apalagi penyajiannya. Cuman orang berintuisi kuat yang bisa melihat kesamaan dari film dan novel. Kesamaan antara film dengan novel jauh lebih implisit dibandingkan dengan film sebelumnya. Then again, masih sama, toh?

Hit and miss? Hit adalah yang gue bilang di atas, scene alternatif ada yang lebih enak dilihat dibandingkan dengan novelnya. Hampir semua adegan yang melenceng di film sebenernya memiliki kesamaan dengan di novel. Masalahnya, kalo scene alternatif ada yang lebih enak, berarti ada yang enggak, dong? Di sinilah terjadi miss. Niatannya sih baik, tapi ada aja adegan yang membuat film ini hampir tidak memiliki keterkaitan dengan novel yang didasarinya. Seakan-akan, film ini berdiri sendiri dengan cerita sendiri tapi dengan judul yang sama dengan novelnya.

True, adegan ini gak jelek, ada yang bagus malahan, tapi malahan membuat film ini menjadi

A good movie, a not-so-good adaptation.


(+) - Action scenes yang rapi.
        - Sebenernya tidak terlalu melenceng dari novelnya.
        - Penokohan yang asoy buat tokoh-tokoh barunya.
(-) - The Scorch yang kurang... ya The Scorch.
       - Sekalinya melenceng, nyasar.
       - Penggambaran beberapa tokoh yang rada nyasar juga.

[COMMEND!!] 80/100

Conclusion:
Film bagus, tapi bukan film adaptasi yang bagus. Berdasarkan banyaknya perbedaan dari novelnya, film ini lebih ke cerita alternatif dari novelnya, bahkan cocok jika berdiri sendiri. Gue menunggu kehadiran The Death Cure (2017), dan gue juga pingin liat, dia setia ato gak.

Until the next post, bungs! :D


















Thursday, September 3, 2015

Chapter 5 of Roque Mendez, Debt Collector

Carter had laid out all the details to Roque Mendez: Becks' address, how long he'd been dodging the debt, and Becks' ultimate tendency when someone knocked on his door to collect: run. Carter had said he'd sent someone, or even more-than-one, on many occasions to kindly asking Becks for the money, but like Carter had said about him, he always managed to escape. Which was one of the strongest reasons Carter had called Mendez, the one that Big T said 'the best in the business'. Mendez won't deny that, he was flattered by Big T's commendation, but he can't be the first individual Carter looked up on the Debt Collectors Phone Book. Roque recalled some of his jobs involving attempts of escape--by car, motorcycle, bicycle, on foot-- but no one had actually succeeded. Will this Trey Becks dude succeed?
Roque had entered the apartment and asked the doorman if Trey was in his apartment. He confirmed Becks' presence in his apartment, and up Roque went. Some minutes later and Mendez was already in front of Becks' door. He gently knocked at the door. "Trey Becks!" No reply came out. "Yo Trey Becks, can you kindly open up? I want to talk about business," Roque thought about the 'Trey Becks! This is the FBI! Open up!' gimmick so that Trey can buy it and immediately open up, but something interfered that idea. A noise from inside, what seemed to be a toppled frying pan. It was too quiet. Something was wrong. Mendez wasn't about to wait until discovering Becks was already on the run and was probably five blocks away from him now. He stepped back, and then kicked the door down. Not any single human being was inside, so but he heard a window being slide up to an opened state. He immediately rushed to the source only to find someone--definitely Becks-- just exiting the window to the fire escape just outside the apartment and starting to climb the fire escape instead of ascending it by stairs. This kid, Roque thought, knew parkour. Not a bad start.  
Becks was climbing the side gratings of the fire escape the direction up when Roque just barely vaulted through the window. He decided not to waste his time trying to attempt parkour himself, so he ascended the stairwell, but sped himself in the process by jumping over the railings. By the first ascent, Becks was already a level up from him. He won't catch up to Becks at this rate, he thought. Might not be the worst, if not the best, to try those sick parkour moves. He grabbed hold of the gratings and pulled himself upward. His biceps ached but he won't give in. Not now. He struggled to pull himself and tried to climb over the side railing, but instead he tripped and stumbled. Luckily he landed not on the other side of the railing. 
Roque glimpsed Becks already gaining more ground from him, now he's already on top of the flat. Roque picked up the pace and accelerated his run. When he was on the same ground as Becks, he saw the latter still not slowing down, not even to look back if his pursuer stopped. Now, as he still in hot pursuit for Becks, Roque Mendez get to witness something. The kid, Becks, was very fluent in the art of free running. Not unlike Mendez himself, Becks ran like he knew a way around, over, or even under any obstacle he came about. Even before him came close. As if he just ran, jump, slid, and leaped through all the things that stood in his way without any sign of hesitation or even slowing down to set his footing. He just did. Even with some unintentionally nice sight with Becks doing a backwards somersault on a gap between buildings, and landing with a front roll on a lower roof.
Roque himself can't afford to perform those stunts himself; he just leaped and landed on a roll himself. A gush of relief went to him, he hadn't lost his target. Just Becks getting further. More parkour antics and more of Roque Mendez barely trying to keep up the pace. The more obstacles stood in Becks' way, the more smoothly he ran through pretty much everything. Roque, while not as nimble as Becks, bypass all of the obstacles as well. He was genuinely surprised of himself. He'd never done a foot chase this long on any job he'd ever done.
Then there came a gap. It's not all that big, but the height of both of the building are not the same, thus Becks had an oncoming disturbance of having to climb to the higher building, as Roque had calculated. Becks abruptly halted, and then gazed up to the other edge, down, and then behind. His eyes met Mendez. It was wild, and over the face was smeared cockiness. Mendez had thought, this idiot wouldn't have gone further, or instead done something stupid. But instead, Becks did the unthinkable.
He dropped down from the edge of the roof. Roque instantly sprinted way faster than he was before, to see if Becks just simply quitting from the run in an easy way. What Roque saw was Becks descending and then gripping tightly a clothesline. Roque had noticed that between buildings were cobwebbed with clotheslines, with all sorts of clothing hanging about. He saw Trey hanging on a clothes line, and then in a blinding fashion grabbed a belt from a pair of jeans. Soon after, he released his hand to almost simultaneously hung on a lower line and then used the belt he just snatched to zipline the line. At the end of the line was a balcony, where he landed through a sliding door.
Just as Becks landed, Roque thought, this kid couldn't just show me some sick stunts and get away with it. He leaped -- entirely made of faith -- and grabbed hold of a line But the line snapped due to his weight and force he just put after the leap, and he fell. He swung somewhat sideways, and crashed into the window of a balcony next to the one Becks landed on.
Mendez felt the shard of the glass stuck all over his right arm. He twitched, feeling itches of pain, but he lumbered forward from the unlucky room he just stepped into and went for the door outside the apartment. He rammed the door and found Becks near a stairwell. The way Becks jumped, it looked like he went down. Roque started to sprint and descended the building. Instincts fully lead Roque's guts this time around, he could've stopped between the floors to check if Becks actually exited the stairwell at one, but instead he kept on descending. Went he was at a point of no further scaling down the stairs, he heard footsteps -- more like running steps -- to his left. He saw Becks, graças a Deus, he thought, for he haven't lost his hunt. Becks was near the doorway when the door suddenly swung open to reveal a generic looking tough guy. Becks didn't even brake; he just simply jumped and hanged on the doorway, swung over the man, and landed, still on the run.
Meanwhile, Roque was just nearing the doorway when the generic-ish man suddenly brandished a gun, shouting, "Hey punk! No funny business, punk, or I'll--" Roque obviously didn't have the time to toy with this guy as he did with several people two days ago; he just punched him across the face (fortunately not blocked) and went on. Guy went down, flat.
Behind the doorway was another doorway, and then it was the streets. When Roque finally got there, he saw Becks attempting to perform yet another acrobatic take on a simple task: crossing the street. The road was two-laned, and while not very crowded, it's not like it was completely empty. a car strolled by, and suddenly drastically reduced its speed went Becks came along. Becks carried on like it was nothing; he just vaulted over the hood. Then a truck came by. Becks didn't even reduce his speed; he just did a wallrun on the back of the truck's box. Roque was astonished; but he wouldn't stop. He passed in front of the stopped car and when he went for the second lane, a car suddenly came out of nowhere stopped in front of Mendez. Roque didn't have time to react, or to commit some insane reflex moves. He bumped on the hood and inadvertently rolled on the hood of the car. The previous speed of his sprint made him possible to roll all over the hood until he hit the ground. He got up again, and picked up his speed from where he left off. He glimpsed Becks entering the building. He wasn't going to let the game get away. If he was consistent, he would've caught Becks. But now, he'd admit on one thing: this kid is good.

