Friday, August 28, 2015

THIS IS NOT A REVIEW: Mission Impossible: Rogue Nation


Starring: -Tom Cruise (MI-MI sebelumnya, Edge of Tomorrow, Oblivion, Top Gun) as Ethan Hunt
               - Rebecca Ferguson (Hercules) as Ilsa Faust
           - Simon Pegg (Shaun of the Dead, Hot Fuzz, The World's End) as Benji Gunn
               - Ving Rhames (Pulp Fiction, Dawn of the Dead) as Luther Stickell
               - Jeremy Renner (The Bourne Legacy, The Avengers, Hurt Locker) as William Brandt
               - Alec Baldwin (The Departed, Madagascar 2) as Alan Hunley

Budget: $ 150 juta
Box Office (per 14 Agustus 2015): $ 303,1 juta
Lama: 2 jam 11 menit
Genre: Action Spy
Rotten Tomatoes: 92% 
US Release: 31 Juli 2015


Pertama: Brian de Palma. Kedua: John Woo. Ketiga: J.J. Abrams. Keempat: Brad Bird. Dan sekarang adalah yang KELIMA, diarahkan oleh sineas Chris McQuarrie. Mantepnya, setiap film (mengingat sineas yang berbeda-beda), memiliki arah yang berbeda pula. Yang paling gue inget adalah MI2, dengan pengarahan John Woo (bagi yang belum tau, dia ini adalah suhu-nya film tembak-tembakan Hong Kong) membawakan film dengan action yang bertumpuk-tumpuk, sinematografi yang nikmat, tapi cerita yang lembek. 
Sekarang udah nyampe yang kelima. Angka lima, menurut pengalaman gue, merupakan titik puncak bagi beberapa franchise hiburan. CuRanMor GTA dan The Elder Scrolls, dua-duanya mencapai puncak franchise game mereka masing-masing dengan GTA V dan The Elder Scrolls V: Skyrim.
nggeplah duo
Untuk beberapa franchise lainnya, seri ke-5 merupakan titik balik. Liat aja Resident Evil 5, Fast Five, dan Mortal Kombat 5 : Deadly Alliance (secara kronologis, dia adalah game kelima dari serial Mortal Kombat). Resident Evil 5 adalah perubahan orientasi gameplay Resident Evil. Gara-gara si 5 ini, Resident Evil mulai bergeser dari Survival-Horror ke Action-Survival-Horror. Gak seserem dulu lah, intinya. 
Fast Five? Sebelumnya, Si FF ini lebih ke arah Street Racing. Abisnya si Fast Five (dan abisnya kehadiran si Dwayne 'The Batu' Johnson), FF mulai ke arah vehicular action yang gak cuman keliatan di adegan-adegan balapan liar doang. Mana ada balapan liar sambil nyeret brangkas besi? 
Trus gimana dengan Mortal Kombat: Deadly Alliance? Sebelum si Deadly Alliance ini, Midway Studios pembuat Mortal Kombat (secara tolol dan secara tidak disengaja) sedang membumihanguskan franchise Mortal Kombat. Ada MK: Special Forces (singkat cerita, action-adventure gagal), film MK: Annihilation (lebih singkat lagi, sekuel film gagal), dan MK Mythologies: Sub-Zero (sama kayak MK: Special Forces). Setelah vakum beberapa tahun, akhirnya keluarlah MK: Deadly Alliance, dan franchise MK pun balik ke jalan yang (agak) bener, sebelum akhirnya balik ke bener-bener bener di MK 9 (2011). 
Trus gimana dengan MI yang udah mencapai seri ke-5 ini? Apakah serial ini udah karatan, sehingga serial kelimanya udah gak asik lagi? Atau apakah seri ke-5 ini menjadi puncak tertinggi dari MI, setelah bukit dan lembah yang mereka telah lalui?

Jack Reacher: Rogue Nation?
Jack Reacher, film garapan Chris McQuarrie lainnya.
Ehh, bagi yang gak kenal Chris McQuarrie, dia ini sineas dibalik film Jack Reacher, yang dibintangi Ethan Hunt Thom Cruz  Tom Cruise. Film yang lumayan mantep kalo lu tanya gue, karena cerita yang ditempuh tokoh utama Jack Reacher halus dan enak diikutin, dengan menyajikan crime-thriller yang brilian diselingi dengan adegan action yang memadai. In short, Jack Reacher lebih ke arah pinter daripada seru. Dan siapa pemain terbaik dari film itu? Ya si Tom Cruise itu.
Kita semua tahu bahwa serial MI adalah serial action. Hell, bahkan kata 'action' tertera di genre film ini. Semua film sebelum MI: RN memiliki unsur action yang sangat kental. Tapi, rasanya, RN menyajikan suasana yang berbeda.
Perbedaan ini berinti pada Chris McQuarrie.
Jack Reacher adalah film thriller yang disutradarai Chris McQuarrie. Mengingat bagusnya tema dan aura thriller yang dibawakan dalam film tersebut (menurut gue), maka gue bisa bilang kalo si Chris ini ahli dalam bidang thriller.
Dan rupanya, dia membawakan kesan dan aura thriller dari Jack Reacher ke film terbaru dari serial MI ini. Kita semua ngerasain suspense tingkat dewa pas Tom Cruise manjatin Burj Khalifa di MI: Ghost Protocol, atau pas Tom Cruise sempet-sempetnya mati (dan disetrum sampe hidup) di MI 3. Suspense. Ketegangan. Itulah yang sebenernya bikin action dari MI tidak membosankan apalagi basi. Karena entah kenapa, semua sineas yang mengarahkan film-film MI membawakan suspense yang sangat clever, sehingga penonton (termasuk gue) gak bosen.
Seperti biasa, Tom Cruise sukses
membawakan peranan Ethan Hunt.
So, what do we got on the newest entry?
Let's just say it's much more smarter and a lot less louder.
Sure, sure, kita dapet beberapa adegan menegangkan (bahkan di mulainya film aja udah dapet adegan tegang) di film ini. Ada Tom Cruise yang beneran (inget, beneran) gelantungan di pesawat yang lepas landas, ada Tom Cruise nyebur ke dalam pipa air raksasa berisikan air bertekanan tinggi, ada adegan kejer-kejeran pake motor modifan.
Lucunya, sebenernya banyak adegan action dalam film ini. Tapi mengingat Chris McQuarrie, adegan action yang kita dapetin bukan tipe-tipe action gak masuk akal dan yang biasanya bikin kita melongo sambil mikir, "GILEEEE!!" Palingan unsur over the top dalam film ini cuman satu biji. Selebihnya, adalah action sequences yang sangat relatable dan simple, meskipun jauh dari kata membosankan. Semuanya jalan gara-gara acting yang ultra-meyakinkan dari Tom Cruise. Mikir sendiri sih, dia hadir di kebanyakan adegan action di film ini.
What I'm trying to say, is that action melingkupi setengah dari film ini, gak kayak film sebelumnya yang biasa mencapai 3/4. Dan bagaimana dengan setengah lainnya? Anggep aja conspiracy-thriller yang muncul secara sepercik-percik di MI sebelumnya, tapi belum pernah segembol kayak sekarang.
Alkisah, IMF (bukan International Monetary Fund, sayangnya) menugaskan Ethan Hunt untuk memburu sebuah organisasi kejahatan multinasional bernama The Syndicate (terlihat secara implisit di ending MI:GP). The Syndicate ini (ceritanya) hampir tidak tersentuh, dan dilihatnya, bertujuan untuk menumbangkan dan merusak hubungan diplomatis Amerika dengan negara-negara sekutunya. Sayangnya (lagi), CIA selaku atasan IMF tidak percaya akan keberadaan The Syndicate, dan malahan menuduh Ethan melakukan kegiatan-kegiatan anarkis dengan alasan mencari The Syndicate. Ethan yang tahu soal beginian akhirnya melakukan penyelidikan di luar jangkauan IMF dan secara gak langsung-- CIA.
No SFX. No Double. No Fake.
Gue bilang sih, conspiracy-thriller yang menghiasi cerita MI:RN is not a bad idea. Ini plot dilengkapi dengan dialog yang kuat, acting yang lebih kuat lagi, dan twist-twist yang bikin, "JREEEENG!!"
But it's not like it's good either.
See, pendapat gue, thriller yang disajikan di film ini is a good one. It truly is. Tapi ada saatnya plot yang dipakai di film ini menjadi rumit, sehingga secara gak sengaja mensabot unsur spy-thriller yang dibawakan oleh film ini. Kadang-kadang plot jadi terlalu belibet sehingga ngikutnya bingung dan akhirnya bosen juga.
MI:GP sayangnya, membawakan plot lebih baik, dimana plot tidak memberikan kerumitan yang gak perlu, tapi masih brilian karena plot mengandalkan suspense dibandingkan conspiracy yang convulted/ribet. Twist-twist yang terdapat di GP saya bilang simpel-simpel, tapi you just can't go wrong with the classics. 

Go Rogue Vogue with Ilsa Faust
So, selain Tom Cruise sebagai Ethan Hunt (selama 5 film dan 10 tahun lebih, gak bosen-bosen juga, ya?), kita punya kumpulan (gak se-truk) karakter-karakter, baik, ehm, baik maupun jahat untuk menemani Ethan Hunt dalam petualangannya yang terbaru ini.
Kita punya tokoh-tokoh lama, seperti Benji Gunn (Simon Pegg), hacker merangkap temen deket Hunt, Luther Stickell (Ving Nasi Rhames), teknisi lapangan merangkap partner-in-crime Hunt di semua film MI, dan William Brandt (Jeremy Renner), yang menemani Hunt sejak MI:GP.
Yang baru, jelas lebih dari satu.
Yang mencolok, sayangnya, cuman satu.
Yah, jadi selain tokoh-tokoh diatas dan satu tokoh yang bakal gue bahas bentar lagi, tokoh-tokoh lain emang diperankan dengan baik. Sayangnya, seperti yang gue bilang, gak ada yang mencolok. Para antagonis menyentuh daerah cliche, dan tokoh-tokoh lainnya cuman berguna sebagai sekedar pelengkap atau pendamping para tokoh utama di layar.
Semua, kecuali satu.
Ilsa Faust, yang diperankan oleh Rebecca Ferguson. 
We're only fighting for the right side because that's what
we chose to believe. -Ilsa Faust
See, serial MI terkenal menampilkan (selain Ethan Hunt, tentunya) lead female yang unik untuk setiap entry-nya, biasanya buat ngedampingin si Tom Cruise di layar lebar. Anggep misalnya Nyah Hall (Thandie Newton) di MI 2, cewek yang sebenernya bagian dari misi Hunt, tapi akhirnya, ehm, terlibat hubungan intim dengannya. Atau Jane Carter (Paula Patton) rekan kerja Hunt di MI:GP yang tangguh dan jagoannya saingan sama si Hunt sendiri.
Sekarang, kita disuguhkan Ilsa Faust, undercover MI6 agent yang menyusup ke dalam The Syndicate. Selama film, Ilsa kerap kali melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan pihak Ethan Hunt dan pihak The Syndicate. Sekali waktu dia berpihak sama Hunt, lalu selanjutnya dia berlawanan dengan Hunt. Mungkin biar gak ketahuan kalo dia sebenernya bukan di pihak The Syndicate. Anyways, cara Rebecca Ferguson (bukan dari Inggris apalagi Amerika, yee) membawakan dua keberpihakan dalam satu orang yang sama patut diacungi jempol. Kesannya, dia dingin di sisi The Syndicate dan desperate di sisi MI6, tidak memiliki pilihan banyak selain menjatuhkan The Syndicate, karena betapa bahayanya misi undercover ini.
Seperti halnya heroine-heroine di spy movie kebanyakkan, Ilsa sangat proficient dalam berbagai bidang kemata-mataan. Tembak-tembakkan, pukul-pukulan, bunuh-bunuhan, standard spy skills. Namun, hal yang menarik adalah Ilsa kelihatan gak sempurna sebagai seorang spy, meskipun keliatan banget jagonya. Sure, sure cewek-cewek spy lain juga kena jotos sekali-dua kali, tapi seperti yang gue utarain di atas, Ilsa juga memiliki kelemahan secara emosional.
Kalo mau cantik, nih Black Widow.
See, Ilsa, gak kayak Black Widow, sebenernya takut terhadap misi berbahaya yaitu menyusup ke dalam The Syndicate. Dia mungkin gak menunjukkan tanda-tanda ketakutan, tapi selama film kita melihat bahwa, sejago-jagonya dia sebagai seorang agent, dia juga manusia. Dia pingin cepet-cepet misi penyusupan The Syndicate selesai. Sifat desperate di yang gue utarain di atas adalah karena dia masih sayang nyawa (gak kayak Ethan, jelas) dan dia tahu satu kesalahan sepentil bisa mebuat dia ketahuan oleh organisasi The Syndicate. Karakterisasi ini membuat Ilsa jauh lebih realistis dan lebih manusiawi dibandingkan karakter cewek spy movie kebanyakkan. Relatable lah, istilahnya.
Dari sisi tampang, memang Ilsa gak semantep cewek-cewek setingkatnya (Scarlet Johansson as Black Widow, wew), tapi pendapat gue, memang itu maksud dari film ini. Ilsa diperankan bukan dalam konteks yang terlalu seksi, tapi gak juga terlalu jelek. Dia adalah heroine yang realistis. Mungkin kita dapet sekali-dua kali scene mantep dia, tapi selebihnya, dia gak terlalu mencolok. Realistic, right?

