Tuesday, January 31, 2017

THIS IS A REVIEW: 2k16 pt.2

Bienvenue la part 2! 


Udah gece, cepetan kita kelarin yang satu ini, gue dikejer deadline soalnya. 

Deadline deadline kek gue dapet duit aja dari ginian. 

Hey, one man can hope, right? 

Eh, kenapa gue ngelantur, ya? 

Udeh, cepetan mulai! 

Iye, iye... 

Ultimate Zero to Hero 

Mungkin gue bisa berargumen kalo tahun lalu adalah salah satu tahun yang agak 'pahit' buat dunia sepak bola. Seperti yang gue bahas di part sebelumnya, kita kedapetan insiden pesawat Chapecoense yang menewaskan segenap tim klub tersebut, trus ada meninggalnya salah satu maestro sepak bola Johan Cruyff

Belom lagi taon lalu lebih kelam lagi buat tim sepakbola kesayangan gue, Chelsea FC.

*kek nya gue bisa denger amarah pembaca gue yang kira gue dukung Madrid ato Barca* 

Seriusan, Chelsea mengalami musim terburuk mereka dalam 10 tahun terakhir. Lebih, mungkin. 20? Anyways, Chelsea musim lalu finis di luar 4 besar. Lebih mantep lagi, mereka sebenernya finis peringkat 10. Padahal, musim sebelumnya, mereka baru juara Liga Inggris. Khilaf macam apa ini? Semua ini gara-gara si Jose Mourinho, BEGITU KHILAF, DIPECAT, LANGSUNG MEMBELOT KE MANCHESTER UNITED, DASAR BA-- 

Ehm.  

Trus, kalo Chelsea gak dapet gelar juara Liga Inggris, siapa?

Manchester United? 

Tidak. 

Tetangganya? 

Nggak. 

Liverpool? 

Nope

Arsenal? 

No. 

Oh, gue tau. 

Spurs?

Sayangnya, gak juga. 


Leicester City. 


Eng ing eng. 

Leicester City, yang musim sebelumnya pontang-panting keluar dari zona degradasi? 

Yep, Leicester City yang itu. 

Pas gue denger Chelsea lagi terpuruk, dengan kekalahan demi kekalahan yang bahkan at one point hampir bikin Chelsea masuk zona degradasi, gue kaget pas denger siapa yang lagi bertengger di puncak klasemen Liga Inggris. Ya itu, sebuah tim kecil dari kota Leicester tadi.  

Mendadak, pemain-pemain Leicester diarak bak superstar sepakbola sepanjang musim tersebut. Gak semua pemain Leicester kecipratan popularitas setinggi langit yang disanjung oleh para penggemar sepak bola, tapi sekalinya kena, dia langsung jadi inceran klub-klub besar di Eropa. Imbasnya juga nyampe ke game-game bola, di mana Leicester City dipilih kalo mau tanding lawan temen. Trust me, gue pun juga sampe milih Leicester juga, dan to be honest, Jamie Vardy lari kek setan. 

Speaking of Vardy, pemain usia 30 tahun tersebut jadi top skorer musim lalu. Yep, sebelom musim lalu, 90% pemain bola gak kenal striker dari kota Sheffield tersebut. Tiba-tiba, dia mejeng di papan top skorer liga, dan imbasnya, rating FIFA dan PES dia langsung naik drastis. 

Gue liat sendiri dia main, dan gue setuju kalo dia bukan kek setan. Mungkin dia emang setan. Terutama di depan gawang lawan. Gak perlu lari secepet Hector Bellerin, atau tembakan sekenceng Zlatan, atau mungkin dribble seluwes Messi. Vardy punya insting. Determination. Dia adalah predator, dan gawang lawan adalah mangsanya. Sekali dia dapet kesempatan, no way in hell dia bakal biarin itu lewat gitu aja. Emang seniat itu dia.  

Gak cuman Vardy, tapi koleganya Riyad Mahrez dapet kredit buat kemenangan luar biasa Leicester musim lalu. Mirip dengan Vardy, dia mendadak dapet pujian setinggi langit di saat Leicester lagi naik-naiknya. Bedanya, kontribusi dia gak sekentara Vardy, yang golnya jauh lebih banyak. Still, Mahrez juga banyak berkontribusi untuk kemenangan Leicester lewat pergerakan mematikannya di lini tengah Leicester. 

So much so, sampe dia dapet nominasi di ajang penghargaan Ballon d'Or tahun lalu. 