Friday, August 28, 2015

THIS IS NOT A REVIEW: Mission Impossible: Rogue Nation


Starring: -Tom Cruise (MI-MI sebelumnya, Edge of Tomorrow, Oblivion, Top Gun) as Ethan Hunt
               - Rebecca Ferguson (Hercules) as Ilsa Faust
           - Simon Pegg (Shaun of the Dead, Hot Fuzz, The World's End) as Benji Gunn
               - Ving Rhames (Pulp Fiction, Dawn of the Dead) as Luther Stickell
               - Jeremy Renner (The Bourne Legacy, The Avengers, Hurt Locker) as William Brandt
               - Alec Baldwin (The Departed, Madagascar 2) as Alan Hunley

Budget: $ 150 juta
Box Office (per 14 Agustus 2015): $ 303,1 juta
Lama: 2 jam 11 menit
Genre: Action Spy
Rotten Tomatoes: 92% 
US Release: 31 Juli 2015


Pertama: Brian de Palma. Kedua: John Woo. Ketiga: J.J. Abrams. Keempat: Brad Bird. Dan sekarang adalah yang KELIMA, diarahkan oleh sineas Chris McQuarrie. Mantepnya, setiap film (mengingat sineas yang berbeda-beda), memiliki arah yang berbeda pula. Yang paling gue inget adalah MI2, dengan pengarahan John Woo (bagi yang belum tau, dia ini adalah suhu-nya film tembak-tembakan Hong Kong) membawakan film dengan action yang bertumpuk-tumpuk, sinematografi yang nikmat, tapi cerita yang lembek. 
Sekarang udah nyampe yang kelima. Angka lima, menurut pengalaman gue, merupakan titik puncak bagi beberapa franchise hiburan. CuRanMor GTA dan The Elder Scrolls, dua-duanya mencapai puncak franchise game mereka masing-masing dengan GTA V dan The Elder Scrolls V: Skyrim.
nggeplah duo
Untuk beberapa franchise lainnya, seri ke-5 merupakan titik balik. Liat aja Resident Evil 5, Fast Five, dan Mortal Kombat 5 : Deadly Alliance (secara kronologis, dia adalah game kelima dari serial Mortal Kombat). Resident Evil 5 adalah perubahan orientasi gameplay Resident Evil. Gara-gara si 5 ini, Resident Evil mulai bergeser dari Survival-Horror ke Action-Survival-Horror. Gak seserem dulu lah, intinya. 
Fast Five? Sebelumnya, Si FF ini lebih ke arah Street Racing. Abisnya si Fast Five (dan abisnya kehadiran si Dwayne 'The Batu' Johnson), FF mulai ke arah vehicular action yang gak cuman keliatan di adegan-adegan balapan liar doang. Mana ada balapan liar sambil nyeret brangkas besi? 
Trus gimana dengan Mortal Kombat: Deadly Alliance? Sebelum si Deadly Alliance ini, Midway Studios pembuat Mortal Kombat (secara tolol dan secara tidak disengaja) sedang membumihanguskan franchise Mortal Kombat. Ada MK: Special Forces (singkat cerita, action-adventure gagal), film MK: Annihilation (lebih singkat lagi, sekuel film gagal), dan MK Mythologies: Sub-Zero (sama kayak MK: Special Forces). Setelah vakum beberapa tahun, akhirnya keluarlah MK: Deadly Alliance, dan franchise MK pun balik ke jalan yang (agak) bener, sebelum akhirnya balik ke bener-bener bener di MK 9 (2011). 
Trus gimana dengan MI yang udah mencapai seri ke-5 ini? Apakah serial ini udah karatan, sehingga serial kelimanya udah gak asik lagi? Atau apakah seri ke-5 ini menjadi puncak tertinggi dari MI, setelah bukit dan lembah yang mereka telah lalui?

Jack Reacher: Rogue Nation?
Jack Reacher, film garapan Chris McQuarrie lainnya.
Ehh, bagi yang gak kenal Chris McQuarrie, dia ini sineas dibalik film Jack Reacher, yang dibintangi Ethan Hunt Thom Cruz  Tom Cruise. Film yang lumayan mantep kalo lu tanya gue, karena cerita yang ditempuh tokoh utama Jack Reacher halus dan enak diikutin, dengan menyajikan crime-thriller yang brilian diselingi dengan adegan action yang memadai. In short, Jack Reacher lebih ke arah pinter daripada seru. Dan siapa pemain terbaik dari film itu? Ya si Tom Cruise itu.
Kita semua tahu bahwa serial MI adalah serial action. Hell, bahkan kata 'action' tertera di genre film ini. Semua film sebelum MI: RN memiliki unsur action yang sangat kental. Tapi, rasanya, RN menyajikan suasana yang berbeda.
Perbedaan ini berinti pada Chris McQuarrie.
Jack Reacher adalah film thriller yang disutradarai Chris McQuarrie. Mengingat bagusnya tema dan aura thriller yang dibawakan dalam film tersebut (menurut gue), maka gue bisa bilang kalo si Chris ini ahli dalam bidang thriller.
Dan rupanya, dia membawakan kesan dan aura thriller dari Jack Reacher ke film terbaru dari serial MI ini. Kita semua ngerasain suspense tingkat dewa pas Tom Cruise manjatin Burj Khalifa di MI: Ghost Protocol, atau pas Tom Cruise sempet-sempetnya mati (dan disetrum sampe hidup) di MI 3. Suspense. Ketegangan. Itulah yang sebenernya bikin action dari MI tidak membosankan apalagi basi. Karena entah kenapa, semua sineas yang mengarahkan film-film MI membawakan suspense yang sangat clever, sehingga penonton (termasuk gue) gak bosen.
Seperti biasa, Tom Cruise sukses
membawakan peranan Ethan Hunt.
So, what do we got on the newest entry?
Let's just say it's much more smarter and a lot less louder.
Sure, sure, kita dapet beberapa adegan menegangkan (bahkan di mulainya film aja udah dapet adegan tegang) di film ini. Ada Tom Cruise yang beneran (inget, beneran) gelantungan di pesawat yang lepas landas, ada Tom Cruise nyebur ke dalam pipa air raksasa berisikan air bertekanan tinggi, ada adegan kejer-kejeran pake motor modifan.
Lucunya, sebenernya banyak adegan action dalam film ini. Tapi mengingat Chris McQuarrie, adegan action yang kita dapetin bukan tipe-tipe action gak masuk akal dan yang biasanya bikin kita melongo sambil mikir, "GILEEEE!!" Palingan unsur over the top dalam film ini cuman satu biji. Selebihnya, adalah action sequences yang sangat relatable dan simple, meskipun jauh dari kata membosankan. Semuanya jalan gara-gara acting yang ultra-meyakinkan dari Tom Cruise. Mikir sendiri sih, dia hadir di kebanyakan adegan action di film ini.
What I'm trying to say, is that action melingkupi setengah dari film ini, gak kayak film sebelumnya yang biasa mencapai 3/4. Dan bagaimana dengan setengah lainnya? Anggep aja conspiracy-thriller yang muncul secara sepercik-percik di MI sebelumnya, tapi belum pernah segembol kayak sekarang.
Alkisah, IMF (bukan International Monetary Fund, sayangnya) menugaskan Ethan Hunt untuk memburu sebuah organisasi kejahatan multinasional bernama The Syndicate (terlihat secara implisit di ending MI:GP). The Syndicate ini (ceritanya) hampir tidak tersentuh, dan dilihatnya, bertujuan untuk menumbangkan dan merusak hubungan diplomatis Amerika dengan negara-negara sekutunya. Sayangnya (lagi), CIA selaku atasan IMF tidak percaya akan keberadaan The Syndicate, dan malahan menuduh Ethan melakukan kegiatan-kegiatan anarkis dengan alasan mencari The Syndicate. Ethan yang tahu soal beginian akhirnya melakukan penyelidikan di luar jangkauan IMF dan secara gak langsung-- CIA.
No SFX. No Double. No Fake.
Gue bilang sih, conspiracy-thriller yang menghiasi cerita MI:RN is not a bad idea. Ini plot dilengkapi dengan dialog yang kuat, acting yang lebih kuat lagi, dan twist-twist yang bikin, "JREEEENG!!"
But it's not like it's good either.
See, pendapat gue, thriller yang disajikan di film ini is a good one. It truly is. Tapi ada saatnya plot yang dipakai di film ini menjadi rumit, sehingga secara gak sengaja mensabot unsur spy-thriller yang dibawakan oleh film ini. Kadang-kadang plot jadi terlalu belibet sehingga ngikutnya bingung dan akhirnya bosen juga.
MI:GP sayangnya, membawakan plot lebih baik, dimana plot tidak memberikan kerumitan yang gak perlu, tapi masih brilian karena plot mengandalkan suspense dibandingkan conspiracy yang convulted/ribet. Twist-twist yang terdapat di GP saya bilang simpel-simpel, tapi you just can't go wrong with the classics. 