[THIS SECTION BELOW CONTAINS SPOILERS. YOU HAVE BEEN WARNED.]

Is It ACTUALLY Impossible?
Mengapa judulnya Mission Impossible?
Lebih tepatnya, Mission: Impossible?
Selama empat film lebih, Ethan Hunt dihadapkan kepada misi yang kurang asem, mungkin cuman dia kali yang nekat ngelakuin.
Dan selama proses berjalannya misi-misi ini, kita para penonton cuman bisa melongo ngeliatin bagaimana Hunt, yang masih masuk kodrat manusia, menghadapi misi-misi yang gak bisa dijalanin sama manusia.  Dari mengejar mantan agen IMF yang membelot (yang mana bawahannya menyusup sebagai bawahan Hunt sendiri) sampai mengejar senjata nuklir liar tanpa bantuan macam apapun dari IMF. Keliatannya gampang, kan?
Keliatan gampang? Simpel? Coba sendiri dah..
Dengan entry kelima yang gue bilang lebih smart dibandingkan loud, gue bilang kata 'impossible' agak susah diterapkan, karena selama ini dalam empat film berturut-turut, kata 'impossible' kita bisa lihat melalui berbagai scene-scene action tingkat tulen. Kita bisa melihat bagaimana betapa ngayalnya hal-hal yang harus dilakukan Ethan Hunt dkk agar misi tersebut berhasil (manjat pencakar langit tertinggi di dunia, anyone?), and yet, mereka berhasil ngelarin semua misi mereka.
Tebak apa yang bikin misi mereka kelihatan impossible?
Ya para antagonis ini.
Mau kita benci, atau diem-diem ngefans, para penjahat inilah yang sebenernya membentuk franchise MI. Ya pinternya para penjahat ini akhirnya berakar pada pinternya para pihak screenwriter, cinematographer, dan tentunya director dan masing-masing film sih, tapi yang kita lihat sejauh ini kan penjahatnya.
Such is the case of The Syndicate.
Let there be peace on earth.
-Kurt Hendricks
Selama jalannya film, semua tokoh utama, bahkan Ethan Hunt sendiri, memberikan indikasi dan pernyataan terselubung mengenai The Syndicate. Bahwa The Syndicate ini adalah organisasi kejahatan ter-imba di dunia. Kesannya, mereka ini gak tersentuh, yet mereka sudah banyak mengobrak-abrik keamanan nasional banyak negara. Gimana tuh, caranya?
Balik lagi ke sejarah franchise MI, franchise film ini punya kebiasaan memberikan antagonis yang unfair. Mau sehebat-hebatnya Ethan Hunt dkk, para antagonis ini pasti kelihatannya jauh lebih hebat, jauh lebih modal, dan terpenting, jauh lebih banyak anggotanya. Kesannya jadi impossible, kan?
Liat aja Jim Phelps (konon, adalah protagonis serial TV MI), antagonis MI pertama. Dia punya anak buah ternyata adalah anak buah Ethan Hunt sendiri, jadi otomatis, dia selalu tahu kemana Hunt akan melangkah, mengingat dia udah punya sarana memata-matai Hunt. Atau Sean Ambrose, antagonis MI 2, yang adalah mantan agen IMF yang udah hafal cara kerja Hunt. Paling mantep adalah antagonis MI:GP Kurt Hendricks, karena dia ini udah jelas modal banget, padahal si Hunt ini lagi apes, IMF lagi ditutup oleh pemerintah jadi dia gak bisa dapet bantuan dalam bentuk apapun.
Balik lagi ke The Syndicate, apakah mereka berhasil menyajikan mission yang impossible buat Ethan Hunt and the gang?
Ehh, yes...
And no.
BTW, yang meledak di belakang itu helikopter. Jadi
si Hunt ini loncat dari helikopter yang meledak ke kereta
superspeed yang masih jalan.
See, yes berasal dari build-up yang diberikan oleh film selama jalannya film. Selama film, selain reputasi yang dinyatakan secara tersirat oleh para tokoh utama, juga personil-personil organisasi ini rasanya lulusan Suzuran (sekolah 'terbaik' di jepang, kurikulum mereka kurikulum tawuran) semua. Garang-garang sih, soalnya. Belum lagi tantangan-tantangan yang disodorin The Syndicate ke Hunt. Hunt, sebagai agen IMF yang digadang-gadang paling tangguh dan kebal sama kematian, bisa kewalahan juga karena bertubi-tubi geliatnya si Syndicate ini. Ilsa Faust sebagai satu-satunya penyeimbang bagi kubu Hunt juga gak selalu bisa diandelin, karena mau gimana juga, Faust masih anggota The Syndicate. Jadinya, Faust sering membelot dan melawan Hunt.
Tapi no berasal dari bagian yang paling menentukan seberapa impossible The Syndicate ini sebenernya: The Climax. Atau The Final Standoff. Atau The Ultimate Showdown. Atau The Last Straw. Intinya, konfrontasi puncak antara Ethan Hunt dan The Syndicate. Now how the hell someone screwed that up?
Balik lagi ke sejarah MI (astaga, bosen juga), klimaks dengan para antagonis sangat sedap dan memuaskan. Di MI, baku hantam di atas kereta api superspeed sambil ditembakin helikopter. Di MI 2, kejer-kejeran motor, banyak ledakan, bum-bum-bum, trus adu bogem abis-abisan di pantai. Di MI:GP (maap, gue gak terlalu merhatiin MI 3), berusaha mematikan nuklir liar yang sedang meluncur ke USA, padahal tombol yang bisa matiin rusak.
Sampe ke franchise ke-5, rasanya pihak production house udah ngerti, ya caranya membuat klimaks film MI yang bener-bener klimaks. Atau mungkin Chris McQuarrie berusaha menyajikan sesuatu yang berbeda?
Karena, ending MI:RN, not that good.
Ini Solomon Lane. 
Selama final act dari MI:RN, The Syndicate mungkin masih terlihat (rada) garang, tapi gak ada konfrontasi yang bener-bener memuaskan antara ketua The Syndicate, Solomon Lane, dan Ethan Hunt. Padahal awal dari akhir film ini udah bagus. Benji pake acara diculik, Hunt terpaksa melakukan hal-hal ekstrim cuman biar Benji bisa balik dengan selamat. Setelah negosiasi mengembalikan Benji gagal, Ethan dengan cerdik menyelamatkan Benji, menolong Ilsa yang udah ketahuan dari genggaman The Syndicate, dan mengalahkan Lane.
Bagian mengalahkan Lane mungkin yang bermasalah di sini.
Sepanjang jalannya film, Lane digambarkan sebagai sosok yang dingin, penuh perhitungan, dan jago. Jadi wajarlah, kalo misalnya Lane berhadapan dengan Hunt enak dilihat?
Mau secliche-clichenya Lane, dia masih antagonis yang, yah, lulus KKM, meskipun gak melampaui.
Setelah negosiasi, Ilsa dan Hunt melumpuhkan beberapa anak buah Lane, sementara Benji melarikan diri. Ilsa dan Hunt pencar dan menjauh dari Lane. Ilsa tarung dan bunuh tangan kanan Lane (yang lucunya, lebih tegang dari Hunt vs Lane). Hunt dikejer Lane (yang lebih lucunya lagi, memutuskan untuk mengejar Hunt sendirian). Lane keliatannya udah mau ngedapetin Hunt, tapi ternyata si Hunt ini mengumpan Lane ke sebuah kotak kaca, dan membuatnya terperangkap di dalam. Setelah Lane terperangkap, Hunt mengisi kotak tersebut dengan gas yang membuat Hunt pingsan di awal film.
Singkat cerita, poetic justice. Hunt mengalahkan Lane dengan cara yang sama Lane menangkap Hunt di awal film.
Di satu sisi, gue nganggep ini adalah ending yang smart, karena mengandung unsur simbolik perihal bagaimana Hunt menjatuhkan Lane.
Di sisi lain, NGAPAIN??!!
Mungkin orang bakal ngebelain bagaimana kecerdikan Hunt dalam menggertak Lane, mengelabui Lane, dan secara implisit mengalahkan Lane dalam permainannya sendiri. Gue mungkin ngeliat dari sisi yang berbeda dari orang-orang waras ini, tapi then again, gue gak selalu waras.
Selama film, RN memiliki nuansa pintar, penuh intrik, penuh konspirasi, dan kalem. Dialog dalam film lebih banyak. Film banyak menggunakan twist-twist dalam cerita. Adegan-adegan Hunt yang gak melibatkan action melibatkan cara Hunt berpikir dalam menghadapi masalah. Dalam arti lain, lebih banyak otak daripada otot disini.
Mengingat kita (terutama gue) yang udah banyak dipusingkan dengan banyaknya plot elements yang bertumpuk-tumpuk, rumit, dan bejibun , rasanya membuat ending yang gak action-oriented gak bisa dibilang memuaskan. Udah capek kali, dibikin mikir terus. Ilsa malahan kedapetan bagian yang lebih baik dari ending film ini. Dia minimal dapet fight scene yang menegangkan.
At least make Ethan Hunt punch Solomon Lane!
Lane terlalu cepet kalah, itu masalah dari klimaks dari film ini.

[SPOILERS END HERE.]

(+) - Action scene di film ini masih bagus.
      - Ilsa Faust sebagai heroine film ini sangat realistis dan relatable tanpa harus membosankan.
      - Tokoh utama (Hunt, Gunn, Brandt, dan Stickell) masih mantep.
(-) - Tokoh selain tokoh utama membosankan.
     - Twist-twist dalam plot gak sebagus Ghost Protocol punya.
     - De Ending. Sheesh.

NILAI: 80/100

AKHIR kata, RN mungkin gak sebagus GP dalams segi cerita dan pembawaannya, tapi masih ada unsur RN yang gak boleh dilewatin, seperti action yang selalu baru dan selalu menegangkan. Perihal orientasi film yang lebih ke thriller dibandingkan action, gak berarti hal yang jelek, cuman salah pacing bikin film ini gak seenak GP.
  


Until the next post, bungs! :D











Sunday, August 9, 2015

WHAT THE HELL HAPPENED IN: 14.7.2015. part 1

Semua dimulai dari jam 9 malam. 

Yaudah, jam setengah 8 sebenernya, yaitu ketika bokap dengan attire-nya yang berbau "going somewhere", kayak kaos non-oblong, jeans, dan sepatu casual Airwalk-nya ngedatengin gue, dan nanya: 

"Yok, Jae, Jay, makan di luar." 

Normally, gue bakal bilang iya, karena gue bukan tipe orang yang bermasalah kalo diajak makan di luar. What could possibly go wrong, right? Gue percaya dengan bokap gue gak bakal ngejerumusin gue ke sarang formalin, boraks, dan kaum-kaumnya. So, by the least, no reason to deny, right?

Well, here's the thing.

Gue gak tau pastinya, tapi sebelumnya nyokap nge-WhatsApp (yep, Whatsapp, who cares about BBM now) adek gue buat masak nasi, karena dia bakal pulang bawa lauk. Lauk macam apa pula, gue gak tau. But anyways, like I said before, what could possibly go wrong, right? Nyokap gue tau kalo gue dan adek bukan tipe-tipe orang yang milih-milih makanan, tapi bukan tipe-tipe omnivora tingkat tulen tak terkendali yang bisa makan daun pare. Dia tahu apa yang bakalan dia beliin buat gue. 

Waktu tiba saatnya bokap udah ngajak gue pergi makan di luar, adek gue udah lama kelar masak nasi. Gue langsung dihantem dilema. Nyokap gue masih lama pulangnya, ini juga udah rada malem, dan bokap gue, like I said, what could possibly-- ah sudahlah. It's actually a very good proposition. Di sisi lain, adek gue udah keburu masak nasi, nyokap udah ngebawain kita berdua makanan, dan gue belum laper-laper amet sih jam segituan. Intinya, kalo gue makan di luar sama bokap gue, usaha adek gue (masak nasi) dan nyokap gue (bawain pulang makanan, menembus macet, dan menghindari senggolan tak disengaja sopir truk gandeng teler) sia-sia. Mereka udah segitunya, dan gue malah gak makan di rumah.