Berdua sama Jamie Vardy sih. 

Mereka berdua pun juga gak terhitung sebagai "mejeng" doang di Ballon d'Or, mengingat Mahrez mengumpulkan 20 poin, lebih banyak dari Gigi Hadid Buffon (8), Pierre Aubameyang (7), Zlatan Ibrahimovic (5), dan bejibun pemain top lainnya. Vardy sih ngumpulinnya lebih dikit (11), tapi masih lebih banyak dari 3 pemain contoh tadi. 

Side note: 20 poin yang dikumpulkan Mahrez gak ada apa-apanya dibandingin si model part-time Cristiano Ronaldo dengan 745 poin, but hey, it's something

Banyak pihak yang kecewa dengan juaranya Leicester. Ada yang bilang itu 'hoki' mengingat emang agak susah masuk akal kenyataan bahwa tim yang hampir degradasi musim sebelumnya langsung juara di musim selanjutnya. Ada yang sekadar kesel bukan timnya yang juara, misalnya Tottenham Hotspurs yang juga lagi bagus-bagusnya musim itu. 

Yang seneng tentu aja pendukung Leicester, tapi itu mah udah kentara, ya. 

Banyak yang seneng Leicester jadi jawara musim lalu, ada yang bilang ini adalah contoh solid sebuah tim yang hampir gak punya apa-apa bisa jadi juara melebihi tim-tim yang lebih tinggi kelasnya. Kuda item yang sesungguhnya. The underdog. The zero that became the hero.

Tapi seriusan, ini kelas 'kuda item'-nya udah jauh lebih ekstrim.

Kuda item yang wajar di liga Inggris adalah tim-tim macam, sekali lagi, Tottenham Hotspurs. Sejatinya tim ini adalah tim bagus. Zonk-nya, tim ini selalu kalah sama tim elit sekelas MU, Manchester City, Chelsea, dan kaum-kaumnya, sehingga terhalang dari gelar jawara. 

Atau tim papan tengah yang bermain solid setiap kali tanding, tapi, sekali lagi, gak bisa ngalahin tim-tim atasnya yang punya pemain lebih bagus.  

Then again, Leicester gak masuk kedua kategori tersebut. 

Dia ini udah masuk kategori kuda item-nya kuda item.  

Get this though, Leicester bukan tim besar, tim papan tengah pun bukan, pemain-pemainnya gak ada yang terkenal apalagi ketauan bagus, ditambah lagi dengan reputasi yang gak terlalu enak diliat. Kuda item yang sempurna, seakan-akan gak punya redeeming value. Mungkin ada sikit-sikit dalam bentuk pelatih Claudio Ranieri, yang pernah menukangi Chelsea dulu. Udah. Itu doang.  



But that just made the victory that much, much more sweet, didn't it?    

Pendapat gue tentang situasi yang satu ini? 

Bagian pendukung Chelsea gue seneng gara-gara rival-rival berat Chelsea gak jadi juara gegara gelar tersebut udah dicolong sama tim antah-berantah. Dengan kata lain, kalo misalnya gue gak juara, lo pada juga gak boleh juara. Toh ngapain gue kecewa, posisi Chelsea udah terlalu bontot buat dikecewain sama hasil-hasil pertandingan Leicester.

Bagian gue yang lainnya? 

Gue seneng gara-gara Leicester berhasil memecahkan stigma sepakbola modern. 

Jaman sekarang, tim dengan dompet tertebel menang. 

Leicester gak punya dompet. 

And yet, dia menang.

Leicester adalah contoh nyata bahwa 

football is not about money

It's about passion

  
Battlefield Won 

Rivalitas. 

Jaman sekarang, gak ada bidang yang gak punya semacam unsur rivalitas di dalamnya. 

Sebut aja satu bidang yang ada di dunia modern sekarang, pasti ada aja pihak-pihak yang saling bertempur dan bersaing agar bisa mendapatkan semacam keunggulan dibanding dengan yang lawannya. 
Lionel Messi vs Cristiano Ronaldo,
contoh rivalitas yang lain. 

Contoh? Simpel. 

Sepak bola--> Real Madrid v FC Barcelona. 

Smartphone--> Apple vs Samsung. 

Social Media--> Facebook v Twitter v Instagram v Path v (taro nama sosmed yang lo tau).

Trus, apa hubungannya dengan, ehm, event yang bakal gue bahas sekarang. 