Go Rogue Vogue with Ilsa Faust
So, selain Tom Cruise sebagai Ethan Hunt (selama 5 film dan 10 tahun lebih, gak bosen-bosen juga, ya?), kita punya kumpulan (gak se-truk) karakter-karakter, baik, ehm, baik maupun jahat untuk menemani Ethan Hunt dalam petualangannya yang terbaru ini.
Kita punya tokoh-tokoh lama, seperti Benji Gunn (Simon Pegg), hacker merangkap temen deket Hunt, Luther Stickell (Ving Nasi Rhames), teknisi lapangan merangkap partner-in-crime Hunt di semua film MI, dan William Brandt (Jeremy Renner), yang menemani Hunt sejak MI:GP.
Yang baru, jelas lebih dari satu.
Yang mencolok, sayangnya, cuman satu.
Yah, jadi selain tokoh-tokoh diatas dan satu tokoh yang bakal gue bahas bentar lagi, tokoh-tokoh lain emang diperankan dengan baik. Sayangnya, seperti yang gue bilang, gak ada yang mencolok. Para antagonis menyentuh daerah cliche, dan tokoh-tokoh lainnya cuman berguna sebagai sekedar pelengkap atau pendamping para tokoh utama di layar.
Semua, kecuali satu.
Ilsa Faust, yang diperankan oleh Rebecca Ferguson. 
We're only fighting for the right side because that's what
we chose to believe. -Ilsa Faust
See, serial MI terkenal menampilkan (selain Ethan Hunt, tentunya) lead female yang unik untuk setiap entry-nya, biasanya buat ngedampingin si Tom Cruise di layar lebar. Anggep misalnya Nyah Hall (Thandie Newton) di MI 2, cewek yang sebenernya bagian dari misi Hunt, tapi akhirnya, ehm, terlibat hubungan intim dengannya. Atau Jane Carter (Paula Patton) rekan kerja Hunt di MI:GP yang tangguh dan jagoannya saingan sama si Hunt sendiri.
Sekarang, kita disuguhkan Ilsa Faust, undercover MI6 agent yang menyusup ke dalam The Syndicate. Selama film, Ilsa kerap kali melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan pihak Ethan Hunt dan pihak The Syndicate. Sekali waktu dia berpihak sama Hunt, lalu selanjutnya dia berlawanan dengan Hunt. Mungkin biar gak ketahuan kalo dia sebenernya bukan di pihak The Syndicate. Anyways, cara Rebecca Ferguson (bukan dari Inggris apalagi Amerika, yee) membawakan dua keberpihakan dalam satu orang yang sama patut diacungi jempol. Kesannya, dia dingin di sisi The Syndicate dan desperate di sisi MI6, tidak memiliki pilihan banyak selain menjatuhkan The Syndicate, karena betapa bahayanya misi undercover ini.
Seperti halnya heroine-heroine di spy movie kebanyakkan, Ilsa sangat proficient dalam berbagai bidang kemata-mataan. Tembak-tembakkan, pukul-pukulan, bunuh-bunuhan, standard spy skills. Namun, hal yang menarik adalah Ilsa kelihatan gak sempurna sebagai seorang spy, meskipun keliatan banget jagonya. Sure, sure cewek-cewek spy lain juga kena jotos sekali-dua kali, tapi seperti yang gue utarain di atas, Ilsa juga memiliki kelemahan secara emosional.
Kalo mau cantik, nih Black Widow.
See, Ilsa, gak kayak Black Widow, sebenernya takut terhadap misi berbahaya yaitu menyusup ke dalam The Syndicate. Dia mungkin gak menunjukkan tanda-tanda ketakutan, tapi selama film kita melihat bahwa, sejago-jagonya dia sebagai seorang agent, dia juga manusia. Dia pingin cepet-cepet misi penyusupan The Syndicate selesai. Sifat desperate di yang gue utarain di atas adalah karena dia masih sayang nyawa (gak kayak Ethan, jelas) dan dia tahu satu kesalahan sepentil bisa mebuat dia ketahuan oleh organisasi The Syndicate. Karakterisasi ini membuat Ilsa jauh lebih realistis dan lebih manusiawi dibandingkan karakter cewek spy movie kebanyakkan. Relatable lah, istilahnya.
Dari sisi tampang, memang Ilsa gak semantep cewek-cewek setingkatnya (Scarlet Johansson as Black Widow, wew), tapi pendapat gue, memang itu maksud dari film ini. Ilsa diperankan bukan dalam konteks yang terlalu seksi, tapi gak juga terlalu jelek. Dia adalah heroine yang realistis. Mungkin kita dapet sekali-dua kali scene mantep dia, tapi selebihnya, dia gak terlalu mencolok. Realistic, right?

[THIS SECTION BELOW CONTAINS SPOILERS. YOU HAVE BEEN WARNED.]