So I said, "Gak deh pa, saya nungguin mama aja."

Dan gak ada skenario dramatis untuk adegan ini, oke?! Simply because gak ada celah untuk nyelipin adegan sinetron dengan desisan symbal yang numpuk dan close-up tiba-tiba ke muka tokoh utama. Iye, gue tau lu kaget, tapi gak di zoom segitunya juga kali! Halah! Ya opo iki sama dunia pertelevisian Indonesia? Perfilman udah bagusan sih, karena film horror sedeng udah mulai ilang, meskipun masih ada sih, tapi ADA APA DENGAN PERTELEVISIAN INDONESIA!? Kalo lu udah nganggep naga Indosiar, RCTI, dan teman-temannya adalah tontonan termantep lu di sini, WE OBVIOUSLY GOT A BIG PROBLEM!!

Ehm.

Dan pergilah bokap gue, dan dia pun balik setengah jam kemudian. In case lu lupa sekarang jam berapa, sekarang adalah jam 8 malam. Nyokap belum menampakkan diri sampe sekarang. Eh, normally gue adalah orang yang gak terlalu peduli makan malem jam berapa. But this.. gak kelamaan? Kurang lebih sampe jam setengah 9 gue nungguin nyokap balik, dan pada saat itu, perut gue mulai nyuarain suara fals-nya. Keroncongan, maksud gue. Di detik itu juga, gue udah nrimo gak makan malem sekalian. Lagian, bukan pengalaman pertama gue...

Jam 08.45.

Pintu rumah terbuka. Nyokap berhamburan (sendirian, tapi anggeplah tas belanjaan itu orang juga) ke dalam ruang tamu. Adek gue (entah kenapa, gue kira dia udah tidur jam segituan) turun ke ruang tamu, gue nyusul.

Gue tanya nyokap gue, "Makanannya apa, ma?"

Dia bilang sate yang dia colong beli dari mal tempat dia kerja di Jakarta. Kata dia enak, dan gue percaya. Gue yakin sebagai nyokap yang baik, dia gak bakal beliin anaknya cicak goreng. Meskipun gue gak bakal langsung nolak cicak goreng. Kan bisa aja enak, toh?

Anyways...

Gue udah seneng banget. Sate gak bisa gue bilang makanan terenak, tapi mereka-mereka ini termasuk favorit gue. Mana gue laper lagi. Langsung aja kita taro piring segala macem, jelas bersiap buat sikat rata itu makanan takeaway nyokap gue.

Sampe nyokap gue bilang sesuatu lagi.

"Dek, ini nasinya kok kurang mateng, ya?"

Aw shi-- gue gak masalah sama nasi yang agak terlalu kering (percaya sama gue, gue pernah masak begituan, dan selama makan gue harus ngeles kalo itu nasi bagus buat dijadiin nasgor), tapi belom pernah berhadapan dengan nasi yang kurang mateng. Gimana caranya nasi bisa kurang mateng? Seinget gue, tombol COOK di rice cooker udah cukup buat mastiin itu nasi mateng bener. Kecuali mati lampu pas masak. Atau kabel rice cooker dijadiin kripik sama tikus lewat.

In any event, gue gak masalah sama nasi buatan adek gue. Lagian dia kan udah berpengalaman (entah berapa banyak tepatnya) masak nasi. Dia pasti (seenggaknya) tau cara masak nasi. Jadi, gue masih beranggapan nyokap BERANGGAPAN nasinya kurang mateng. Beda standar, sih, anggepan gue.

Itu sampai gue centongin nasinya.

Nah ini beneran. AW SHIT.

Gue pernah makan nasi yang menjadi bubur (airnya kebanyakan). Tapi ini, my friend, adalah BERAS YANG MENJADI BUBUR. Yep, tekstur, kelembekan, dan pewarnaan adalah bubur, tapi pas mereka ini udah nyampe lidah gue, RASANYA JELAS BUKAN NASI. Sisi (agak) baiknya, gue sekarang tau bedanya nasi mateng dan nasi gak mateng. Sisi buruknya, adalah semua pengalaman itu nasi masuk, nyentuh lidah, sampe jatoh ke tenggorokan SANGAT TIDAK ENAQ.

Let me break this down for you...

Tekstur yang lembek-lembek menyek bikin gue mikir, "Oh, ini bubur. Berarti nasinya lembek kayak bubur. Gak perlu banyak usaha buat ngunyah trus nelen ni makanan." Right? WRONG! Rasanya setengah-nasi-setengah-padi (yea I know, right?), dalam artian, PADI YANG SESUNGGUHNYA, YANG MASIH TUMBUH DI LADANG PINGGIR JALAN TOL. Bukan daun padi, tapi bulir padinya. Bubur? Yah, bubur luarnya, lebih tepatnya. Dalemnya? Kerasnya saingan sama nasi goreng yang biasa harganya 15k-an di pinggir jalan. Lebih keras, malahan. Ngunyah begituan aja penuh usaha. Pada saat lu tau kalo nasi lu dikunyah aja perlu usaha, LU MESTINYA TAU KALO NASI LU INI BERMASALAH KRONIS.

Adek gue yang masak juga nyadarin ini, sih.

Sate bawaan nyokap adalah dua-duanya (nyokap gue bawa pulang dua jenis sate) penyelamat makan malem gue sekarang. Apakah mereka mampu menyelamatkan dinner gue? Atau apakah mereka akan menjerumuskan selera makan gue yang malem itu udah jelek? Gimana kelanjutan kisah mereka? Saksikan di GLOBAL TIPI.

Pertama adalah sate buntel. Warnanya coklat, bentuknya (sebagaimana namanya) buntel, dan makan lumayan banyak tempat di tusuknya. Artinya, buat ngabisin sate ini dari tusuknya, bakal dibutuhin lebih dari satu gigitan. Halah. Jelaslah.

Normally, gue adalah penggemar sate. Kambing, ayem, babi, ikan (bila ada), bebek (sekali lagi, bila ada) gue demen. Jadi, berkat pengalaman lidah gue dengan sate-sate sebelumnya, mestinya gue gak ada masalah sama sate buntel yang satu ini dong?

Itulah pikiran gue pas ngegigit sate tersebut. Untungnya gak alot, kalo ikut-ikutan alot sama nasinya ya berarti kita punya masalah yang jauh lebih besar daripada nasi yang setengah mateng (pernyataan ini dikemukakan oleh bokap besoknya setelah dia tahu kejadian ini). Masuk ke mulut, nyasar ke gigi, gue kunyah.
Ceritanya ini makanan kesukaan Jokowi. Wut??

Satu kunyahan.. dua kunyahan..

Eits, gue disini bukan buat bikin lu pada ikut ngiler dengan empat kata di atas, karena SATENYA NOT DELICIOUS. Gak perlu di break down kayak nasinya, langsung ke intinya aja, karena ini sate adalah murni ketidakenakan. Begitu mencapai dua kunyahan, rasanya (pengalaman gue) terjadi ledakan antara asin dan asem dalam mulut gue. Sumpah, ngagetin banget. Asin gak masalah, asem apalagi, tapi toh ledakan dua-duanya dalam mulut gue lu kira enak juga? Ledakan di sini, dalam artian, rasa dua-duanya langsung muncul begitu saja dalam konsentrasi (maaf kalo gue kedengeran sok pinter di sini, tapi gue gak tau kata yang lebih bagus) yang KELEWAT BANYAK.

Lucunya, gue masih sempet ngira ledakan nuklir dalam mulut gue sebagai "reaksi lidah gue yang kurang terbiasa dengan rasa beginian". Jadi, gue gigit lagi tu sate. EEERGH!! *sek, muntah dulu* Ternyata emang bener itu sate memiliki kendala dalam proses produksi. Atau emang rasanya kayak gitu, dan gue gak terbiasa.

Makanya gue langsung tanya ke nyokap gue perihal malfungsi makanan ini. Ehh, siapa tau emang cuman gue disini yang gak terbiasa sama rasanya, padahal nyokap gue bilang itu enak? Mungkin nyokap suka sama ni sate, trus dia beliin gue sate ini dengan asumsi gue pasti suka juga. Gak cuman sekali gue punya perbedaan selera sama nyokap soal makanan. Paling kentara: Duren dan cempedak. Dia suka dua-duanya, gue gak suka dua-duanya.

"Iya ya Jay, ini kok agak terlalu asin ya?"

Mending nyokap daripada gue. Dia ngerasa rasa yang overdosis cuman sisi asinnya. Gue? Asin sama asem secara bersamaan. Then again, dia juga ngerasa ini ada masalah dalam rasa, jadi minimal gue punya alesan buat langsung taro sendok/garpu, setor piring ke wastafel terdekat, dan anggep ini dinner time gak pernah terjadi. Nyokap aja gak suka, masa' gue harus suka juga?!

Untung nyokap takeaway sate ayam kecil buat mengerem selera makan gue dari jatuh bebas ke jatuh bebas dengan parasut setengah kebuka. Enak sih enak, apalagi dengan kecap manis, tapi mereka ya mini-mini gitu, jadinya rasanya gak sebanding dengan rasanya si sate buntel. Belum lagi si sate buntel ini secara tidak terlihat berkomplotan dengan si nasi setengah mateng buat bikin makan malem gue terasa kayak SHIET.

Jadi, selama lima menit kedepannya, gue berjuang, melawan akal sehat gue, untuk menghabiskan makan malem itu. Akal sehat, karena udah makanan gak enak, sinyalir mengandung unsur yang mencurigakan (apalagi nasi setengah matengnya), dan yang terakhir nyokap gue udah bilang, "udah Jay, kalo gak enak gak usah dihabisin." Heh, ceritanya ini adalah orang yang nyuruh gue ngabisin makanan gue. Sekarang, dia nyuruh gue ngelakuin sebaliknya. Ironis, eh? Sekali lagi, akal sehat, karena gue udah gak punya alesan buat ngabisin makanannya.

Jadi apa yang membuat gue melawan akal sehat pada malem itu? Ya selain ngeliat adek gue juga merasakan hal yang sama dan berniat ngabisin (masa' koko kalah sama adeknya?), gue masih terikat prinsip yang ditanemin sama nyokap bokap dari dulu: Jangan Pernah Nyisain Makanan.

Lima menit kemudian, gue udah setor piring ke belakang. Sakit nyeritain prosesnya, tapi versi singkatnya: gue bisa aja jalan ke ladang ranjau, dan mungkin rasanya gak ada bedanya.

Setelah semua piring menghilang dari meja makan gue dan adek gue udah balik ke laptopnya melanjutkan pekerjaannya sebagai pemain TF2 top Indonesia, sisa gue sama nyokap.

Dan out of nowhere, terjadi percakapan ini:

"Jay, kamu kenyang gak?"
"Ehh, gak terlalu sih ma, mengingat tadi.."
"Mau cereal gak (kebiasaan adek dan gue)?"
"Kalo ada saya mau sih."
"Ada kok."
"Susunya?"
*le mencari susu* "Yah susunya udah digondol sama adek."
"Ya udah, gak usah, gak papa."
"Eh jangan Jay, kalo mau cereal, ayo kita ke Indomaret cari susu, sekalian nurunin makanan juga."

Dan itu, teman-teman, adalah permulaan dari part 2.

Until the next post, bungs! :D











   

Thursday, July 9, 2015

GAY MARRIAGE: Derita Kaum Minoritas

Hi everybody. 

I have an announcement to make. 

I am fully aware that the U.S. government had  legalized the law of same sex marriage, in other words, gay marriage is now fully legal. 

A remarkable number of people have been 'coming out' as a way of telling to the world that they, in fact, are gay. 

In the same spirit of these individuals, in the same spirit of them, I have decided, after a time of consideration, to announce that 

I am gay not gay. 

Anyways, mengingat sekarang orang-orang yang keliatannya jauh dari kata gay mengumumkan kepada dunia bahwa mereka, faktanya, adalah gay, gue langsung tersengat buat nulis blog ini. Jauh dari kata gay berarti dalam hidup mereka MEREKA SUDAH PERNAH PACARAN SAMA LAWAN JENIS. Dan setelah pemerintahan AS meluruskan semua kebengkokan ini dengan melegalisir GAY MARRIAGE, mendadak orang-orang ini melancarkan the biggest announcement of their respective lives. Mereka mengumumkan bahwa mereka, as a matter of fact, are gay people. 