Kita beralih ke bidang yang gue familier dan gue suka. Gaming

Lebih tepatnya, kita merujuk ke sebuah genre




First Person Shooter. 


Actually, ini adalah salah satu bidang yang gue pernah bahas dulu, gue pernah post tentang bidang beginian, kalo belom liat ya silakan diliat--

oke, gue malah nge-endorse diri gue sendiri. 

Banyak juga sih game genre FPS yang saling bersaing, tapi belakangan ini orang lebih banyak ngebahas dua game in particular




Call of Duty v Battlefield. 



Pas mereka mulai terkenal sih, mereka berdua gak jauh beda. 

Sama-sama game tembak-tembakan (you don't say), sama-sama membawa sudut pandang yang lebih grounded dan realistis terhadap genre tersebut (gak kek DOOM yang nyasar sampe ke Mars), dan keduanya dimulai pada awal 2000-an. 

But, lama-kelamaan, keduanya mulai melenceng jauh dan makin berbeda satu dengan yang lain. 

Call of Duty mulai ngayal dan setting-nya pun mulai kemana-mana. Dimulai dari tahun Call of Duty: Black Ops 2 (2012), Call of Duty udah nyasar ke latar waktu masa depan yang kita gak pernah tau dan yakin bakal terjadi. Serba futuristik dengan gimmick macam granat yang mencari dan mengincar musuh, exosuit ala-ala game Halo, dan tentu aja, robot-robot tempur. 

Battlefield on the other hand jauh lebih membumi dengan setting yang lebih realistis. Dari banyaknya game Battlefield selama 7 tahun terakhir, nampaknya loncatan waktu mereka gak lebih jauh dari, ya, keadaan militer kita sekarang. Boro-boro pake robot tempur, pake drone aja gak sesering Call of Duty. 

Terakhir pertempuran mereka sebelom 2016 adalah tahun sebelumnya, 2015. Battlefield punya Battlefield Hardline yang punya arah dan tema baru yaitu perang-perangan di jalanan alias polisi lawan maling. Di kubu Call of Duty adalah Call of Duty: Black Ops 3 yang semacam ngelanjutin tradisi futuristis dari Call of Duty: Black Ops 2. 

Taon itu nampaknya berakhir sama kuat terhadap kedua franchise game dengan keduanya mendapatkan reaksi yang hangat namun gak panas dari penggemarnya masing-masing. 

Taon ini? 

2 Mei 2016, pihak Call of Duty mengumumkan game terbaru mereka, 




Call of Duty: Infinite Warfare


Game tersebut, you guessed it, punya nuansa futuristis yang sama dengan Black Ops 3. Mungkin sedikitnya perbedaan terdapat pada skala Infinite Warfare yang hampir, ehm, infinite dengan latar tempat yang udah nyasar sampe ke luar angkasa. Yep, mereka perang di luar angkasa sekarang. Mengingatkan lo pada sesuatu? *ehm Halo ehm* 

Gimana reaksi orang-orang? 

As of now, game tersebut udah dapet 567 ribu lebih likes, likes terbanyak yang pernah didapetin oleh sebuah trailer Call of Duty sepanjang sejarah. 

Eh, kenapa gue gak sebutin dislikes-nya? 

3 juta.

Sebagai perbandingan, video YouTube yang paling banyak di-dislike adalah Baby-nya Justin Bieber dengan 7 juta dislikes.  

Kedua terbanyak dislikes

You guessed it

Call of Duty: Infinite Warfare Reveal Trailer

Yep, somehow, trailer tersebut sukses menjadi video dengan dislike terbanyak kedua di YouTube bahkan berhasil menyalip Friday-nya Rebecca Black yang notabene menurut gue merupakan salah satu lagu ter-ngehe sepanjang sejagat. 

Fun fact: gue tau pertama kali tentang keberadaan game ini 12 jam setelah trailer tersebut dirilis ke YouTube. Ketika gue buka videonya, hal pertama yang nangkep perhatian gue adalah kenyataan bahwa likes dan dislikes dari video tersebut udah balepan dengan rasio 17 ribu likes dan 16 ribu dislikes. Yep, belom ada sehari video tersebut keluar, video tersebut udah kebanjiran dislike. Ah well, at least gak lebih cepet dari video-video yang di-upload YoungLex. 

4 hari kemudian, Battlefield pun mengeluarkan senjata termutakhir mereka. 