Is It ACTUALLY Impossible?
Mengapa judulnya Mission Impossible?
Lebih tepatnya, Mission: Impossible?
Selama empat film lebih, Ethan Hunt dihadapkan kepada misi yang kurang asem, mungkin cuman dia kali yang nekat ngelakuin.
Dan selama proses berjalannya misi-misi ini, kita para penonton cuman bisa melongo ngeliatin bagaimana Hunt, yang masih masuk kodrat manusia, menghadapi misi-misi yang gak bisa dijalanin sama manusia.  Dari mengejar mantan agen IMF yang membelot (yang mana bawahannya menyusup sebagai bawahan Hunt sendiri) sampai mengejar senjata nuklir liar tanpa bantuan macam apapun dari IMF. Keliatannya gampang, kan?
Keliatan gampang? Simpel? Coba sendiri dah..
Dengan entry kelima yang gue bilang lebih smart dibandingkan loud, gue bilang kata 'impossible' agak susah diterapkan, karena selama ini dalam empat film berturut-turut, kata 'impossible' kita bisa lihat melalui berbagai scene-scene action tingkat tulen. Kita bisa melihat bagaimana betapa ngayalnya hal-hal yang harus dilakukan Ethan Hunt dkk agar misi tersebut berhasil (manjat pencakar langit tertinggi di dunia, anyone?), and yet, mereka berhasil ngelarin semua misi mereka.
Tebak apa yang bikin misi mereka kelihatan impossible?
Ya para antagonis ini.
Mau kita benci, atau diem-diem ngefans, para penjahat inilah yang sebenernya membentuk franchise MI. Ya pinternya para penjahat ini akhirnya berakar pada pinternya para pihak screenwriter, cinematographer, dan tentunya director dan masing-masing film sih, tapi yang kita lihat sejauh ini kan penjahatnya.
Such is the case of The Syndicate.
Let there be peace on earth.
-Kurt Hendricks
Selama jalannya film, semua tokoh utama, bahkan Ethan Hunt sendiri, memberikan indikasi dan pernyataan terselubung mengenai The Syndicate. Bahwa The Syndicate ini adalah organisasi kejahatan ter-imba di dunia. Kesannya, mereka ini gak tersentuh, yet mereka sudah banyak mengobrak-abrik keamanan nasional banyak negara. Gimana tuh, caranya?
Balik lagi ke sejarah franchise MI, franchise film ini punya kebiasaan memberikan antagonis yang unfair. Mau sehebat-hebatnya Ethan Hunt dkk, para antagonis ini pasti kelihatannya jauh lebih hebat, jauh lebih modal, dan terpenting, jauh lebih banyak anggotanya. Kesannya jadi impossible, kan?
Liat aja Jim Phelps (konon, adalah protagonis serial TV MI), antagonis MI pertama. Dia punya anak buah ternyata adalah anak buah Ethan Hunt sendiri, jadi otomatis, dia selalu tahu kemana Hunt akan melangkah, mengingat dia udah punya sarana memata-matai Hunt. Atau Sean Ambrose, antagonis MI 2, yang adalah mantan agen IMF yang udah hafal cara kerja Hunt. Paling mantep adalah antagonis MI:GP Kurt Hendricks, karena dia ini udah jelas modal banget, padahal si Hunt ini lagi apes, IMF lagi ditutup oleh pemerintah jadi dia gak bisa dapet bantuan dalam bentuk apapun.
Balik lagi ke The Syndicate, apakah mereka berhasil menyajikan mission yang impossible buat Ethan Hunt and the gang?
Ehh, yes...
And no.
BTW, yang meledak di belakang itu helikopter. Jadi
si Hunt ini loncat dari helikopter yang meledak ke kereta
superspeed yang masih jalan.
See, yes berasal dari build-up yang diberikan oleh film selama jalannya film. Selama film, selain reputasi yang dinyatakan secara tersirat oleh para tokoh utama, juga personil-personil organisasi ini rasanya lulusan Suzuran (sekolah 'terbaik' di jepang, kurikulum mereka kurikulum tawuran) semua. Garang-garang sih, soalnya. Belum lagi tantangan-tantangan yang disodorin The Syndicate ke Hunt. Hunt, sebagai agen IMF yang digadang-gadang paling tangguh dan kebal sama kematian, bisa kewalahan juga karena bertubi-tubi geliatnya si Syndicate ini. Ilsa Faust sebagai satu-satunya penyeimbang bagi kubu Hunt juga gak selalu bisa diandelin, karena mau gimana juga, Faust masih anggota The Syndicate. Jadinya, Faust sering membelot dan melawan Hunt.
Tapi no berasal dari bagian yang paling menentukan seberapa impossible The Syndicate ini sebenernya: The Climax. Atau The Final Standoff. Atau The Ultimate Showdown. Atau The Last Straw. Intinya, konfrontasi puncak antara Ethan Hunt dan The Syndicate. Now how the hell someone screwed that up?
Balik lagi ke sejarah MI (astaga, bosen juga), klimaks dengan para antagonis sangat sedap dan memuaskan. Di MI, baku hantam di atas kereta api superspeed sambil ditembakin helikopter. Di MI 2, kejer-kejeran motor, banyak ledakan, bum-bum-bum, trus adu bogem abis-abisan di pantai. Di MI:GP (maap, gue gak terlalu merhatiin MI 3), berusaha mematikan nuklir liar yang sedang meluncur ke USA, padahal tombol yang bisa matiin rusak.
Sampe ke franchise ke-5, rasanya pihak production house udah ngerti, ya caranya membuat klimaks film MI yang bener-bener klimaks. Atau mungkin Chris McQuarrie berusaha menyajikan sesuatu yang berbeda?
Karena, ending MI:RN, not that good.
Ini Solomon Lane. 
Selama final act dari MI:RN, The Syndicate mungkin masih terlihat (rada) garang, tapi gak ada konfrontasi yang bener-bener memuaskan antara ketua The Syndicate, Solomon Lane, dan Ethan Hunt. Padahal awal dari akhir film ini udah bagus. Benji pake acara diculik, Hunt terpaksa melakukan hal-hal ekstrim cuman biar Benji bisa balik dengan selamat. Setelah negosiasi mengembalikan Benji gagal, Ethan dengan cerdik menyelamatkan Benji, menolong Ilsa yang udah ketahuan dari genggaman The Syndicate, dan mengalahkan Lane.
Bagian mengalahkan Lane mungkin yang bermasalah di sini.
Sepanjang jalannya film, Lane digambarkan sebagai sosok yang dingin, penuh perhitungan, dan jago. Jadi wajarlah, kalo misalnya Lane berhadapan dengan Hunt enak dilihat?
Mau secliche-clichenya Lane, dia masih antagonis yang, yah, lulus KKM, meskipun gak melampaui.
Setelah negosiasi, Ilsa dan Hunt melumpuhkan beberapa anak buah Lane, sementara Benji melarikan diri. Ilsa dan Hunt pencar dan menjauh dari Lane. Ilsa tarung dan bunuh tangan kanan Lane (yang lucunya, lebih tegang dari Hunt vs Lane). Hunt dikejer Lane (yang lebih lucunya lagi, memutuskan untuk mengejar Hunt sendirian). Lane keliatannya udah mau ngedapetin Hunt, tapi ternyata si Hunt ini mengumpan Lane ke sebuah kotak kaca, dan membuatnya terperangkap di dalam. Setelah Lane terperangkap, Hunt mengisi kotak tersebut dengan gas yang membuat Hunt pingsan di awal film.
Singkat cerita, poetic justice. Hunt mengalahkan Lane dengan cara yang sama Lane menangkap Hunt di awal film.
Di satu sisi, gue nganggep ini adalah ending yang smart, karena mengandung unsur simbolik perihal bagaimana Hunt menjatuhkan Lane.
Di sisi lain, NGAPAIN??!!
Mungkin orang bakal ngebelain bagaimana kecerdikan Hunt dalam menggertak Lane, mengelabui Lane, dan secara implisit mengalahkan Lane dalam permainannya sendiri. Gue mungkin ngeliat dari sisi yang berbeda dari orang-orang waras ini, tapi then again, gue gak selalu waras.
Selama film, RN memiliki nuansa pintar, penuh intrik, penuh konspirasi, dan kalem. Dialog dalam film lebih banyak. Film banyak menggunakan twist-twist dalam cerita. Adegan-adegan Hunt yang gak melibatkan action melibatkan cara Hunt berpikir dalam menghadapi masalah. Dalam arti lain, lebih banyak otak daripada otot disini.
Mengingat kita (terutama gue) yang udah banyak dipusingkan dengan banyaknya plot elements yang bertumpuk-tumpuk, rumit, dan bejibun , rasanya membuat ending yang gak action-oriented gak bisa dibilang memuaskan. Udah capek kali, dibikin mikir terus. Ilsa malahan kedapetan bagian yang lebih baik dari ending film ini. Dia minimal dapet fight scene yang menegangkan.
At least make Ethan Hunt punch Solomon Lane!
Lane terlalu cepet kalah, itu masalah dari klimaks dari film ini.

[SPOILERS END HERE.]

(+) - Action scene di film ini masih bagus.
      - Ilsa Faust sebagai heroine film ini sangat realistis dan relatable tanpa harus membosankan.
      - Tokoh utama (Hunt, Gunn, Brandt, dan Stickell) masih mantep.
(-) - Tokoh selain tokoh utama membosankan.
     - Twist-twist dalam plot gak sebagus Ghost Protocol punya.
     - De Ending. Sheesh.

NILAI: 80/100

AKHIR kata, RN mungkin gak sebagus GP dalams segi cerita dan pembawaannya, tapi masih ada unsur RN yang gak boleh dilewatin, seperti action yang selalu baru dan selalu menegangkan. Perihal orientasi film yang lebih ke thriller dibandingkan action, gak berarti hal yang jelek, cuman salah pacing bikin film ini gak seenak GP.
  


Until the next post, bungs! :D











Sunday, August 9, 2015

WHAT THE HELL HAPPENED IN: 14.7.2015. part 1

Semua dimulai dari jam 9 malam. 

Yaudah, jam setengah 8 sebenernya, yaitu ketika bokap dengan attire-nya yang berbau "going somewhere", kayak kaos non-oblong, jeans, dan sepatu casual Airwalk-nya ngedatengin gue, dan nanya: 

"Yok, Jae, Jay, makan di luar." 