Not that I disapprove anyways. Takes a whole damn lot of guts to tell the world that you are one of those people whom society despised. Dan mereka melakukan ini gak kayak gak punya beban. Mereka udah membawa beban berat ini seumuran hidup mereka, menyembunyikan diri mereka yang sesungguhnya, hidup dengan identitas mereka yang tidak asli. Thing is, saat dimana mereka mengeluarkan diri asli mereka adalah saat mereka bisa kehilangan semuanya. Keluarga, teman, pekerjaan, status sosial, dst. Mereka bakal dikucilkan, klo mereka (dalam bahasa sederhana) be themselves. Shit man, it's hard for these guys and gals. 

What do I know, is that these kind of people got a lot of bad rep for their alignment. Ehh, pertama-tama, sepanjang sejarah, orang-orang berorientasi homoseksual tidak mendapatkan reputasi yang bagus. Kedua, tidak ada peraturan di dunia (at least, sampai Juni 2015) yang secara blak-blakkan melegalisir same sex marriage. Kitab suci berbagai agama besar di dunia (dalam kasus gue, Alkitab buat agama Katolik) meng-condemn same sex marriage. God created Adam and Eve, not Adam and Steve. Seakan-akan, dari sono-nya aja, orang homo gak punya tempat di masyarakat. Ketiga, kebanyakkan orang-orang straight (yang jelas gak homo, lesbi, apalagi bisex) benci orang homo. Homophobic, to be exact. Udah didasari alasan-alasan di atas, ditambah lagi perspektif dan mindset bahwa orang-orang gay abnormal (like I said, Adam and Eve not Adan and Steve), tidak wajar apalagi waras, dan kehadiran mereka membuat orang-orang di sekitarnya jadi ilfil. 

"We are coming to the end of the world. God rained fire on Sodom and Gomora for their debauchery, adultery, and homosexuality. Now, we are coming to those times again, and this time around, the whole world will fall victim."

Well, just one message for this kind of situation, as I would like to point out.

STOP GIVING THEM TOO MUCH SHIT. 

Entah 'shit' dalam arti empati dan simpati, atau 'shit' dalam arti antipati, it doesn't matter! AS baru aja melegalisir hal itu, dalam arti lain, bakal ada banyak gay-gay terselubung yang tiba-tiba akan keluar dari balik tabir mereka. Kalo udah kayak gini, lonjakan terhadap jumlah penganut orientasi homoseksual bakal tinggi banget, dan itu udah pasti kejadian! We all know this would've happened sometime! It's just a matter of time!

So, apakah gay people are bad for society? Apakah Tuhan tidak memperbolehkan same sex marriage di Alkitab? YES! Tapi apakah Tuhan menghakimi orang berdasarkan orientasi seksualnya di dunia, bukan berdasarkan perbuatan, amal, dan tindakan kasihnya di dunia? NO! Gak selamanya orang gay itu adalah bagian terbiadab dari masyarakat! Orang itu gay, berarti dia setiap hari ngana-ngono sama pasangan gay-nya, berlaku abnormal, berbuat hal-hal yang gak senonoh, gitu? Dan berarti orang straight gak bisa berzina, selingkuh, dan semacemnya, gitu? 

Thing is, being gay doesn't make you a bad person, just as being straight doesn't make you a good person. Thing is, equality. 

But that means we've got to over-sympathize over a gay person in our society? Absolutely not! First thing is, gara-gara banyaknya orang-orang yang out of the blue ngaku kalo mereka gay, lebih banyak lagi orang yang bersimpati sama mereka. Dalam arti lain, jangan terlalu banyak bersimpati sama orang-orang gay. Lu memperlakukan dengan terlalu spesial dan eksklusif bisa membuat mereka jadi, yah, anggeplah, ketinggian. Terlalu banyak peduli sama mereka, mereka bisa (secara gak langsung) menarik lu ke dalam orientasi mereka. Kecuali lu MAU hal itu buat terjadi, jangan terlalu miring ke mereka. Keep in mind, they are gay because they are gay. Not because they are forced to be gay. Jangan sampe mereka menjadi kanker dalam masyarakat kita. Inget juga bahwa kanker adalah sel dalam tubuh yang tumbuh tidak terkendali. Jangan sampe kita membiarkan mereka tumbuh secara tidak terkendali, dan akhirnya menghilangkan diri kita yang sesungguhnya. Do not let them control us, due to fact that they refuse to be controlled by us. 

In other case, jangan mengucilkan dan merendahkan mereka lebih rendah dari binatang. First, itu membuat lu jadi tidak lebih dari binatang juga, dan second, mereka masih manusia, which brought me to the third, mereka masih punya HAM. Karena mereka, you know, masih manusia. 

Come to think about it, kalo gay people benar-benar dikutuk oleh Tuhan, kenapa mereka belum hilang dari dunia ini? 

Nope, it's not about God not being able to banish them, but the fact that GOD EVOLVES. Ya, emang gak ada agama yang memperbolehkan same sex marriage, tapi balik lagi ke fakta bahwa AGAMA ADALAH BUATAN MANUSIA. People have changed, the world has changed, and the society has changed. And so, God has changed. He still loves humans, but now he's more flexible and unlimited. God still loves you, because you are still human, and you are precious to Him. 

Dan buat orang yang menyumpahi orang gay ke neraka. Nope, gue gak bakal nyumpahin lu ke neraka juga, karena dengan berbuat demikian, gue gak lebih baik dari lu, atau mereka, yang lu anggep layak masuk neraka dan gak pantes masuk ke surga. 

Tuhan yang menghakimi, bukan lu. 

Dan buat orang gay yang baca ini, meskipun kecil banget kemungkinannya, note this. Apapun agama lu , lu masih manusia. Jadi jangan biarkan orientasi lu menghalang-halangi kemanusiaan lu. Be yourself, still, but change for the better, knowing you are the least of society. Shut those homophobics up by good deeds. 

Ini Ingrid Nilsen. Dan ini muka dia beberapa detik setelah
mengatakan, "I am...gay!" (kalo gak salah)
Gue baru aja nonton video Ingrid Nilsen mengakui dirinya adalah seorang gay, dan ngeliat komen-komen simpatik di bawahnya. Hahh, kesian banget dia, keliatannya susah banget buat ngeluarin fakta bahwa dia adalah gay. Macam dia ngomong "I am...gay!" dan reaksi gue, "YAY! Wait, what?" 

Woles aja kawan-kawan, kalo ada orang gay di sekitar kita. Jangan perlakukan dia terlalu spesial, tapi jangan terlalu tidak berkeprimanusiaan. Jangan bikin orientasi dia merubah drastis cara kita memperlakukan dia. 

After all, they are still human. 

Until the next post, bungs! :D






Sunday, July 5, 2015

THIS IS NOT A REVIEW: Minions (Bello!!)


Starring: -Pierre Coffin (Despicable Me) as (kurang lebih semua) Minions

             - Sandra Bulog Bullock (Gravity, The Proposal) as Scarlet Overkill
             - Jon Hamm (Mad Men) as Herb Overkill
             - Michael Keaton (Batman, Birdman, Toy Story 3) as Walter Nelson
             - Geoffrey Rush (Pirates of the Caribbean series, The King's Speech) as Narrator
Budget: $85 juta
Box Office (per 23 Juni 2015): $ 124,2 juta
Lama: 1 jam 31 menit
Genre: 3D computer-animated comedy
Rotten Tomatoes (per 6 Juli 2015): 75%
US Release: 10 Juli 2015 (cie belum keluar filmnya..)

Apa itu Despicable Me? Bagi gue 6 tahun yang lalu, film ini cuman film animasi anak-anak yang sesuai target penontonnya, kekanak-kanakkan. Dalam arti lain, gue mungkin gak nikmatin (padahal,6 tahun lalu, gue ya masih anak-anak), takutnya mengesankan cuman buat anak kecil doang. 
Ternyata enggak. 
Sure, sure, Despicable Me punya plot yang unik (melibatkan penjahat yang menjadi pahlawan), pesan yang heartwarming, dan character development yang bagus (terutama buat si Gru, protagonis film). Tapi toh, orang gak inget Despicable Me dari si botak yang mirip penguin Gru. Orang inget seri Despicable Me dari anak buah Gru yang gak karuan, kadang gak becus, tapi gak pernah berhenti bikin kagum.
Minions. Jujur, nama yang generik, tapi karakterisasi kentang-kentang kuning ini mengubah presepsi, mindset, dan pola pikir orang terhadap kata 'Minions' selamanya.  
Makhluk-makhluk kentang ini adalah angin yang sejuk buat franchise Despicable Me. Penampilan mereka yang oenjoe unyu udah cukup buat bikin gue sebagai pemirsa terlecut buat nonton ini. Tapi charm mereka yang sesungguhnya adalah tingkah laku, pola bahasa, dan ulah mereka setiap kali layar lebar memejengkan mereka.
As a matter of fact, anak buah Gru ini adalah daya tarik utama dari franchise Despicable Me. Anggepannya, bukan Despicable Me namanya kalo gak melibatkan Minions. Jadinya, film spin-off ini adalah sebuah kepastian, dan kita akan berhadapan dengan film ini. Logikanya, spin-off berdasarkan tokoh terunyu yang bikin Despicable Me bagus bakal lebih bagus dari Despicable Me-nya, kan? Mereka kan faktor penjual franchise ini. Eh, ya nggak sih?
Will this flick prevail or epicly fail? We shall see...

Overload of Minions?
Sebagai penggemar Minions (bukan Despicable Me secara keseluruhan, sayangnya), gue murni seneng waktu denger tentang keberadaan film ini. Satu film isinya cuman tentang makhluk-makhluk pil koplo koplak ini? Gimana mau gak seneng?
Sampe akhirnya mendaratlah para Minions di Indonesia (dan lucunya, Minions nyasar ke Indonesia duluan sebelum mereka ini nyasar ke Amerika). Tetep aja gue seneng sih, tapi bersamaan mendarat juga satu hal yang gue takutin: apakah terlalu banyak Minions baik?  Atau bisa berdampak buruk dan malahan memberikan kesan bahwa film seakan-akan mengeksploitasi secara habis-habisan unsur Minions ini, sehingga malah terkesan membosankan?
Pendapat orang berbeda-beda tentang hal ini, tapi gue punya pendapat sendiri di sini.
Mengingat ini film tentang makhluk-makhluk mbanyol ini, wajar-wajar aja kalo semua adegan melibatkan mereka, dan itu gak bakal dibilang eksploitasi Minions.
Ya ini film tentang mereka, ya nggak sih?
Perihal 'eksploitasi pol-polan unsur Minions' itu bukan masalah berapa kali Minions berulah di film. Tapi berapa lucu, tolol, konyol, dan menggelitik Minions berulah di film. Quality over Quantity.
Trus, gimana mereka di film ini?
Ini Pierre Coffin. Rada kaya' orang sini, ya?
Rupanya Pierre Coffin (Pak Sut film ini, percaya gak percaya) tahu unsur-unsur menarik Minions di film sebelumnya. Minions, menurut inkarnasi installment Despicable Me sebelumnya, suka berlaku konyol atas hal-hal yang jauh lebih konyol dari diri mereka sendiri (berebut pisang, berantem atas keyboard komputer, rame-rame ngincer es krim). Di samping itu, mereka punya hobi yang seberapa berat kita berusaha buat ngindarinnya, kita tetep gak tahan buat mantengin: NYANYI! Yep, gak satu (Despicable Me), gak berempat (trailer Despicable Me 2), gak berjamaah (Despicable Me 2), pasti ada aja adegan mereka nyanyi. Yang bikin nyanyian mereka bagus, akhir-akhirnya, bukan lagunya, tapi cara mereka nyanyi itu!
Gue perhatiin, banyak adegan Minions nyanyi di film ini. Gue sebagai penonton dua installment sebelumnya cukup terhibur (gak guling-guling) waktu liat mereka tarik suara. Secara keseluruhan, Minions nyanyi emang salah satu hal yang ditunggu di film ini, dan bagusnya, kita gak perlu terlalu banyak nungguin adegan mereka nyanyi di film ini, karena mereka nyanyi tergolong sering di film ini. Nice!
Perihal humor slapstick ala Minions yang gokil? Masih ada gak?
Menurut pengamatan gue, volum ketololan Minions padet di awal film. Tepatnya, montage tingkah laku mereka dengan majikan-majikan yang pernah mempekerjakan mereka (dan semuanya berakhir tragis). Seiring berjalannya film, Minions utama dalam film berkurang menjadi tiga, yaitu Kevin, Stuart, dan Bob. Nah, di daerah ini, tingkah laku pemancing ngakak mereka berkurang, dan (kurang lebih) digantikan dengan karakterisasi tiga Minion utama tadi, lewat nada, intonasi bicara (dengan bahasa hybrid Minionese mereka sendiri), dan ekspresi tiga orang ini. Sekali-kali sih diselingin dengan nasib kawanan besar Minions di saat trio Kevin, Stuart, dan Bob pergi. Percaya sama gue dalam hal ini, selingan ini adalah hal yang dihargain banget. Emang sih, trio Minion utama ada kelucu-lucuannya sendiri, tapi akhirnya, gue sadar satu hal: Minions are best served in busloads.