Battlefield 1


Jangan ketipu sama judulnya, ini bukan semacam reboot atau mereka langsung mengulang lagi franchise mereka dari awal. Nope, bukan itu. 

Instead, Battlefield 1 punya latar tempat dan waktu yang bener-bener gak terduga. 

Perang Dunia I. 

Ketika trailer tersebut keluar, dunia internet pun langsung meledak. 

Gue harus mulai dari mana, ya? 

Ketika trailer tersebut keluar, bertebaran komentar di video tersebut berbunyi semacam 'RIP Call of Duty' dan pernyataan senada semacam 'Battlefield >>> Call of Duty'. Netizen seluruh dunia udah semacam merayakan kemenangan Battlefield yang terlihat mutlak atas Call of Duty. 

Gak berhenti di situ, beredaran pula meme video trailer Battlefield 1 dibandingkan dengan Call of Duty. Ada yang-- ah sudahlah, gue gak bisa ngejelasin, jauh lebih gampang kalo diliat sendiri. Bukan cuman dibandingin dengan Call of Duty, trailer berlatar lagu Seven Nation Army tersebut juga di mash up dengan banyak banget video lainnya. 

Gimana dengan trailer itu sendiri? 

2 juta likes

(gue salah satunya) 

Dengan likes sebanyak itu, trailer tersebut sukses menjadi trailer game dengan likes terbanyak sepanjang sejarah. 

What can I say?

Mengutip dua komentator WWE tentang Randy Orton, 




Outta nowhere! 


Sebelom bom berupa trailer tersebut dijatuhkan, gak ada yang namanya pihak DICE selaku pembuat game tersebut mengonfirmasi kalo Battlefield selanjutnya bakal berlatar di Perang Dunia I. Hell, gak ada orang yang ngira mereka bakal terjun ke dunia Perang Dunia I. Gue aja mikir sejauh-jauhnya mereka, mereka bakal ke Perang Dunia II. Ato Perang Vietnam. TAPI GAK PERANG DUNIA I. 

Ini kek salah satu peristiwa tersebut dimana 

you were given something you never knew you wanted

Padahal, sebenernya pihak Activision (pembuat serial Call of Duty) lah yang lebih sering diminta oleh fanbase-nya buat balik lagi ke masa-masa lalu seperti Perang Dunia I, bukan DICE. Fanbase yang lebih hardcore terhadap franchise tersebut udah mewanti-wanti Activision untuk rehat sejenak dari ke-ngayalan mereka tentang dunia masa depan, tema futuristik, dan latar yang surrealistis.  

Nampaknya DICE menjadi pendengar keluhan yang baik, meskipun keluhan tersebut bukan ditujukan kepada mereka. 

Sekarang, semenjak kedua game tersebut keluar, gimana nasib mereka berdua? 

Call of Duty: Infinite Warfare mengalami penurunan sales sebesar 50% dari game sebelumnya, Call of Duty: Black Ops 3. 

Perihal penjualan, belom dikeluarin pernyataan resmi mengenai selaku gimana Battlefield 1 ini sesungguhnya, tapi ada sebuah fakta yang bisa dijadiin ukuran. 

Minggu pertama game itu keluar, penjualan Battlefield 1 sendirian udah melampaui gabungan penjualan dari Battlefield 4 dan Battlefield Hardline.

Well? 

Setiap tahun, 2 franchise ini selalu saling bersaing. 

Keduanya selalu seimbang. Gak ada yang laku jauh melampaui lawannya, dikarenakan kelemahan pada masing-masing game yang menghalangi keduanya untuk mengatasi game yang lain. 

Buat tahun ini however

we all knew who won.   


For the First Time in Forever 

NGAPAIN GUE NGEBAHAS FROZEN DI SINI?

Bukan, bukan Frozen yang gue maksud di sini, melainkan-- ah sudahlah, langsung aja. 
Anton. 

Kek perlakuan gue terhadap dunia sepakbola tadi, mungkin tahun lalu bukan tahun yang bagus juga terhadap dunia perfilman. Partly gegara meninggalnya lebih dari sekadar satu-dua bintang film yang berbakat tahun ini. Carrie Fisher, Alan Rickman, dan Anton Yelchin adalah sedikit dari banyaknya orang yang meninggalkan kita tahun lalu.

Tentu aja kita punya beberapa film bagus tahun lalu untuk menghilangkan kesedihan kita-- tengok aja Rogue One: A Star Wars Story sebagai salah satu tribut untuk Fisher, atau Star Trek: Beyond sebagai salah satu peninggalan Yelchin. 