Normally, gue bakal bilang iya, karena gue bukan tipe orang yang bermasalah kalo diajak makan di luar. What could possibly go wrong, right? Gue percaya dengan bokap gue gak bakal ngejerumusin gue ke sarang formalin, boraks, dan kaum-kaumnya. So, by the least, no reason to deny, right?

Well, here's the thing.

Gue gak tau pastinya, tapi sebelumnya nyokap nge-WhatsApp (yep, Whatsapp, who cares about BBM now) adek gue buat masak nasi, karena dia bakal pulang bawa lauk. Lauk macam apa pula, gue gak tau. But anyways, like I said before, what could possibly go wrong, right? Nyokap gue tau kalo gue dan adek bukan tipe-tipe orang yang milih-milih makanan, tapi bukan tipe-tipe omnivora tingkat tulen tak terkendali yang bisa makan daun pare. Dia tahu apa yang bakalan dia beliin buat gue. 

Waktu tiba saatnya bokap udah ngajak gue pergi makan di luar, adek gue udah lama kelar masak nasi. Gue langsung dihantem dilema. Nyokap gue masih lama pulangnya, ini juga udah rada malem, dan bokap gue, like I said, what could possibly-- ah sudahlah. It's actually a very good proposition. Di sisi lain, adek gue udah keburu masak nasi, nyokap udah ngebawain kita berdua makanan, dan gue belum laper-laper amet sih jam segituan. Intinya, kalo gue makan di luar sama bokap gue, usaha adek gue (masak nasi) dan nyokap gue (bawain pulang makanan, menembus macet, dan menghindari senggolan tak disengaja sopir truk gandeng teler) sia-sia. Mereka udah segitunya, dan gue malah gak makan di rumah.

So I said, "Gak deh pa, saya nungguin mama aja."

Dan gak ada skenario dramatis untuk adegan ini, oke?! Simply because gak ada celah untuk nyelipin adegan sinetron dengan desisan symbal yang numpuk dan close-up tiba-tiba ke muka tokoh utama. Iye, gue tau lu kaget, tapi gak di zoom segitunya juga kali! Halah! Ya opo iki sama dunia pertelevisian Indonesia? Perfilman udah bagusan sih, karena film horror sedeng udah mulai ilang, meskipun masih ada sih, tapi ADA APA DENGAN PERTELEVISIAN INDONESIA!? Kalo lu udah nganggep naga Indosiar, RCTI, dan teman-temannya adalah tontonan termantep lu di sini, WE OBVIOUSLY GOT A BIG PROBLEM!!

Ehm.

Dan pergilah bokap gue, dan dia pun balik setengah jam kemudian. In case lu lupa sekarang jam berapa, sekarang adalah jam 8 malam. Nyokap belum menampakkan diri sampe sekarang. Eh, normally gue adalah orang yang gak terlalu peduli makan malem jam berapa. But this.. gak kelamaan? Kurang lebih sampe jam setengah 9 gue nungguin nyokap balik, dan pada saat itu, perut gue mulai nyuarain suara fals-nya. Keroncongan, maksud gue. Di detik itu juga, gue udah nrimo gak makan malem sekalian. Lagian, bukan pengalaman pertama gue...

Jam 08.45.

Pintu rumah terbuka. Nyokap berhamburan (sendirian, tapi anggeplah tas belanjaan itu orang juga) ke dalam ruang tamu. Adek gue (entah kenapa, gue kira dia udah tidur jam segituan) turun ke ruang tamu, gue nyusul.

Gue tanya nyokap gue, "Makanannya apa, ma?"

Dia bilang sate yang dia colong beli dari mal tempat dia kerja di Jakarta. Kata dia enak, dan gue percaya. Gue yakin sebagai nyokap yang baik, dia gak bakal beliin anaknya cicak goreng. Meskipun gue gak bakal langsung nolak cicak goreng. Kan bisa aja enak, toh?

Anyways...

Gue udah seneng banget. Sate gak bisa gue bilang makanan terenak, tapi mereka-mereka ini termasuk favorit gue. Mana gue laper lagi. Langsung aja kita taro piring segala macem, jelas bersiap buat sikat rata itu makanan takeaway nyokap gue.

Sampe nyokap gue bilang sesuatu lagi.

"Dek, ini nasinya kok kurang mateng, ya?"

Aw shi-- gue gak masalah sama nasi yang agak terlalu kering (percaya sama gue, gue pernah masak begituan, dan selama makan gue harus ngeles kalo itu nasi bagus buat dijadiin nasgor), tapi belom pernah berhadapan dengan nasi yang kurang mateng. Gimana caranya nasi bisa kurang mateng? Seinget gue, tombol COOK di rice cooker udah cukup buat mastiin itu nasi mateng bener. Kecuali mati lampu pas masak. Atau kabel rice cooker dijadiin kripik sama tikus lewat.

In any event, gue gak masalah sama nasi buatan adek gue. Lagian dia kan udah berpengalaman (entah berapa banyak tepatnya) masak nasi. Dia pasti (seenggaknya) tau cara masak nasi. Jadi, gue masih beranggapan nyokap BERANGGAPAN nasinya kurang mateng. Beda standar, sih, anggepan gue.

Itu sampai gue centongin nasinya.

Nah ini beneran. AW SHIT.

Gue pernah makan nasi yang menjadi bubur (airnya kebanyakan). Tapi ini, my friend, adalah BERAS YANG MENJADI BUBUR. Yep, tekstur, kelembekan, dan pewarnaan adalah bubur, tapi pas mereka ini udah nyampe lidah gue, RASANYA JELAS BUKAN NASI. Sisi (agak) baiknya, gue sekarang tau bedanya nasi mateng dan nasi gak mateng. Sisi buruknya, adalah semua pengalaman itu nasi masuk, nyentuh lidah, sampe jatoh ke tenggorokan SANGAT TIDAK ENAQ.

Let me break this down for you...

Tekstur yang lembek-lembek menyek bikin gue mikir, "Oh, ini bubur. Berarti nasinya lembek kayak bubur. Gak perlu banyak usaha buat ngunyah trus nelen ni makanan." Right? WRONG! Rasanya setengah-nasi-setengah-padi (yea I know, right?), dalam artian, PADI YANG SESUNGGUHNYA, YANG MASIH TUMBUH DI LADANG PINGGIR JALAN TOL. Bukan daun padi, tapi bulir padinya. Bubur? Yah, bubur luarnya, lebih tepatnya. Dalemnya? Kerasnya saingan sama nasi goreng yang biasa harganya 15k-an di pinggir jalan. Lebih keras, malahan. Ngunyah begituan aja penuh usaha. Pada saat lu tau kalo nasi lu dikunyah aja perlu usaha, LU MESTINYA TAU KALO NASI LU INI BERMASALAH KRONIS.

Adek gue yang masak juga nyadarin ini, sih.

Sate bawaan nyokap adalah dua-duanya (nyokap gue bawa pulang dua jenis sate) penyelamat makan malem gue sekarang. Apakah mereka mampu menyelamatkan dinner gue? Atau apakah mereka akan menjerumuskan selera makan gue yang malem itu udah jelek? Gimana kelanjutan kisah mereka? Saksikan di GLOBAL TIPI.

Pertama adalah sate buntel. Warnanya coklat, bentuknya (sebagaimana namanya) buntel, dan makan lumayan banyak tempat di tusuknya. Artinya, buat ngabisin sate ini dari tusuknya, bakal dibutuhin lebih dari satu gigitan. Halah. Jelaslah.

Normally, gue adalah penggemar sate. Kambing, ayem, babi, ikan (bila ada), bebek (sekali lagi, bila ada) gue demen. Jadi, berkat pengalaman lidah gue dengan sate-sate sebelumnya, mestinya gue gak ada masalah sama sate buntel yang satu ini dong?

Itulah pikiran gue pas ngegigit sate tersebut. Untungnya gak alot, kalo ikut-ikutan alot sama nasinya ya berarti kita punya masalah yang jauh lebih besar daripada nasi yang setengah mateng (pernyataan ini dikemukakan oleh bokap besoknya setelah dia tahu kejadian ini). Masuk ke mulut, nyasar ke gigi, gue kunyah.
Ceritanya ini makanan kesukaan Jokowi. Wut??

Satu kunyahan.. dua kunyahan..