No Kill is Like Overkill!
Patut diperhatikan 2 (dua) tokoh utama Minions, tentunya selain para minions itu sendiri.
First is Scarlet Overkill.
Doesn't it feel so good to be bad? 
Sandra Bullock pernah jadi astronot yang terjebak di luar angkasa. Sandar Sandra Bullock pernah jadi bos yang 'nembak' anak buahnya sendiri. Tapi Sandra Bulog Bullock belum pernah jadi PENJAHAT WANITA PERTAMA DI DUNIA.
Scarlet terlihat cliche di atas kertas. Dia (menurut standar minions) menawan, dia bernada halus dan menggoda, dan dia tidak terlihat sangat mematikan. Cliche-nya femme fatale, ya nggak sih?
Fact is, Scarlet mungkin emang cantik (sekali lagi, menurut standar minions), tapi dia bukan tipe penggoda. Oke, suara dia emang rada menggoda, tapi dia bukan tipe perayu para pria. Dia bengis, sadis, dan modis. Sandra Bullock memberikan first impression yang nice tentang wanita ini.
Bukan berarti gak ada flaw-nya. Scarlet kadang-kadang kedengeran over-the-top dengan nadanya, sehingga, yah, gak enak didenger. Character backstory-nya juga rada gak jelas (ngerti sendiri lah, syarat utama jadi penjahat adalah backstory yang lebih jahat dari penjahatnya), sehingga gue susah nge-relate diri gue sendiri sama dia. Rasanya.. kita jadi gak terlalu peduli sama Scarlet ini. Sheesh.
Second is Herb Overkill.
Now, gue dengan senang hati menyatakan bahwa Herb sebenernya punya karakter yang nggak one-dimensional. Dia laid-back, obviously a genius, dan funky. Kontras yang bagus dari Scarlet, istrinya. Problem is, kalo udah ada istrinya, semua sifat ini seakan-akan kelelep di bawah bayang-bayang Scarlet.
Herb seakan-akan selalu setuju dengan Scarlet, bahkan meskipun itu berlawanan dengan sifat dirinya yang sesungguhnya. Karakter dia gak keliatan. Chemistry diantara mereka berdua juga ada di sini, cuman terkesan garing. Not amusing, at least to me.
Which brought me to my observation notes.
Herb punya sifat yang baik. Dia bisa menjadi kontras (dari warna baju aja udah kontras) bagi Scarlet. Keliatan dari semua interaksi dia dengan para minions, jelas dia gak memiliki unsur kebengisan, atau kalaupun ada, jauh di bawah Scarlet. Pun dia memperlakukan minions dengan lebih santai dari Scarlet.
Sayangnya, di samping penokohannya yang selalu berada di bayang-bayang Scarlet, ada satu lagi. Dialog Herb tidak semenarik penampilan, gaya, dan sikapnya. Gue gak tau bagaimana, tapi kata-kata Herb gak se-compelling istrinya, atau bahkan para minions itu sendiri. Padahal dia punya attitude yang enak di atas kertas. Malahan, dialognya mengingatkan gue sama Vector, antagonis Despicable Me. At least, dia gak ada seperempatnya ke-rese'-an Vector terhadap Gru. Astaga, @^#%^%#@^&@#% mati aja tu anak %@$$@#^&#@ !!!

Rated PG-13 for.. 
Minions gak punya alasan buat terus jadi serial animasi yang selalu kekanak-kanakkan. Dulu, ada tiga tokoh utama yang menyebabkan pil-pil kuning ini sangat kid-friendly. Margo, Edith, dan Agnes. Sekarang, tiga anak itu udah ilang, dan palin deket ke mereka bertiga adalah trio Kevin, Bob, dan Stuart. Scratch that, sebenernya cuman satu, yaitu Bob, yang paling muda dari mereka bertiga. Bob kurang lebih adalah satu-satunya tokoh anak utama di film ini.
Ini Bob. 
Which brought me to this theory. Film Minions lebih dewasa daripada Despicable Me sebelumnya. Alasannya, mungkin selain theory di atas, adalah sineas Pierre Coffin dan Kyle Balda ingin membuat franchise Despicable Me lebih accessible untuk semua usia. Bukan cuma anak-anak, tapi untuk penonton yang lebih dewasa. Sure, Kalo tontonan kartun dewasa, gak ada yang menyaingi The Simpsons atau Family Guy, tapi para minions mampu menunjukkan sisi mereka yang nggak terlalu kekanak-kanakkan, meskipun nggak kurang ajar kayak dua kartun yang gue sebutin di atas.
Hal yang bagus, karena diantara banyaknya tingkah bocah para minion di film ini, ada juga maturing humor yang bisa bikin penonton yang lebih tua ngakak, tanpa harus nutupin mata anaknya yang duduk disampingnya di bioskop.
It's a good thing, actually.

(+) - Maturing jokes yang 'kena'.
     - Mampu menarik penonton yang lebih dewasa.
     - Humor para minion yang selalu fresh.
(-) - Karakter lain tidak mampu meng-compliment kelucuan minions.
     - 3 minion utama terkesan terlalu 'sepi'.


NILAI: 88/100

KESIMPULAN: Bukti bahwa transisi sebuah serial anak-anak menuju serial yang bisa dinikmati orang dewasa bisa sukses. Sure, there are flaws here and there, macam tokoh samping yang gak seasik minion-nya, tapi overall, it's a fun-for-all-ages prequel to the Despicable Me franchise.

Until the next post, Bungs! :D

Thursday, June 11, 2015

TOP TIERS - GAMING: Open-World Games

Kita semua tahu game Open-World sebenernya, cuman ya, gatau istilah sesungguhnya adalah Open-World. Biasanya kita tahunya adalah GTA/CuRanMor/Grand Theft Auto. Yep, karena GTA itu sendiri adalah pelopor sesungguhnya dari genre game Open-World. Pihak pembuat game Rockstar ngide buat bikin sebuah dunia game yang memberikan kebebasan terhadap pemainnya untuk melakukan apa saja yang mereka suka, dibandingkan dengan mengikuti sebuah perintah atau objective tertentu. Dan herannya, "mencuri mobil dari orang lewat" atau "menembaki orang lewat" atau "ngajak berantem polisi lewat" terlihat seperti ide mereka tentang kebebasan. Seenggaknya, gue dan kebanyakan pemain GTA kayak gitu, kan? Atau mungkin ide mereka berbeda dengan yang gue utarain di atas, tapi kurang lebih begitulah.
Belakangan ini, mulai bertebaran game-game yang mengikuti pola serupa dengan Grand Theft Auto, bahkan ada aja yang  sama persis, mungkin yang beda cuman judulnya. Intinya adalah, kebebasan terhadap pemain-pemainnya untuk melakukan eksplorasi dalam game, dibandingkan dengan mengikuti sebuah cerita linier yang ditemplokin ke jidat pemainnya. Kebanyakan dari game-game ini adalah jauh dari produk gagal, karena dengan ke-anti-mainstream-an dari sifat asli game-game ini, para pihak pembuat game bisa menuangkan semua ide kreatif mereka ke satu game dan memaksimalkan game tersebut sesuai dengan visi mereka. 
Before we get started, anyways...
Biasanya channel-channel di YouTube memberikan Top 10, Top 20, Top 5, Top Angka-apapun-yang-penting-di-atas-1 (Watchmojo, rabbidluigi, JazReviews, ZoominTV Games) tentang sebuah kategori dalam gaming, misalnya top 10 FPS Games, Top 10 Games of 2014, dan bejibun lainnya. Kali ini gue (yang tadinya udah berencana naro Top 5) memberikan  Top Tiers. Dibandingkan dengan 1 pilihan per entry, gue bisa memberikan lebih dari satu pilihan per entry. Konsekuensinya, entry-nya jadi lebih dikit. Dan dibandingkan dengan Top 10 biasanya dengan hashtag per entry (#10, #9, dst), gue bakal taro Tier. Bentuk Tier yang gue taro tergantung banyaknya entry yang ada. 
Let's get started, shall we?

Lower Tier
Sebagai salah satu game terbaik dalam serial AC, Black Flag menawarkan eksplorasi yang lebih gila dibandingkan dengan game sebelumnya dan atmosphere yang lebih menarik sebagai seorang bajak laut. Edward Kenway sebagai Assassin yang kita mainkan kali ini, lebih enak dilihat, dipantengin, dan lebih asyik sebagai seorang tokoh utama dibandingkan dengan Connor, protagonis AC3. Naval combat yang sekedar 'ada' di AC3, dibikin ngejreng keberadaannya di Black Flag. Lebih rapi. pula. Gimana cara Edward bisa bertemu, bercengkerama, dan berlayar bersama dengan bajak laut paling terkenal di buku-buku sejarah (bila ada) macam Blackbeard, Bartholomew Diaz, Calico Jack, dan kaum-kaumnya. Seakan-akan kita, si Edward itu, bisa bercakap dengan para perampok paling ditakuti. Macam teman pula!
Yang gue sayangin adalah identitas subtlety (diem-diem) franchise AC yang makin terkikis dengan tema yang dibawakan game ini, meskipun unsur stealth masih ada. Stealthy approach masih digarisbawahi, tapi straight-on, direct, dan THIS IS SPARTAA!! approach tidak terasa konsekuensinya, seperti stealth game kebanyakan. I mean, come on, Pirates and Assassins just don't mix up. Dan senjata primer disini cuman ada 3 (dual swords, hidden blades, dan jotosan Edward), jadi variasi terasa berkurang. Lucunya, cerita Animus Desmond Miles masih dilanjutin disini. Cerita Animus sendiri adalah aspek cerita Assassin's Creed yang paling dibenci, dan seringnya melepaskan pemain dari kekerenan cerita Assassin's Creed yang sesungguhnya. Halah.    