Tapi, kita di sini bukan buat itu. 

We're here for the Oscars. 

Selain film-film berkualitas tinggi, Academy Awards juga mengapresiasi orang-orang yang terlibat dalam film-film gege tersebut. Sutradara, sinematografer, musisi, dan 

aktor/aktris. 

Selama berdekade-dekade Academy Awards diadakan, banyak banget aktor berbakat yang dapet penghargaan berprestisi tinggi. Bahkan ada aktor yang langganan dapet penghargaan ini. Sebut aja aktris Meryl Streep, atau Al "Tony Montana" Pacino. Dua orang ini, anggep aja, udah keseringan dapet piala Oscar mungkin mereka udah bosen kali sekarang. 

Sayangnya (dan untungnya juga), hanya segelintir pelakon seni peran yang cukup beruntung untuk mendapatkan penghargaan ini. Jadi aktor yang luar biasa berbakat pun belom tentu jadi kunci mutlak untuk mendapatkan penghargaan ini. Jika diliat lagi, terkadang mengagetkan juga kenyataan bahwa orang-orang ini belom dapet Oscar mengingat dedikasi mereka di layar lebar. 


Dari aktor yang kita tau bagus seperti Tom Cruise (Top Gun, Mission Impossible) sampe yang legendaris sekelas Charlie Chaplin pun sebenernya belom dapet penghargaan film nomer satu di dunia tersebut. 

Then again, rasanya gak ada yang senyesek satu orang ini. 




Leonardo DiCaprio. 


Mungkin dia bisa disandingkan dengan orang-orang yang belom dapet piala Oscar tadi, tapi kisah DiCaprio mungkin yang paling nyesek. See, orang-orang yang belom dapet penghargaan tadi mungkin cuman sekali-hajar doang kedapetan nominasi atau dapet film bagus. But no

Not Leo

Entah kenapa, gue jarang nemu film jelek yang ada dia di dalamnya. 

Entah kenapa, Leo sangat magnetik dalam setiap peran yang dia dalamin. Setiap film yang mengandung unsur Leonardo DiCaprio biasanya menjadi film yang hitz keras, atau enak diliat. Semua pertunjukan yang dia pajang di film-film tersebut sangat meyakinkan. 

Tentu aja, sebenernya itu belom terlalu nyesek, seandainya film tersebut adalah film-film yang somehow luput dari mata publik dan kritikus. Film-film indie yang mungkin tempatnya bukan di bioskop, tapi di festival film macam Cannes Film Festival. 

Thing is, film-film yang ada Leo-nya, kek yang tadi gue bilang, selalu jadi terkenal. 

Imbasnya, gak sedikit nominasi berbagai penghargaan dia dapat. 

Salah satunya, ya Academy Awards. 

Berapa kali sih, dia dapet nominasi sampe dia udah tergolong nyesek? 

Gimana kalo 5 kali? 

Tren ini dimulai dari tahun 1994, ketika Leo mendapatkan nominasi Oscar pertamanya untuk perannya sebagai anak penderita penyakit mental Arnie Grape di film drama What's Eating Gilbert Grape. Mungkin, orang-orang saat itu belom terlalu mikirin gimana nasib nyesek Leo untuk selanjutnya, mengingat ini adalah nominasi pertamanya. Mungkin orang pas itu mikir, "Wew, ini baru umur 19 tahun aja udah bisa dapet nominasi, pasti dia bakal subur kedepannya." 

Loncat ke tahun 2005, Leo pun dapet nominasi lagi untuk perannya sebagai milyuner nyentrik Howard Hughes di film The Aviator. Bedanya, dia gak 'miskin' nominasi buat film ini, soalnya dia pun dinominasikan untuk penghargaan yang lain, seperti MTV Movie Awards, yang dia menangkan. Begitupun dengan nominasi ketiganya untuk film Blood Diamond tahun 2007.  
Chasing an Oscarbe like...

Tahun 2014, ketika Leo mendapatkan nominasi Academy Awards for Best Actor yang keempat kalinya untuk perannya sebagai Jordan Belfort di Wolf of Wall Street, pastinya orang-orang udah gerah. 

Give this guy an Oscar already! kata mereka. 

Pasalnya, at this point, Leo mungkin udah sukses memenangkan semua penghargaan aktor terbaik kelas elit selain piala Oscar. Semua... kecuali satu. Padahal bukan cuma sekali pula dia dapet nominasi penghargaan kelas tinggi tersebut. 