Eits, gue disini bukan buat bikin lu pada ikut ngiler dengan empat kata di atas, karena SATENYA NOT DELICIOUS. Gak perlu di break down kayak nasinya, langsung ke intinya aja, karena ini sate adalah murni ketidakenakan. Begitu mencapai dua kunyahan, rasanya (pengalaman gue) terjadi ledakan antara asin dan asem dalam mulut gue. Sumpah, ngagetin banget. Asin gak masalah, asem apalagi, tapi toh ledakan dua-duanya dalam mulut gue lu kira enak juga? Ledakan di sini, dalam artian, rasa dua-duanya langsung muncul begitu saja dalam konsentrasi (maaf kalo gue kedengeran sok pinter di sini, tapi gue gak tau kata yang lebih bagus) yang KELEWAT BANYAK.

Lucunya, gue masih sempet ngira ledakan nuklir dalam mulut gue sebagai "reaksi lidah gue yang kurang terbiasa dengan rasa beginian". Jadi, gue gigit lagi tu sate. EEERGH!! *sek, muntah dulu* Ternyata emang bener itu sate memiliki kendala dalam proses produksi. Atau emang rasanya kayak gitu, dan gue gak terbiasa.

Makanya gue langsung tanya ke nyokap gue perihal malfungsi makanan ini. Ehh, siapa tau emang cuman gue disini yang gak terbiasa sama rasanya, padahal nyokap gue bilang itu enak? Mungkin nyokap suka sama ni sate, trus dia beliin gue sate ini dengan asumsi gue pasti suka juga. Gak cuman sekali gue punya perbedaan selera sama nyokap soal makanan. Paling kentara: Duren dan cempedak. Dia suka dua-duanya, gue gak suka dua-duanya.

"Iya ya Jay, ini kok agak terlalu asin ya?"

Mending nyokap daripada gue. Dia ngerasa rasa yang overdosis cuman sisi asinnya. Gue? Asin sama asem secara bersamaan. Then again, dia juga ngerasa ini ada masalah dalam rasa, jadi minimal gue punya alesan buat langsung taro sendok/garpu, setor piring ke wastafel terdekat, dan anggep ini dinner time gak pernah terjadi. Nyokap aja gak suka, masa' gue harus suka juga?!

Untung nyokap takeaway sate ayam kecil buat mengerem selera makan gue dari jatuh bebas ke jatuh bebas dengan parasut setengah kebuka. Enak sih enak, apalagi dengan kecap manis, tapi mereka ya mini-mini gitu, jadinya rasanya gak sebanding dengan rasanya si sate buntel. Belum lagi si sate buntel ini secara tidak terlihat berkomplotan dengan si nasi setengah mateng buat bikin makan malem gue terasa kayak SHIET.

Jadi, selama lima menit kedepannya, gue berjuang, melawan akal sehat gue, untuk menghabiskan makan malem itu. Akal sehat, karena udah makanan gak enak, sinyalir mengandung unsur yang mencurigakan (apalagi nasi setengah matengnya), dan yang terakhir nyokap gue udah bilang, "udah Jay, kalo gak enak gak usah dihabisin." Heh, ceritanya ini adalah orang yang nyuruh gue ngabisin makanan gue. Sekarang, dia nyuruh gue ngelakuin sebaliknya. Ironis, eh? Sekali lagi, akal sehat, karena gue udah gak punya alesan buat ngabisin makanannya.

Jadi apa yang membuat gue melawan akal sehat pada malem itu? Ya selain ngeliat adek gue juga merasakan hal yang sama dan berniat ngabisin (masa' koko kalah sama adeknya?), gue masih terikat prinsip yang ditanemin sama nyokap bokap dari dulu: Jangan Pernah Nyisain Makanan.

Lima menit kemudian, gue udah setor piring ke belakang. Sakit nyeritain prosesnya, tapi versi singkatnya: gue bisa aja jalan ke ladang ranjau, dan mungkin rasanya gak ada bedanya.

Setelah semua piring menghilang dari meja makan gue dan adek gue udah balik ke laptopnya melanjutkan pekerjaannya sebagai pemain TF2 top Indonesia, sisa gue sama nyokap.

Dan out of nowhere, terjadi percakapan ini:

"Jay, kamu kenyang gak?"
"Ehh, gak terlalu sih ma, mengingat tadi.."
"Mau cereal gak (kebiasaan adek dan gue)?"
"Kalo ada saya mau sih."
"Ada kok."
"Susunya?"
*le mencari susu* "Yah susunya udah digondol sama adek."
"Ya udah, gak usah, gak papa."
"Eh jangan Jay, kalo mau cereal, ayo kita ke Indomaret cari susu, sekalian nurunin makanan juga."

Dan itu, teman-teman, adalah permulaan dari part 2.

Until the next post, bungs! :D











   

Thursday, July 9, 2015

GAY MARRIAGE: Derita Kaum Minoritas

Hi everybody. 

I have an announcement to make. 

I am fully aware that the U.S. government had  legalized the law of same sex marriage, in other words, gay marriage is now fully legal. 

A remarkable number of people have been 'coming out' as a way of telling to the world that they, in fact, are gay. 

In the same spirit of these individuals, in the same spirit of them, I have decided, after a time of consideration, to announce that 

I am gay not gay. 

Anyways, mengingat sekarang orang-orang yang keliatannya jauh dari kata gay mengumumkan kepada dunia bahwa mereka, faktanya, adalah gay, gue langsung tersengat buat nulis blog ini. Jauh dari kata gay berarti dalam hidup mereka MEREKA SUDAH PERNAH PACARAN SAMA LAWAN JENIS. Dan setelah pemerintahan AS meluruskan semua kebengkokan ini dengan melegalisir GAY MARRIAGE, mendadak orang-orang ini melancarkan the biggest announcement of their respective lives. Mereka mengumumkan bahwa mereka, as a matter of fact, are gay people. 

Not that I disapprove anyways. Takes a whole damn lot of guts to tell the world that you are one of those people whom society despised. Dan mereka melakukan ini gak kayak gak punya beban. Mereka udah membawa beban berat ini seumuran hidup mereka, menyembunyikan diri mereka yang sesungguhnya, hidup dengan identitas mereka yang tidak asli. Thing is, saat dimana mereka mengeluarkan diri asli mereka adalah saat mereka bisa kehilangan semuanya. Keluarga, teman, pekerjaan, status sosial, dst. Mereka bakal dikucilkan, klo mereka (dalam bahasa sederhana) be themselves. Shit man, it's hard for these guys and gals. 

What do I know, is that these kind of people got a lot of bad rep for their alignment. Ehh, pertama-tama, sepanjang sejarah, orang-orang berorientasi homoseksual tidak mendapatkan reputasi yang bagus. Kedua, tidak ada peraturan di dunia (at least, sampai Juni 2015) yang secara blak-blakkan melegalisir same sex marriage. Kitab suci berbagai agama besar di dunia (dalam kasus gue, Alkitab buat agama Katolik) meng-condemn same sex marriage. God created Adam and Eve, not Adam and Steve. Seakan-akan, dari sono-nya aja, orang homo gak punya tempat di masyarakat. Ketiga, kebanyakkan orang-orang straight (yang jelas gak homo, lesbi, apalagi bisex) benci orang homo. Homophobic, to be exact. Udah didasari alasan-alasan di atas, ditambah lagi perspektif dan mindset bahwa orang-orang gay abnormal (like I said, Adam and Eve not Adan and Steve), tidak wajar apalagi waras, dan kehadiran mereka membuat orang-orang di sekitarnya jadi ilfil. 

"We are coming to the end of the world. God rained fire on Sodom and Gomora for their debauchery, adultery, and homosexuality. Now, we are coming to those times again, and this time around, the whole world will fall victim."

Well, just one message for this kind of situation, as I would like to point out.

STOP GIVING THEM TOO MUCH SHIT. 

Entah 'shit' dalam arti empati dan simpati, atau 'shit' dalam arti antipati, it doesn't matter! AS baru aja melegalisir hal itu, dalam arti lain, bakal ada banyak gay-gay terselubung yang tiba-tiba akan keluar dari balik tabir mereka. Kalo udah kayak gini, lonjakan terhadap jumlah penganut orientasi homoseksual bakal tinggi banget, dan itu udah pasti kejadian! We all know this would've happened sometime! It's just a matter of time!