Iye-iye, gue tau dan sadar bahwa apa yang membuat Far Cry dipantengin adalah Far Cry 3, dengan Vaas yang jelas-jelas INSANE (padahal sering ngomongin tentang INSANITY, dasar), berburu ikan hiu, manah macan, bakar ladang ganja sambil denger dubstep, dst, dst, dst, tapi gue secara pribadi lebih suka Far Cry 4. Iya gue tau, Pagan Min (si setelan pink di atas) kelihatan kayak orang homo, tapi itu adalah salah satu aspek terbaik dia. Dibalik tampang-tampang lekong gituan, Pagan Min sebenernya gak kurang gilanya dari Vaas. Dan beda dengan Vaas yang terkesan barbar (iyalah, kaus kutang dan rambut mohawk menjelaskan semuanya), Min lebih likable karena dia sangat kalem, sangat bersahabat dengan Ajay Ghale (kita), dan sangat warm kita malah suka sama dia, dibandingkan dengan Vaas yang antara rese atau bikin bulu kuduk berdiri. As of the game itself, FC4 adalah FC3 yang dipoles dan dipermak. Lebih banyak senjata, side quest, lokasi, kendaraan, binatang buat diburu, dan fitur. Istilahnya, FC3 yang lebih lengkap. Ini yang gue suka. Nuansa lokal (Himalayas) juga kentel banget, kita bisa terbawa suasana dingin kejam nan indah dari Kyrat. 
Masalahnya sama FC4 adalah story yang lebih lemah dari FC3. Sure, sure, Pagan Min adalah antagonis utama yang saingan sama Vaas, tapi dia malah jarang menampakkan diri. Yang ada, kita lebih sering bercengkerama dengan tokoh-tokoh di bawah Pagan Min yang tidak memuaskan. Dua tokoh utama lainnya, Amita dan Sabal, yang di atas kertas baik karena melawan Min, malahan jadi turun tingkat kesukaannya karena mendekati akhir cerita, mereka lebih mementingkan agenda politik mereka sendiri. Reggy dan Yogi, astaga, meskipun misi sakaw mereka asyik, tapi mereka berdua ini, setiap kali gue ketemu, gue selalu merenung, "Kenapa gue gak bisa bunuh mereka?" Mereka sangat-sangat rese, obnoxious, menyebalkan, sehingga kita jadi menghindari misi teler mereka bukan karena kita gak suka misinya, tapi semata-mata gak suka mereka ini. Belum lagi bawahan Pagan Min yang easy-come-easy-go. Mission string mereka cepet banget kelarnya. Belum kita mendalami karakter-karakter mereka, mereka tau-tau udah keok. Mati kek, diculik kek, bunuh diri kek. Pada akhirnya, tinggal satu tokoh yang masih enak didengerin, dan ternyata, dia adalah si homo setelan pink tadi. Dan dia jarang beredar dalam cerita. 
Secara mengagetkan, salah satu GOTY (Game of the Year) 2011 dan salah satu game terbaik sepanjang sejarah nyasar ke lower tier gue. Kenapa gerangan? Padahal, tanpa mod sekalipun, Skyrim udah lewat diatas game bagus. Dunia yang sangat luas, explorasi yang gak membosankan, cerita yang imersif dan impresif, dan grafik yang mumpuni bahkan buat dunia seluas itu. Unsur RPG Skyrim juga sangat baik dieksekusi. Pemain diberikan kebebasan maksimum untuk melakukan levelling terhadap sebuah skill tertentu. Dan setiap element dari levelling sebuah skill sangat memengaruhi jalannya permainan dan seberapa jagonya char yang pemain buat di awal cerita. Unsur terbaik dalam game ini adalah kebebasan tingkat dewa yang diberikan. Dimana di Black Flag, kamu jadi bajak laut, atau di FC4, kamu lawan diktator homo, di Skyrim, gak ada yang peduliin kamu jadi apa. Jadi orang biasa dengan hidup normal tanpa bunuh-bunuhan dengan bandit, naga, atau monster? Bisa! Jadi pendekar penghajar naga sambil jadi suami yang baik terhadap si istri? Oh jelas bisa! Intinya disini yang gue suka, adalah dunia yang sangat luas, dengan potensi cara main yang lebih luas. Mikir aja sih, kapan lagi kamu bisa dapet side quest dengan cara baca buku doang?
Yah, inilah alasannya Skyrim kalah dengan 3 game terakhir. Pertama, secara scope luas, oke, Skyrim sangat bagus, bahkan mendekati kata sempurna. Tapi bagaimana dengan scope sempit? Mulai aja dari combat system. Combat system, menurut gue, terkesan kaku. Karena layout combat yang gitu-gitu aja, menurut gue, orang jarang pasang taktik kalo mau upfront combat ke musuh-musuh. Karena kalo pasang taktik, kadang-kadang gak ada gunanya. Menghindar hajaran yang paling efektif, dibandingkan dengan serong samping, adalah ngelak sambil mundur. Repot. Belum lagi gak ada system parrying. Blocking sih ada, tapi toh apa salahnya menambahkan unsur yang bikin combat system lebih mengalir dan enak dilihat? Ada juga masalah lain. Menurut gue, tanpa mod, meskipun dunia sangat luas, tapi kebanyakan memberikan color tone yang itu-itu aja. Jarang berwarna-warni atau memberikan kontras yang eye catching, sehingga kadang-kadang main seru-serunya, bisa bosen juga. Gara-gara warna latar yang kadang-kadang bikin berat mata. Inilah saat yang tepat dimana mod turun, ya nggak sih? Terakhir adalah pacing dari game. Ini sih tergantung preferensi aja, tapi Skyrim adalah game yang butuh kesabaran. Beda dengan open world kebanyakkan, action sebenernya gak terlalu sering ditemukan. Frekuensi kita tawur-tawuran dan bunuh-membunuh dengan musuh di Skyrim lebih rendah dibandingkan dengan GTA. Mungkin karena dunia yang sangat luas, sehingga gak semuanya harus melibatkan pembacokan. Lebih ke cerita sih, soalnya. Karena frekuensi action yang gak terlalu tinggi, Skyrim bisa jadi game yang membosankan buat gamer hardcore action. Belum lagi dengan warna latar yang kebanyakkan abu-abu. Bisa tidur malahan. 

Higher Tier
Faktanya, GOTY 2011 kalah sama GOTY 2013. Mereka bilang GTA: San Andreas adalah GTA yang terbaik yang pernah keluar, dimaenin, dan digerogotin oleh cheat. Ya mungkin masih berlaku sampe sekarang, tapi minimal itu game punya saingan: GTA V. Banyak alasan juga, sih. Dimulai dari tokoh utama tiga biji yang dibawakan dengan mulus. Ketiga orang punya karakter yang sangat beragam, dan tidak hambar, meskipun akhirnya kita cuman inget satu, yaitu si SGM (Sinting-Gila-Miring) Trevor. Latar Los Santos (berdasarkan California Utara) juga sangat hidup dan sangat luas. Bagaimanapun, luasnya peta di game tidak memengaruhi tingkat kesenangan para pemain GTA V. Lingkungan yang terlihat realistis, detail yang mendalam, dan kegiatan yang bisa membuat pemain jadi terlena. Tentang misi-misi ceritanya, pacing GTA V lebih cepet dari GTA IV, dan menurut gue, cocok banget, mengingat orientasi GTA yang condong ke action. Misi, mau sesimpel apa kisah yang dibawakan, terasa asek dan asoy. Belum lagi misi Heists, atau misi perampokan. Rockstar membawakan fitur puncak GTA V dengan lajur yang baik pula. Intinya, pure fun. 
Balik lagi ke issue paling ngejreng di GTA V, yaitu KONTROVERSI. Jelas, di GTA-GTA sebelumnya, bukan berarti kontroversi tidak beredar, anggeplah yang paling mengagetkan adalah Hot Coffee dari GTA: San Andreas. Gak tau? Ya carilah di Google, Youtube, dan kolega-koleganya. Atau yang lumayan juga, tepat sebelum GTA V, yaitu GTA: Chinatown Wars, yang mana kita bisa jadi BANDAR NARKOBA! Tapi untungnya, Chinatown Wars tidak hanya berlandaskan pada kita sebagai seorang bandar. Disini, kawan-kawanku sekalian, GTA V punya bukan cuman satu adegan kontroversial, tapi  mungkin SEPANJANG CERITA GTA V orang bisa menemukan sisi kontroversial. Paling nonjol? Carilah misi GTA V dengan judul By the Book. In the end, kontroversi tidak menghentikan orang membeli game ini, ya nggak sih? Kontroversi macam beginian yang bikin orang penasaran, dan kemudian, membuat sebuah game menjadi sensasional. Orang pingin tahu, gimana caranya sebuah game bisa nyaingin Syahrini dalam hal sensasi. Dalam hal ini, GTA V, dikenal sebagai salah satu game terbaik serial GTA, juga dikenal sebagai yang paling menarik kontroversi. 
Hohoho, dan lu kira gue gak ngeliat jeleknya game ini? Gue jujur aja, GTA V, meskipun misinya menarik, tapi cerita yang dibawakan sebenernya biasa aja. Secara struktur, misi emang menarik, tapi dibalik dar-der-dor yang seru itu, ceritanya simpel. Yeah, yeah, dialog dan directing dari cerita GTA V memang menarik, tapi premise yang ditawarkan gak seasyik misi-misinya. Belum lagi graphics yang ditawarkan. Sure, sure, GTA V memang realistis secara detail, tapi secara grafis, realistis itu terletak pada game macam Battlefield 4, The Order: 1886, dan The Witcher 3: Wild Hunt. GTA V, ya meskipun bagus untuk ukuran in-game world sebesar itu, aslinya untuk ukuran Current Gen Console Game termutakhir, cuman terletak di above average. Bahkan, GTA IV di beberapa aspek terlihat lebih realistis dibandingkan dengan GTA V. 

Salah satu game favorit gue, Just Cause 2 adalah wujud sesungguhnya dari game tembak-tembakan versi gila-gilaan. Meskipun latar yang dibawakan bertemakan modern dibandingkan futuristic atau sci-fi, banyak hal yang jelas gak bisa dilakukan di dunia modern di-showcase di Just Cause. Third Person Shooter action yang seru, Grappling Hook gameplay yang jauh di atas menyenangkan, SFX yang jelas gak tanggung-tanggung, dan in-game world yang saingan gedenya sama Skyrim. Lalu apa yang membuat Skyrim berada di bawah Just Cause 2, mantan GTA clone (jelas sekarang gak lagi, berkat adanya Grappling Hook dan Parachute itu) ini? Mulai aja dari pembawaan in-game world masing-masing. Skyrim, sedalem-dalemnya game itu, warna yang dibawakan cenderung one-tone, sehingga cenderung pula ke gak eye-catching. Just Cause 2, di sisi lain, berwarna-warni. Latar Just Cause 2, Panau, tidak hanya besar, tapi juga bervariasi. Meskipun Panau didominasi oleh perhutanan, ada juga padang gurun, pegunungan, dan perkotaan. Hal ini membuat Just Cause yang dari sononya terlihat indah malah menyentuh menakjubkan. Istilahnya, Just Cause 2 menyenangkan tidak dalam bidang action doang, tapi Panau-nya Just Cause 2 itu sendiri adalah pemuasan yang tidak tersaingi di game lain. 
Grappling Hook dan Parachute juga mengubah cara main Just Cause 2, dan ini juga membedakan Just Cause 2 dari game Open World lainnya. Yang mana game action macam GTA dan Saints Row menggarisbawahi action yang mengutamakan accuracy dan power, Just Cause 2 lebih mengutamakan maneuverability. Grappling Hook ultra-bagus buat ngehindar dan ngelawan, sedangkan Parachute bagus buat nge-cover jarak jauh. Dengan dua combo ini dipakai secara efektif, Rico Rodriguez (begitulah jeneng tokoh utamanya) nyaris tidak bisa disentuh. Belum lagi kalo si doi kayak monyet, loncat sana loncat sini terjun sana terjun sini. Stunts yang diperlihatkan di Just Cause 2 juga mengagumkan, dan karena terkesan ngayal, itulah yang bikin stunts di Just Cause 2 gege. Pokoknya, kalo udah ngajak berantem militer Panau, di saat itulah mulai keseruan sesungguhnya dari Just Cause 2. Just remember not to die!
Alasan Just Cause 2 gak seterkenal Saints Row atau GTA adalah hal-hal kecil yang terkadang terbilang agak mengganggu. Mulai aja dari si Rico yang secara keseluruhan game, pake baju itu-itu terus. Keren sih keren iya, tapi orang kan bisa bosen juga. NO CUSTOMIZATION. Upgrade juga sebatas senjata, kendaraan, dan armor doang. Dan harus gue akuin, nyetir di Just Cause 2 asyik kecuali nyetir yang sesungguhnya. Yep, nyetir mobil. Mobil rada susah dikendaliin. Entah gimana ceritanya, mobil sekali sundul bisa langsung melayang, salto, guling-guling, dan akhirnya meledak. Menyeramkan, memang. Soal cerita game yang dangkal, isu Just Cause 2 yang digembor-gemborkan, rasanya wajar. Jelas para pemain Just Cause 2 main, kan, bukan buat ceritanya! Drama, emosi, dan plot twist yang berlebihan dalam Just Cause 2 menurut gue bakal melonggarkan keasyikan dalam Just Cause 2. Emang, sekali-kali, para pemain butuh sesuatu yang nyata untuk dilakukan (baca: misi) biar gak semua action tidak terarah dan berantakkan. Tapi pada akhirnya, setelah semua misi selesai, kembali lagi ke akarnya: Pure Chaos. 
Terakhir adalah Saints Row 2. Mungkin Saints Row 4 adalah game paling dikenal dari serial Saints Row (mungkin), tapi Saints Row 2 adalah game dari serial Open-World ini yang mebuatnya dibanding-bandingkan dengan GTA. Bahkan, ada yang mengatakan, SR 2 lebih bagus dari GTA 4. Mungkin gue salah satunya. Alasannya juga cukup solid, sih. Sebelum SR bener-bener gila dan mulai di luar masuk akal di SR 3, SR 2 sebenernya udah menunjukkan sinyalir tersebut. Ada aja unsur kegilaan dalam game ini, meskipun gak sebanding dengan SR 3. Character creation yang dalem (bahkan suara tokoh utama kita bisa kita ubah), customization option yang ultra-sinting, dan overall action gameplay yang baik. Customization, gak kayak di GTA, bisa nyampe ke pergelangan tangan, kalung, topi, dan sepatu sampe ke kaos kakinya. Baju? Bisa sampe tiga lapis, dan tiga lapis baju pun bisa kita kreasikan juga. Intinya, murni ada di tangan kita untuk membuat gangsta jalanan sesuai dengan yang kita mau. Stillwater (latar tempat SR 2) juga memejeng banyak side mission untuk dilakukan, dan Story dari SR 2 juga terbilang memuaskan. Gang Warfare di SR 2 terlihat nyata dan kita bener-bener ngerasa sebagai kepalanya geng Saints dibandingkan jadi jongos doang. Penokohan semua tokoh dalam game terbilang hidup, bahkan si tokoh utama The Boss (no real name, actually) juga terbilang memiliki kepribadian yang nyata, gak hambar kayak tokoh utama game kebanyakkan sekarang. 
See, perbedaan mendasar SR 2 dan GTA 4 adalah tingkat keseriusan lu main masing-masing game. Dimana GTA IV lu bakal lebih sering serius, mantengin dan merhatiin cerita, di SR 2...  yah, emang ada cerita dan cerita dari SR 2 juga gak murahan, tapi SR 2 lebih ke arah main-main. Side mission yang tercecer di map Stillwater kebanyakan bertujuan buat lucu-lucuan dan ngayal-ngayalan. Mulai dari jadi pengendara ATV berapi sampe jadi polisi yang menegakkan hukum dengan cara membunuh orang yang melanggar hukum. Sambil di-shoot cameramen. Tema, dialog, dan alur dari SR 2 kadang-kadang bisa serius, tapi selain kadang-kadang itu, kita lebih sering terkikik. Emang, ini semua jauh di bawah SR 3 dan SR 4 (yang mana berdua ini ngayalnya udah mendekati tidak masuk di akal manusia), tapi SR 2 sebenernya lebih berorientasi ke fun daripada GTA 4. Bahkan di saat serius pun, SR 2 masih bisa membawakan gaya gameplay yang menarik. 
Mungkin, masalah terletak cuman di visual. Maklum juga sih, grafik tahun 2008, tapi bahkan untuk saat itu aja, sebenernya grafik SR 2 terletak di batasan "biasa-biasa aja". Tarohlah grafiknya di setting-an LOW, maka rasanya kayak lagi maen PS2, atau mungkin adeknya, PS1. Character model dari game juga sebenernya gak terlalu bagus, karena pertama-tama, jelas gak mirip sama manusia. Belum lagi dunia game yang rawan kena bugs and glitches. Seringnya sih, di kasus gue, nyetir mobil, nyungsep ke pinggir jalan, dan nyangkut. That said, SR 2 mereka bilang ada game SR terakhir yang paling mirip sama franchise GTA. Tapi, SR 2 sebenernya juga gak se-copas itu sama GTA. SR 2 menurut gue adalah game dimana disinyalir transisi franchise SR dari cerita serius, in-game world realistis, dan tema yang masuk akal ke, well... SR yang membuang semua kewarasan dan bener-bener memisahkan diri dari kerealistisan GTA. Hal yang bagus, meskipun banyak orang yang menentang kebijakan ini. Tetep aja, SR 2 masih game serial SR yang terbaik, tapi emang udah saatnya franchise SR berhenti mengekor GTA dan mulai mencari identitas sesungguhnya: Pure Craziness. 