Sampai tibalah tanggal 16 Desember 2015. 

Hari dimana film dengan nama Leo di dalamnya ditayangkan untuk pertama kalinya. 




The Revenant. 


Secara gak mengagetkan, film tersebut dapet pujian dari mana-mana, dengan pujian kebanyakkan diarahkan ke sinematografi yang sangat memikat mata, pengarahan yang dianggep brilian, dan atmosfer film yang sangat tebel dan menggugah. 

Oh ya, dan tentu saja, penampilan para bintang dalam film tersebut. 

Pemeran pendukung Tom Hardy mendapatkan pujian, tapi kita gak bakal ngebahas itu. 

Orang ngebahas penampilan yang dibawakan oleh Leonardo DiCaprio. 

Seakan-akan mendadak semua orang tau betapa gege performa yang dibawakan oleh Leonardo DiCaprio, betapa gila dedikasi yang dia berikan untuk membawakan tokoh Hugh Glass, pemburu yang, dalam ke-zonk-annya, diserang oleh beruang ketika sedang berburu. 

Dari situ, orang langsung beralih ke topik yang udah menghantui mereka selama bertahun-tahun.
Dapet Oscar gak, dia? 

Gak terlalu lama kemudian, acara Academy Awards pun diadakan, dan, seperti yang kebanyakan orang duga, Leo pun dapet nominasi atas perannya di film tersebut. 

Lalu datanglah tanggal 28 Februari 2016. 

Gue sedang bersantai-santai bersama Sanji dan Gumuk, yang kebetulan tau tentang situasi yang dialami oleh Leo selama bertahun-tahun. Believe it or not, gue deg-degan juga nungguin hasil yang didapetin sama si Leo ini. 

Gumuk pun orang pertama yang mengetahui hasil pengumuman Oscars tersebut, langsung bilang ke gue, 

"Mo! 

Leo menang!"

BOOM. 

Gue langsung teriak-teriak kek orang kesurupan. 

Tolol juga sih, dia yang menang tapi gue keliatannya lebih seneng dari dia.

Keep in mind bahwa kemenangan Leo semacam "dihantui" oleh kekhilafan yang dilakukan oleh Steve Harvey selaku announcer Miss Universe, dimana dia salah mengumumkan pemenang Miss Universe 2015 di tahun yang sama (dan menyebabkan korban menangis di atas panggung). 

Nampaknya bukan cuman gue doang, soalnya nampaknya netizen di seluruh dunia berteriak-teriak kesenengan atas kemenangan yang didapatkan Leo tahun lalu. 

Ketika Leo naik ke atas panggung, diapun mengantarkan pidatonya, yang orang bilang (dan cibir, sebenernya) udah dia siapin dari 10 tahun yang lalu, hence kenapa kedengerannya speech tersebut sangat terstruktur dan terorganisir. 

Gue denger sih versi penuhnya kepanjangan, tapi ada kata-kata yang kena banget: 

"Film The Revenant mengisahkan hubungan antara manusia dengan dunia alam...

...perubahan iklim sangat nyata, terbukti dari kita yang harus berjalan sampai ke ujung selatan bumi agar bisa mengambil gambar film ini...

...kita harus mendukung pemimipin dunia yang tidak berbicara untuk para pencemar, tapi untuk keseluruhan dari umat manusia...

...janganlah kita menyia-nyiakan planet ini. 

Saya tidak menyia-nyiakan malam ini. Terima kasih banyak." 

Worth the 13 years wait, yeah? 

Well Leo, 

congratulations on your first-time-in-forever Oscar award. 

And here's for more to come.  
   

Marvel-ously Good, DC-eptively Bad 

Ow syit, gue kelewatan. 

Gue kelewatan satu lagi contoh rivalitas. 

Actually, gue sengaja lupa *alesan* taro di atas tadi, biar bisa taro di bawah sini. 

Marvel v DC. 

Dua raksasa komik ini udah bertempur di dunia perkomikan sejak jauh sebelom bokap- nyokap gue lahir. Saking serunya, jaman sekarang udah susah nemuin orang yang gak tau seminimal-minimalnya tokoh fiksi bernama Superman atau Spider-man. Superman lah, seminimal-minimalnya. 

Sebenernya, dimulai dari 20 tahun lalu, mereka udah bawa peperangan mereka ini ke field yang baru. 