So, apakah gay people are bad for society? Apakah Tuhan tidak memperbolehkan same sex marriage di Alkitab? YES! Tapi apakah Tuhan menghakimi orang berdasarkan orientasi seksualnya di dunia, bukan berdasarkan perbuatan, amal, dan tindakan kasihnya di dunia? NO! Gak selamanya orang gay itu adalah bagian terbiadab dari masyarakat! Orang itu gay, berarti dia setiap hari ngana-ngono sama pasangan gay-nya, berlaku abnormal, berbuat hal-hal yang gak senonoh, gitu? Dan berarti orang straight gak bisa berzina, selingkuh, dan semacemnya, gitu? 

Thing is, being gay doesn't make you a bad person, just as being straight doesn't make you a good person. Thing is, equality. 

But that means we've got to over-sympathize over a gay person in our society? Absolutely not! First thing is, gara-gara banyaknya orang-orang yang out of the blue ngaku kalo mereka gay, lebih banyak lagi orang yang bersimpati sama mereka. Dalam arti lain, jangan terlalu banyak bersimpati sama orang-orang gay. Lu memperlakukan dengan terlalu spesial dan eksklusif bisa membuat mereka jadi, yah, anggeplah, ketinggian. Terlalu banyak peduli sama mereka, mereka bisa (secara gak langsung) menarik lu ke dalam orientasi mereka. Kecuali lu MAU hal itu buat terjadi, jangan terlalu miring ke mereka. Keep in mind, they are gay because they are gay. Not because they are forced to be gay. Jangan sampe mereka menjadi kanker dalam masyarakat kita. Inget juga bahwa kanker adalah sel dalam tubuh yang tumbuh tidak terkendali. Jangan sampe kita membiarkan mereka tumbuh secara tidak terkendali, dan akhirnya menghilangkan diri kita yang sesungguhnya. Do not let them control us, due to fact that they refuse to be controlled by us. 

In other case, jangan mengucilkan dan merendahkan mereka lebih rendah dari binatang. First, itu membuat lu jadi tidak lebih dari binatang juga, dan second, mereka masih manusia, which brought me to the third, mereka masih punya HAM. Karena mereka, you know, masih manusia. 

Come to think about it, kalo gay people benar-benar dikutuk oleh Tuhan, kenapa mereka belum hilang dari dunia ini? 

Nope, it's not about God not being able to banish them, but the fact that GOD EVOLVES. Ya, emang gak ada agama yang memperbolehkan same sex marriage, tapi balik lagi ke fakta bahwa AGAMA ADALAH BUATAN MANUSIA. People have changed, the world has changed, and the society has changed. And so, God has changed. He still loves humans, but now he's more flexible and unlimited. God still loves you, because you are still human, and you are precious to Him. 

Dan buat orang yang menyumpahi orang gay ke neraka. Nope, gue gak bakal nyumpahin lu ke neraka juga, karena dengan berbuat demikian, gue gak lebih baik dari lu, atau mereka, yang lu anggep layak masuk neraka dan gak pantes masuk ke surga. 

Tuhan yang menghakimi, bukan lu. 

Dan buat orang gay yang baca ini, meskipun kecil banget kemungkinannya, note this. Apapun agama lu , lu masih manusia. Jadi jangan biarkan orientasi lu menghalang-halangi kemanusiaan lu. Be yourself, still, but change for the better, knowing you are the least of society. Shut those homophobics up by good deeds. 

Ini Ingrid Nilsen. Dan ini muka dia beberapa detik setelah
mengatakan, "I am...gay!" (kalo gak salah)
Gue baru aja nonton video Ingrid Nilsen mengakui dirinya adalah seorang gay, dan ngeliat komen-komen simpatik di bawahnya. Hahh, kesian banget dia, keliatannya susah banget buat ngeluarin fakta bahwa dia adalah gay. Macam dia ngomong "I am...gay!" dan reaksi gue, "YAY! Wait, what?" 

Woles aja kawan-kawan, kalo ada orang gay di sekitar kita. Jangan perlakukan dia terlalu spesial, tapi jangan terlalu tidak berkeprimanusiaan. Jangan bikin orientasi dia merubah drastis cara kita memperlakukan dia. 

After all, they are still human. 

Until the next post, bungs! :D






Sunday, July 5, 2015

THIS IS NOT A REVIEW: Minions (Bello!!)


Starring: -Pierre Coffin (Despicable Me) as (kurang lebih semua) Minions

             - Sandra Bulog Bullock (Gravity, The Proposal) as Scarlet Overkill
             - Jon Hamm (Mad Men) as Herb Overkill
             - Michael Keaton (Batman, Birdman, Toy Story 3) as Walter Nelson
             - Geoffrey Rush (Pirates of the Caribbean series, The King's Speech) as Narrator
Budget: $85 juta
Box Office (per 23 Juni 2015): $ 124,2 juta
Lama: 1 jam 31 menit
Genre: 3D computer-animated comedy
Rotten Tomatoes (per 6 Juli 2015): 75%
US Release: 10 Juli 2015 (cie belum keluar filmnya..)

Apa itu Despicable Me? Bagi gue 6 tahun yang lalu, film ini cuman film animasi anak-anak yang sesuai target penontonnya, kekanak-kanakkan. Dalam arti lain, gue mungkin gak nikmatin (padahal,6 tahun lalu, gue ya masih anak-anak), takutnya mengesankan cuman buat anak kecil doang. 
Ternyata enggak. 
Sure, sure, Despicable Me punya plot yang unik (melibatkan penjahat yang menjadi pahlawan), pesan yang heartwarming, dan character development yang bagus (terutama buat si Gru, protagonis film). Tapi toh, orang gak inget Despicable Me dari si botak yang mirip penguin Gru. Orang inget seri Despicable Me dari anak buah Gru yang gak karuan, kadang gak becus, tapi gak pernah berhenti bikin kagum.
Minions. Jujur, nama yang generik, tapi karakterisasi kentang-kentang kuning ini mengubah presepsi, mindset, dan pola pikir orang terhadap kata 'Minions' selamanya.  
Makhluk-makhluk kentang ini adalah angin yang sejuk buat franchise Despicable Me. Penampilan mereka yang oenjoe unyu udah cukup buat bikin gue sebagai pemirsa terlecut buat nonton ini. Tapi charm mereka yang sesungguhnya adalah tingkah laku, pola bahasa, dan ulah mereka setiap kali layar lebar memejengkan mereka.
As a matter of fact, anak buah Gru ini adalah daya tarik utama dari franchise Despicable Me. Anggepannya, bukan Despicable Me namanya kalo gak melibatkan Minions. Jadinya, film spin-off ini adalah sebuah kepastian, dan kita akan berhadapan dengan film ini. Logikanya, spin-off berdasarkan tokoh terunyu yang bikin Despicable Me bagus bakal lebih bagus dari Despicable Me-nya, kan? Mereka kan faktor penjual franchise ini. Eh, ya nggak sih?
Will this flick prevail or epicly fail? We shall see...