That said, ini adalah 6 game open-world kesukaan gue. Ini adalah list Top Tiers pertama gue, dan gue pastiin shortlist Top Tiers selanjutnya bakal ada peningkatan. 

Until the next post, bungs! :D



   




  





Monday, May 18, 2015

THIS IS NOT A REVIEW: Avengers: Age of Ultron

Starring:  - Chris Evans (Snowpiercer, Fantastic Four, Captain America) as Captain America/Steve Rogers
searah jarum jam: Quicksilver, Scarlet Witch,
Thor, Captain America, Iron Man, Hulk, 
Black Widow, Hawkeye, Nick Fury, dan _____ (nonton wes..)
- Robert Downey Jr. (Sherlock Holmes, Iron Man, The Judge) as Iron Man/Tony Stark
-          Chris Hemsworth (Thor, Snow White and the Huntsman, Rush) as Thor
-          Scarlett Johansson (Her, Under the Skin, Lucy) as Black Widow/Natasha Romanoff
-          Jeremy Renner (The Bourne Legacy, Mission Impossible: Ghost Protocol) as Hawkeye/Clint Barton
-          Mark Ruffalo (Begin Again, Now You See Me) as Hulk/Dr. Bruce Banner
-          Aaron Taylor Johnson (Kick-Ass, Godzilla) as Quicksilver/Pietro Maximoff
-          Elizabeth Olsen (Godzilla) as Scarlet Witch/Wanda Maximoff
-          James Spader as Ultraman Ultron
-          Samuel L. Jackson (Pulp Fiction, Kingsman: The Secret Service, Django Unchained) as Nick Fury
Budget: $ 279,9 juta
Box Office (per 17 Mei 2015): $ 1 milyar
Lama: 2 jam 21 menit
Genre: Superhero action
Rotten Tomatoes: 74%
FOR THE FIRST TIME IN FOREEVEEEER.. gue mereview film. Tenang para candu penggemar game, gue bakal ngereview game, mungkin setelah wara-wiri review yang satu ini. Setelah 3 tahun masa penantian akan film Avenger yang berikutnya, akhirnya Avengers yang selanjutnya keluar! Jelas, selama tiga tahun itu kita disuguhkan film-film tentang para Avenger pasca perang heboh yang terjadi di New York di Avengers yang pertama (Iron Man 3, Thor: The Dark World, Captain America: The Winter Soldier). Tapi ayolah, kita pasti ngidemin Captain America, Huluk Hulk, Setrikaan Iron Man, MoThor, dan kawan-kawan mejeng di layar lebar bareng-bareng lagi, kan! Belom lagi ada tokoh-tokoh tambahan lainnya yang bikin film-bikin-ngiler ini tambah bikin ngiler.
Bagaimanapun..
Film yang sukses menghasilkan sequel. Tapi apakah sequel selalu sukses? Bisa mengikuti kemantapan film yang mendahuluinya? Atau malah menjadi penurunan, karena para sineas hanya mengeksploitasi keinginan penonton akan sequel, sehingga modal muka gak modal badan?
Apakah Age of Ultron terjangkit penyakit berbahaya itu?

 Avengers Assemble!
Semua orang, oke bukan semua orang, tapi semua penggemar film superhero mengincar satu hal dalam film bejibun macam beginian. Chemistry. Maksudnya asik tidaknya interaksi antar superhero dalam film. Apakah enak, ringan, dan lucu untuk ditonton, atau canggung dan terkesan nggak niat  ketemu.

Dan film apalagi yang lebih cocok selain film dimana bisa ada Iron Man, Captain America, Thor, Hulk, Black Widow, dan Hawkeye secara bersamaan?

Menurut gue sendiri sih, chemistry itu selalu ada. Tapi apakah chemistry itu jelas, atau buram sehingga penonton jadi lebih pingin liat dialog daripada action, atau transparan sehingga penonton lebih pingin action daripada dialog.\

Masalah di sini bukan terletak pada chemistry, karena, untungnya, para actor berhasil membawa interaksi yang asik dari Avengers ke Avengers: Age of Ultron. Setiap percakapan asik untuk didengar diantara action-action yang berterbangan dalam film ini. Para Avengers yang galau menghadapi si perangkat lunak jahat Ultron mengeluarkan isi hati mereka (ngelantur ya?) dengan ekspresif dalam film ini. Terutama pembawaan Mark Ruffalo terhadap si Hulk Bruce Banner. Berbeda dengan kesan ‘troubled’ yang dibawakan Eric Bana di Hulk, atau kesan ‘desperate’ yang dibawakan Edward Norton di The Incredible Hulk. Disini Bruce Banner digambarkan sebagai ilmuwan ultra cerdas, yang untungnya sesuai dengan komiknya, punya otak encer dan terlihat sebagai salah satu anggota Avengers yang tercerdas bersama Tony Stark.

Trus, apakah itu saja peran Bruce Banner dalam film kedua ini?

Anehnya, dia punya hubungan, selain hubungan netral-netral-baik dengan anggota Avengers lainnya dan macam-dua-anak-paralel-SMA dengan Tony Stark. Cuman berdua yang ngerti lagi ngomongin apa. But wait! Ada satu lagi, dan jujur, gue kaget waktu liat beginian.

Hulk dan Black Widow.

Yep. Bukan typo diatas saudara-saudara, Hulk memang (untungnya belum menyatakan cinta) memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Black Widow daripada Avengers lainnya. Mungkin emang kentara sih, di Avengers pertama (ingat:  Black Widow merekrut Banner di India dan meloloskan diri dari amukan Hulk di Helicarrier). Bagaimanapun, tidak ada yang akan mengira akan dibawa lebih lanjut di Avengers yang selanjutnya! Termasuk gue.

Lucu ya, padahal sejak Winter Soldier, kita mengira Black Widow lebih kepada Captain America. Ato di Avengers yang pertama, lebih ke Hawkeye. Akhir-akhirnya, malah nyasar sama si Buto Ijio.

Ini fresh, harus gue akuin, tapi sayangnya, adalah chemistry yang paling canggung dalam film.

Where do I even begin?

Di Winter Soldier, kelihatannya Black Widow punya chemistry dengan Captain America (spoiler!). Belum lagi di The Avengers, Black Widow kentara banget punya hubungan yang special di masa lampau dengan Hawkeye. Tapi Huluk?

Mungkin tujuannya baik. Semacam menunjukkan bahwa Hulk sebagai lambang otot Avengers bertemu dengan Black Widow yang lambang lincah Avengers. Jelas dua-duanya gak ada miripnya sama sekali. Hulk yang andelannya adalah makin-dongkol-makin-keker dan anggota Avengers yang paling mengintimidasi secara fisik ketemu sama Black Widow yang paling kecil, superpower juga sebenernya gak punya, tapi dia sangat lincah. Versi simple kalo gk ngerti sama nyerocos di atas: Yin ketemu Yang. Malam bertemu Siang. Hitam bertemu Putih. 180 derajat bedanya.

Mungkin tujuannya buat mengagetkan penonton dan membuktikan bahwa Hulk sebenernya bisa punya hubungan dekat dengan seseorang (selain Betty Ross yang terlihat di Hulk dan The Incredible Hullk), yang mana tidak terganggu dengan alter ego raksasanya.

Gue gak bilang chemistry keduanya canggung secanggung-canggungnya semua chemistry Bella Swann dan Edward Cullen (maap fan Twilight, tapi saya yakin di novel mereka saling PDKT gak kayak gitu). Hanya saja, dibandingkan dengan chemisty antar Avenger lainnya yang fun(ny), smooth, dan natural, kelihatannya si Black Widow dan Hulk ini adalah screen combo yang tidak relevan. 


The Lion Rogue AI , The Witch, and the Wardrobe Fast Dude
There are no strings in me. -Ultron
Oke, jadi selain orang-orang yang terlalu familier dengan kita semua di The Avengers, ada tiga tokoh yang digembor-gemborkan oleh trailer-trailer Age of Ultron ini.

First adalah Ultron. Astaga, idiot satu ini aja namanya bisa ada di judul film. Jelas, dia punya peran yang terlalu kentara vitalnya dalam film: antagonis utama. Ultron, menurut film, sebenarnya adalah AI yang ditemukan dalam Infinity Stone yang terkubur dalam tongkat ajaib yang digunakan Loki di The Avengers. Ultron terjadi karena ngidenya Tony Stark, sebenernya. Stark merasa AI (sorry gue belum jelasin, yaitu Artificial Intelligence, semacam otak computer) dalam Infinity Stone dapat membantu Avengers dalam melaksanakan misi mereka menjaga keamanan dunia. 

AI ini kalo dimasukkin dalam Iron Legion (ya pasukkan robot punya Tony Stark)

But wait!
Ternyata ada yang lebih ngide lebih Tony Stark. Ya Ultron itu sendiri. Tony (dengan bantuan Bruce Banner) berhasil mengintregasikan (Bahasa terlalu tinggi disini, memasukkan aja lebih simple) Ultron ke dalam Iron Legion Tony Stark. Ternyata, Ultron sebenernya memang mau menjaga keamanan dunia. 

Dengan cara memusnahkan manusia dan menggantikan umat manusia dengan robot.

Dan Ulltron sebagai sebuah AI bisa bergerak dalam jaringan internet dunia, sehingga menghancurkan satu robot Ultron JELAS tidak akan mematikan Ultron, karena Ultron (patut diingat) bukanlah robot, tapi sebuah sistem. Semacam OS yang punya pikiran sendiri. Semacam sebuah jiwa digital. Sehingga Ultron selalu mampu mencari tubuh robotic baru untuk dimasuki dan dikuasai dengan cara merasuki sistemnya. Yang mana untungnya gak ada satupun Avengers yang berupa robot.