Perfilman. 

Sebenernya DC yang mulai sih, dengan naro Superman di bioskop tahun 1978. Sejak tahun itu, publik dikenalkan dengan sebuah genre film baru. Genre yang masih subur sampe sekarang. 

Superhero film

Gak banyak yang tau kalo sebenernya Marvel ngebalas DC pada tahun-tahun tersebut dengan beberapa film, meskipun hampir gak ada orang yang tau kalo mereka sebenernya ngerilis film juga. Kecuali serial TV The Incredible Hulk yang mana si buto ijo bule diperankan oleh Lou Ferrigno, ada alasan bagus kenapa gak ada yang tau Marvel bikin film juga. Yep, mereka semacam... ampas. 

Loncat ke hampir 30 tahun kemudian, mereka masih sibuk-sibuknya perang di bioskop kesayangan anda. 

Tak terkecuali adalah tahun lalu, 2016. 

Taon lalu, masing-masing kubu merilis 2 film. 

Dari sisi Marvel ada 

Captain America: Civil War dan Doctor Strange

Sementara itu, DC punya 


Batman v Superman: Dawn of Justice dan Suicide Squad

Interesting side-note: Apa gara-gara kebetulan atau mungkin ada semacam kongkalikong tersembunyi, kedua kubu punya satu film yang sama-sama bertemakan superhero melawan sesama superhero. Soal yang mana film yang gue maksud, mendingan gue biarin lo tebak sendiri. 

Anyways, keempat film punya hype yang luar biasa gede menuju ke tanggal rilis mereka. Mau itu penggemar komik tulen atau penggemar film biasa berbau casual

Peperangan dimulai, sekali lagi, oleh DC. 

Batman v Superman dirilis di bioskop pada tanggal 19 Maret 2016. 

Piye? 

Pas gue liat rating mereka segala macem, gue kaget karena rating film tersebut adalah 

27%. 

Eng ing eng. 

To be honest, gue syok bener soalnya gue gak bisa ngeliat gimana film dengan formula sesempurna itu bisa dapet rating serendah itu. Ayolah, siapa yang gak mau liat Batman adu jotos sama Superman? Scratch that actually, mungkin ada yang udah pernah liat mereka berdua saling bogem di film animasi Batman: The Dark Knight Returns. 

I mean, 

how can they screw up a perfect movie? 

Hampir sebulan kemudian, Marvel pun ngebales dengan film yang udah ditunggu-tunggu sejagat penggemar komik. Bukan cuman oleh Marvel, tapi oleh fans DC juga, terutama fans hardcore butthurt yang semacam berharap film Marvel tersebut jeblok juga, yekali jadi ada temennya, kan. 

12 April 2016, Captain America: Civil War diputar perdana di Dolby Theatre. 

Rating? Ah semua orang selalu ngincer rating. 

Tapi gue kasitau, film tersebut mendapatkan rating 

90%. 

BOOM. 

Pencukuran, begitu kata fans Marvel hardcore yang benci sama fans tetangganya. 

Again, perfect formula. Meskipun ending buat kedua studio bener-bener bertolak belakang. 

Although I must say that langkah buat taro superhero dari masing-masing kubu buat mengadakan adu jotos agak sedikit prematur. Agak kecepetan. 
Ini Civil War asli...

Marvel masih agak mending mengingat superhero yang saling berseteru (Captain America dan Iron Man) udah punya cerita dan perkembangan karakter yang terlihat dari lebih dari satu film yang melibatkan mereka, mau dari standalone film kek Captain America: The Winter Soldier dan Iron Man 3, ataupun dari collaboration kek The Avengers. Actually, mereka udah berkembang dari sisi karakter. 

Kekurangannya adalah kurang rame. 


...ini Civil War di film. 
Sebagus apapun adegan bogem-membogem di bandar dalam film tersebut, adegan itu terasa kurang epik gegara cuman ada total 12 superhero dari masing-masing kubu. Jumlah itu masih setengah dari komik asalnya, di mana satu kubu aja udah bawa 12 superhero. Udah gitu, temen-temen Captain America dan Iron Man juga semacam gak punya character development sedalem pentolan mereka masing-masing. Hampir kek semut berantem di atas ring WWE beneran. Yep, arena berantem mereka kegedean.

Still, dengan kekurangan parah tokoh-tokoh partisipan Civil War tersebut, adegan bandara tersebut masih seru tanpa mengundang cringe mengingat masalah arena kegedean tadi.   