Overload of Minions?
Sebagai penggemar Minions (bukan Despicable Me secara keseluruhan, sayangnya), gue murni seneng waktu denger tentang keberadaan film ini. Satu film isinya cuman tentang makhluk-makhluk pil koplo koplak ini? Gimana mau gak seneng?
Sampe akhirnya mendaratlah para Minions di Indonesia (dan lucunya, Minions nyasar ke Indonesia duluan sebelum mereka ini nyasar ke Amerika). Tetep aja gue seneng sih, tapi bersamaan mendarat juga satu hal yang gue takutin: apakah terlalu banyak Minions baik?  Atau bisa berdampak buruk dan malahan memberikan kesan bahwa film seakan-akan mengeksploitasi secara habis-habisan unsur Minions ini, sehingga malah terkesan membosankan?
Pendapat orang berbeda-beda tentang hal ini, tapi gue punya pendapat sendiri di sini.
Mengingat ini film tentang makhluk-makhluk mbanyol ini, wajar-wajar aja kalo semua adegan melibatkan mereka, dan itu gak bakal dibilang eksploitasi Minions.
Ya ini film tentang mereka, ya nggak sih?
Perihal 'eksploitasi pol-polan unsur Minions' itu bukan masalah berapa kali Minions berulah di film. Tapi berapa lucu, tolol, konyol, dan menggelitik Minions berulah di film. Quality over Quantity.
Trus, gimana mereka di film ini?
Ini Pierre Coffin. Rada kaya' orang sini, ya?
Rupanya Pierre Coffin (Pak Sut film ini, percaya gak percaya) tahu unsur-unsur menarik Minions di film sebelumnya. Minions, menurut inkarnasi installment Despicable Me sebelumnya, suka berlaku konyol atas hal-hal yang jauh lebih konyol dari diri mereka sendiri (berebut pisang, berantem atas keyboard komputer, rame-rame ngincer es krim). Di samping itu, mereka punya hobi yang seberapa berat kita berusaha buat ngindarinnya, kita tetep gak tahan buat mantengin: NYANYI! Yep, gak satu (Despicable Me), gak berempat (trailer Despicable Me 2), gak berjamaah (Despicable Me 2), pasti ada aja adegan mereka nyanyi. Yang bikin nyanyian mereka bagus, akhir-akhirnya, bukan lagunya, tapi cara mereka nyanyi itu!
Gue perhatiin, banyak adegan Minions nyanyi di film ini. Gue sebagai penonton dua installment sebelumnya cukup terhibur (gak guling-guling) waktu liat mereka tarik suara. Secara keseluruhan, Minions nyanyi emang salah satu hal yang ditunggu di film ini, dan bagusnya, kita gak perlu terlalu banyak nungguin adegan mereka nyanyi di film ini, karena mereka nyanyi tergolong sering di film ini. Nice!
Perihal humor slapstick ala Minions yang gokil? Masih ada gak?
Menurut pengamatan gue, volum ketololan Minions padet di awal film. Tepatnya, montage tingkah laku mereka dengan majikan-majikan yang pernah mempekerjakan mereka (dan semuanya berakhir tragis). Seiring berjalannya film, Minions utama dalam film berkurang menjadi tiga, yaitu Kevin, Stuart, dan Bob. Nah, di daerah ini, tingkah laku pemancing ngakak mereka berkurang, dan (kurang lebih) digantikan dengan karakterisasi tiga Minion utama tadi, lewat nada, intonasi bicara (dengan bahasa hybrid Minionese mereka sendiri), dan ekspresi tiga orang ini. Sekali-kali sih diselingin dengan nasib kawanan besar Minions di saat trio Kevin, Stuart, dan Bob pergi. Percaya sama gue dalam hal ini, selingan ini adalah hal yang dihargain banget. Emang sih, trio Minion utama ada kelucu-lucuannya sendiri, tapi akhirnya, gue sadar satu hal: Minions are best served in busloads.

No Kill is Like Overkill!
Patut diperhatikan 2 (dua) tokoh utama Minions, tentunya selain para minions itu sendiri.
First is Scarlet Overkill.
Doesn't it feel so good to be bad? 
Sandra Bullock pernah jadi astronot yang terjebak di luar angkasa. Sandar Sandra Bullock pernah jadi bos yang 'nembak' anak buahnya sendiri. Tapi Sandra Bulog Bullock belum pernah jadi PENJAHAT WANITA PERTAMA DI DUNIA.
Scarlet terlihat cliche di atas kertas. Dia (menurut standar minions) menawan, dia bernada halus dan menggoda, dan dia tidak terlihat sangat mematikan. Cliche-nya femme fatale, ya nggak sih?
Fact is, Scarlet mungkin emang cantik (sekali lagi, menurut standar minions), tapi dia bukan tipe penggoda. Oke, suara dia emang rada menggoda, tapi dia bukan tipe perayu para pria. Dia bengis, sadis, dan modis. Sandra Bullock memberikan first impression yang nice tentang wanita ini.
Bukan berarti gak ada flaw-nya. Scarlet kadang-kadang kedengeran over-the-top dengan nadanya, sehingga, yah, gak enak didenger. Character backstory-nya juga rada gak jelas (ngerti sendiri lah, syarat utama jadi penjahat adalah backstory yang lebih jahat dari penjahatnya), sehingga gue susah nge-relate diri gue sendiri sama dia. Rasanya.. kita jadi gak terlalu peduli sama Scarlet ini. Sheesh.
Second is Herb Overkill.
Now, gue dengan senang hati menyatakan bahwa Herb sebenernya punya karakter yang nggak one-dimensional. Dia laid-back, obviously a genius, dan funky. Kontras yang bagus dari Scarlet, istrinya. Problem is, kalo udah ada istrinya, semua sifat ini seakan-akan kelelep di bawah bayang-bayang Scarlet.
Herb seakan-akan selalu setuju dengan Scarlet, bahkan meskipun itu berlawanan dengan sifat dirinya yang sesungguhnya. Karakter dia gak keliatan. Chemistry diantara mereka berdua juga ada di sini, cuman terkesan garing. Not amusing, at least to me.
Which brought me to my observation notes.
Herb punya sifat yang baik. Dia bisa menjadi kontras (dari warna baju aja udah kontras) bagi Scarlet. Keliatan dari semua interaksi dia dengan para minions, jelas dia gak memiliki unsur kebengisan, atau kalaupun ada, jauh di bawah Scarlet. Pun dia memperlakukan minions dengan lebih santai dari Scarlet.
Sayangnya, di samping penokohannya yang selalu berada di bayang-bayang Scarlet, ada satu lagi. Dialog Herb tidak semenarik penampilan, gaya, dan sikapnya. Gue gak tau bagaimana, tapi kata-kata Herb gak se-compelling istrinya, atau bahkan para minions itu sendiri. Padahal dia punya attitude yang enak di atas kertas. Malahan, dialognya mengingatkan gue sama Vector, antagonis Despicable Me. At least, dia gak ada seperempatnya ke-rese'-an Vector terhadap Gru. Astaga, @^#%^%#@^&@#% mati aja tu anak %@$$@#^&#@ !!!

Rated PG-13 for.. 
Minions gak punya alasan buat terus jadi serial animasi yang selalu kekanak-kanakkan. Dulu, ada tiga tokoh utama yang menyebabkan pil-pil kuning ini sangat kid-friendly. Margo, Edith, dan Agnes. Sekarang, tiga anak itu udah ilang, dan palin deket ke mereka bertiga adalah trio Kevin, Bob, dan Stuart. Scratch that, sebenernya cuman satu, yaitu Bob, yang paling muda dari mereka bertiga. Bob kurang lebih adalah satu-satunya tokoh anak utama di film ini.
Ini Bob. 
Which brought me to this theory. Film Minions lebih dewasa daripada Despicable Me sebelumnya. Alasannya, mungkin selain theory di atas, adalah sineas Pierre Coffin dan Kyle Balda ingin membuat franchise Despicable Me lebih accessible untuk semua usia. Bukan cuma anak-anak, tapi untuk penonton yang lebih dewasa. Sure, Kalo tontonan kartun dewasa, gak ada yang menyaingi The Simpsons atau Family Guy, tapi para minions mampu menunjukkan sisi mereka yang nggak terlalu kekanak-kanakkan, meskipun nggak kurang ajar kayak dua kartun yang gue sebutin di atas.
Hal yang bagus, karena diantara banyaknya tingkah bocah para minion di film ini, ada juga maturing humor yang bisa bikin penonton yang lebih tua ngakak, tanpa harus nutupin mata anaknya yang duduk disampingnya di bioskop.
It's a good thing, actually.

(+) - Maturing jokes yang 'kena'.
     - Mampu menarik penonton yang lebih dewasa.
     - Humor para minion yang selalu fresh.
(-) - Karakter lain tidak mampu meng-compliment kelucuan minions.
     - 3 minion utama terkesan terlalu 'sepi'.


NILAI: 88/100

KESIMPULAN: Bukti bahwa transisi sebuah serial anak-anak menuju serial yang bisa dinikmati orang dewasa bisa sukses. Sure, there are flaws here and there, macam tokoh samping yang gak seasik minion-nya, tapi overall, it's a fun-for-all-ages prequel to the Despicable Me franchise.

Until the next post, Bungs! :D

SEE YA LATER SPACE COWBOY: Sebuah Update (lagi).

Hey, you. You're finally awake! You're trying to find a new post on this blog, right? Then found nothing, just like the rest of us ...