Dan lu kira, dengan kekerenan Ultron sebagai robot kandidat kuat dalam Who Wants to be the Millionaire Destroyer of the World, dia adalah robot dengan kepribadian dingin, bengis, dan kejam. Layaknya Darth Vader (ya ini bukan robot, tapi intinya sama lah), atau T-1000.

Ultron sebenernya adalah Tony Stark. Astaga, bukan berarti Tony Stark adalah penjahat yang selama ini mestinya Avengers bunuh, tapi Ultron adalah cermin gelap dari Tony Stark itu sendiri. Secara kebiasaan, Ultron sering melemparkan kata-kata mutiara yang penuh dengan sarkasme, tapi di sisi lain, mengintimidasi lawannya. Semacam merendahkan. Ultron tidak sepenuhnya kejam dalam artian yang cliché se-cliché-cliché-nya, karena dia kejahatan yang dia lakukan di layar lebar minimal tidak membuat dia sangat kaku. Lebih fleksibel, karena disertai dengan dialognya yang luwes. 
You seriously did not see that coming? -Quicksilver

Next is Pietro Maximoff, also known as Quicksilver. Versi simple dari si rambut putih ini: Flash versi Marvel, untuk menyaingi si Flash itu sendiri. Versi complicated dari si rese’ ini: kembaran dari Wanda Maximoff, si Scarlet Witch (kita kesono entar, sabar aja). Ya jelas dengan kecepatan macam begitua siapa yang gak nyangka kalo dia itu juga punya fast mouth, atau disebut dengan keresean-hingga-bikin-kita-pingin-bogem-muka-dia-tapi-gak-bisa-karena-kita-nyentuh-dia-aja-udah-setengah-mati. Pendapat gue, Quicksilver jarang menunjukkan kutub moralnya dalam film. Lebih sering berperan sebagai bodyguard Wanda, kembarannya.


Bagaimanapun, dibalik dialog Quicksilver yang tidak terhitung banyak dalam film, dia, seperti yang gue utarain di atas, rese’. Iya, dia dalam prinsip lebih banyak ngikutin si Wanda ini, tapi kalo udah di medan peperangan dalam layar lebar, Avengers mau nangkep dia udah kayak gue mau nangkep lalet. Astaga, kalo dilanjutin bisa gila sendiri. Terutama dengan quote yang mungkin secara tutur kata agak cliché tapi kalo dipikir-pikir lagi, ada unsur catchy-nya juga: “You seriously did not see that coming?” Ya gak lah *******, ****, lu kira gue Neo, yang peluru aja bisa dia liat?
He's fast, and she's weird. -Maria Hill

Dan bagaimana dengan si cewek yang jadi jubir merangkap Uya Kuya-nya si Kembar Maximoff, Wanda? 

Buat yang belum ngerti apa yang gue maksud dengan Uya Kuya, Scarlet Witch selain bisa menembakkan semacam-energi-berwarna-merah, dia bisa melakukan mengutak-atik pikiran lawannya. Gak mengendalikan secara langsung, tapi berguna juga, toh? Beda sih sama Uya Kuya, tapi sama-sama (?) mengandung unsur hypnosis.

Buat yang belum ngerti siapa Uya Kuya itu sebenernya, cek di SCTV. Kalo masih ada.

Yep, Scarlet Witch berperan sebagai sisi yang empuk dari kembar Maximoff, karena pertama, dia adalah kaum hawa, dan yang kedua, dia gak punya kekuatan fisik yang sesungguhnya. Ya ibaratnya nenek sihir kalo kita ilangin kekuatan sihirnya bisa apa?
Mungkin karena keempukannya ini, si Pietro itu sering melindungi dia dari berbagai ancaman. Gara-gara bond yang sangat kuat antara Pietro dan Wanda, keduanya kompak banget. Udah kayak tag team partner, atau pengendara sepeda tandem. Kalo perlu, buat tim superhero sendiri, terdiri atas dua orang. Scarlet Witch, menurut gue, lebih sering maju kalo udah melibatkan ngomong-ngomong, mewakili Pietro juga.

Lain dengan Quicksilver yang pede banget dengan hyperspeed yang dia milikin, Wanda, meskipun tidak ragu dengan kekuatannya, lebih tertutup. Kalo udah gak sama Quicksilver, dia kadang-kadang bisa terbebani, atau bahkan nervous, mungkin karena dia adalah target paling empuk dari kembar Maximoff. Kadang butuh jumpstart, seringnya dari Pietro sendiri.

Intinya, berdua ini udah saling melengkapi. Quicksilver lebih kearah fisik, sedangkan Wanda lebih kea rah strategi.

Bagaimanapun, kaget juga sama logat Eropa Timur yang mereka gunakan dalam film. Ayolah, Aaron Taylor Johnson dan Elizabeth Olsen jelas bukan orang Polandia, toh?

Things! Excitement! (as quoted from CinemaSins presents Captain America: The First Avenger)

Check out channel diatas! Sesuai dengan namanya, CinemaSins menganalisis sebuah film, adegan demi adegan, take demi take, dan menguraikan kesalahan dari sudut manapun,, baik logika maupun moral. Orang-orang ini sangat tajam, pedes, dan sadis dalam penilaian mereka sampean kritikan mereka bisa kedengeran lucu. Ayolah, film macam The Avengers dapet 100-an dosa dan film macam The Last Airbender (sebuah kekecewaan bagi penggemar A’ang) dapet 3 juta-an dosa.

Dann, ngapain gue endorse channel Youtube di sini?

Yah bagaimanapun, action jelas adalah salah satu unsur paling ngejreng di film superhero, terutama si Age of Ultron ini. Ya penonton gak bakal tau seberapa gege kekuatan superhero-nya kalo gak ditunjukin, kan? Dan ajang apa lagi buat nunjukin kekuatan superhero kalo bukan melalui adegan ACTION?

Kita bisa lihat dari trailer-trailer yang bertebaran di internet, adegan seru bakal membanjiri film ini. Quinjet Avenger berterbangan, Captain America lawan Ultron di atas truk pickup, para anggota Avengers gebuk-gebukan greget sama anak-anak robotnya Ultron, dan jelas yang paling kentara adalah Hulkbuster-nya Iron Man adu bogem sama Hulk. Lagian, Hulkbuster dibuat mahal-mahal kalo gak dipake mubazir, kan?

Faktanya, kita baru lima menit in-movie, itu udah adegan action. Para Avenger menyerbu kastil milik HYDRA di Sokovia, Eropa Timur, untuk melindas kekuatan HYDRA yang terpusat di sana dan mengambil Tongkat Loki yang ceritanya dicolong sama HYDRA sejak Captain America: Winter Soldier. Itu action, sebagai perwakilan dari banyaknya action rame-rame di film ini, menyatakan satu hal: nampaknya layar gak cukup buat nampung lagak-lagak para Avengers.

Percaya waktu gue bilang, gak semua anggota Avengers dapet waktu tampil yang cukup. Dikarenakan saking banyak dan saking ramenya mereka, mereka ngemis lama mejeng dalam film udah setara mereka ngemis sembako pas lagi krismon. Semacam berebutan gitu. Dan pada akhirnya kawanku, yang gak kebagian adegan adalah Avenger yang kurang terkenal macam Hawkeye dan Black Widow. Makanya peran mereka dalam film diperdalam. Black Widow dibikinin chemistry sama si Huluk, sedangkan Hawkeye rada didongkrak perannya dalam tim. Gak cuman jadi tukang lempar panah doang, tapi jadi anggota Avengers yang bisa diandalkan, dibalik ketiadaan kekuatan superhero yang dia miliki.

 Bagaimana dengan mereka-mereka yang selalu kebagian waktu mejeng dalam film? Thor, Hulk, Iron Man, dan Captain America? Lagi-lagi, Iron Man dipantengin lagi skill edannya, makin gege karena dalam Iron Man sendiri, Tony Stark menemukan lawan yang cocok dalam Ultron, sehingga edan menjadi UEDAN! Dia jadi macam fighter jet yang bisa ngomong dan bisa nonjok. Captain America ditunjukin lagi kekuatannya yang notabene diatas manusia rata-rata, tapi jelas dia bukan yang paling kuat dalam tim. Gara-gara begininan, adegan on-screennya lebih sering dipakai buat karismanya yang bisa memimpin Avengers dalam aksi di lapangan. Lain ceritanya dengan perisainya, jadi kita lebih sering liat atraksi pro Frisbee yang kita semua udah familier.

Hulk, si the madder the better, menurut saya, gak banyak perubahan drastis. Kita semua tahu kalo Hulk itu astaga kuatnya kalo kelewat dongkol. Berdasarkan pengetahuan dasar ini, film ini mengusahakan menaruh adegan Hulk marah di adegan action yang memiliki scope setting yang luas, seperti perkotaan, atau ya kastil HYDRA itu. Makin luas, makin mantep juga efek samping dari kekuatan Hulk ini. SFX nampaknya tidak mengecewakan, gue jadi melongo betapa what-the-hell-nya kehancuran yang disebabkan oleh Hulk. Thor tampaknya gak butuh banyak penjelasan. Gak banyak yang bisa dijelasin selain kekuatannya sebagai seorang dewa petir, palu DotA 2-nya, dan kekuatannya buat manggil listrik. Palu-nya lebih digarisbawahi di film ini, dan juga kekuatannya buat manggil petir. Guna banget, dua-duanya. Meskipun palu-nya lebih menarik untuk dilihat, karena digunakan bukan dalam adegan action doang.

[POTENTIAL SPOILER DETECTED! KEEP OFF IF U DON’T WANT ANY SPOILERS!]

Paling terakhir, sebelum masuk ke plus-minus, adalah finale dari film ini. Kita semua udah dibakar adrenalinnya selama film, dan ketika udah seepik-epiknya setting yang disuguhkan untuk finale dari film ini, apa yang kita dapat?

Semacam nge-chas batere hape yang bocor.

Yep, selama lajur film, kita udah disiapkan secara mental untuk epic finale yang dahsyat, yang bakal menunjukkan clash of the titans antara Avengers vs Ultron beserta robot-robotnya. Kayak nge-chas batere, yang waktu udah penuh, kita bakal abisin batere-nya sampe kita puas. Tapi bagaimana kalo udah sepenuh-penuhnya batere yang kita kucurkan ke hape, ternyata batere hape bocor?

Ya jelas cepet habisnya, sehingga kita gak puas, toh?

Begitulah finale dari Age of Ultron. Serasa cepet banget. Adegan yang kita udah tungguin, yaitu adegan epic fight antara Avengers dan robot-robot Ultron, malahan gak ada lima menit, mungkin. Abis itu robot-robot rasanya udah abis, para Avengers pencar buat ngamanin para penduduk kota tempat mereka tarung abis-abisan, trus ya udah, segitu tok.

Yang kita tunggu, adu kekuatan Avenger siapa aja kek (atau kalo perlu, semua Avenger sekalian) lawan Ultron, malahan lebih singkat lagi. Ya kalo kelamaan juga gak bagus, tapi apa salah (meskipun susah juga) dari memberikan final showdown yang singkat tapi padat? Ini rasanya Ultron setelah robot-robotnya dihancurkan, dia kayak udah gak niat tarung lagi. Ibarat kalo main Tekken, trus udah kalah satu round, ya itu stick dilempar dan lu langsung cabut dari tempat duduk pewe lu. Atau kalo main FIFA 15, trus udah 2-0 (lu yang 0), lu langsung gak niat main, malahan jadi 10-0 karena lu secara sengaja malahan gol bunuh diri sebanyak 8 kali. Soalnya, sekalian aja, toh?

Ahh, sayang sekali. Minimal menurut saya.     

[SPOILER ENDS HERE, SCROLL DOWN BELOW THIS TEXT IF AVOIDING SPOILERS]

NILAI: 85/100

(+)-Things! Excitement!
-            Good chemistry antar anggota Avengers kembali.
-            Adanya kompensasi buat anggota Avengers yang gak kebagian jatah adegan.
(-)-Black Widow and Hulk. Seriously?
    -  Epic finale is not epic. 

Conclusion: Yep, mungkin semacam kena penyakit sekuel-yang-tidak-memuaskan buat Age of Ultron, tapi gak separah sekuel-sekuel yang jelek seperti banyaknnya contoh lainnya. Banyak perkembangan dan kemajuan di sana-sini, tapi sedihnya, unsur-unsur yang penonton suka dari The Avengers malah, macam, *poof!* Hilang. Anyways, a great movie overall, but overshadowed by the first Avengers. 

P.S. Infinity War be nice please..

Until the next post, bungs!

SEE YA LATER SPACE COWBOY: Sebuah Update (lagi).

Hey, you. You're finally awake! You're trying to find a new post on this blog, right? Then found nothing, just like the rest of us ...