DC ini yang kena zonk. 

Superman baru dapet satu (yep, the one and only) film sebagai bahan buat character development dia, yaitu Man  of Steel. Lawannya, Batman, malahan belom punya. Hell, character development yang ada di Batman menuju dia ngelawan si jubah mirah ada di dalam Batman vs Superman. Mirip dengan counterpart Marvel-nya, sepanjang film udah ditaro semacam animosity yang berujung ke klimaks tersebut, berantemnya Batman vs Superman. Lumayan bagus pula, adu jotos benerannya. 

Problem is, unsur 'Batman vs Superman' sesungguhnya dalam film tersebut cuman sepanjang 15 menit lebih dikit.

Yep, beda dengan sepanjang film Civil War yang mana tema perpecahan dalam tim Avengers berlangsung dimulai dari seperempat awal film sampe abis, di Batman vs Superman cuman ada di... ya 15 menit itu. Selebihnya? Build-up, backstory, sub-plot, dan set-up menuju Justice League yang dirilis tahun ini. Hampir seakan-akan judul 'Batman vs Superman' adalah, sorry to say, clickbait biar orang bela-belain beli tiket bioskop biar bisa nonton Superman adu jotos sama Batman. 

Then again, dengan kedua kelemahan pada film tersebut, Marvel berhasil lolos gegara cerita yang lebih nyambung, jauh dari ke-bertele-tele-an, dan tentu aja, satu dua humor yang menjauhkan penontonnya dari kebosanan. 

Ronde selanjutnya adalah Suicide Squad vs Doctor Strange. 

Scratch that, dua film ini gak bisa dibandingin soalnya mereka bawa dua tema yang beda. 

Kita mulai dengan Suicide Squad yang dirilis duluan, tanggal 1 Agustus.

Sebelom kita masuk ke rating film ini (spoilers: gak enak diliat), gue mau bilang satu hal. 

Jared Leto adalah Joker ketiga terbaik dari semua Joker yang gue pernah tonton. 

Peringkat ke-3 dari 3 Joker. 

Oops. 

Pas pertama gue denger tentang keterlibatan Jared Leto sebagai Joker, gue lumayan kena hype, soalnya gue tau Jared Leto adalah seorang aktor berbakat yang bisa memainkan berbagai karakter. Nambah lagi pas gue denger dia bener-bener berdedikasi terhadap perannya tersebut, atau apa yang disebut dengan method acting

Pas gue liat dia... 

Gak, gue gak bilang dia jelek sebagai Joker. 

Let's just say dia ada khilaf sana-sini sebagai Joker. 

Meskipun itu, Joker yang dia bawakan adalah Joker yang kita tau, yaitu Joker yang menebar teror ke dalam jantung lawan-lawannya dan Joker yang tidak terduga. At least dia dapet bagian itu. 

Sayangnya, terkadang dalam penampilannya Jared Leto bisa mengundang cringe. Ngeliat dia sebagai Joker, gue kadang-kadang bisa kebingungan dia ini mau menakut-nakuti lawannya di balik perangai badutnya atau dia mau nge-homoin lawannya. Another thing is that Joker yang dibawakan Jared Leto kurang eksplosif. Kurang meriah. Simpelnya, kurang punya selera humor alias kurang banyak ketawa. Pas ketawa pun dia, ehm, bunyinya kek kuda kelaperan. 

Now with that out from the way

rating Suicide Squad adalah 

26%. 

Sekarang, ke pendapat gue. 

1% di bawah Batman vs Superman sih iya, tapi menurut gue, 

gue lebih nikmatin Suicide Squad daripada Batman vs Superman. 

Begonya, Suicide Squad punya kekhilafan yang bahkan Batman vs Superman gak punya. 

Editing

Beuh, editing dari film satu ini bener-bener choppy dan berantakan. Kalo udah masuk adegan action, biasanya kamera film ini bisa gonta-ganti lebih dari 10 kali. Udah gitu, terkadang sudut kamera dan lighting jadi kendala tulen buat ngedapetin view yang bagus terhadap adegan tersebut. Bisa jadi, sekali satu tokoh melayangkan tinjunya, kamera langsung ganti. Atau mungkin ganti dua kali dalam satu adegan tersebut. 

Begonya (lagi), di saat cerita Batman vs Superman udah amburadul, ternyata si ini lebih amburadul lagi. 

Bedanya, yang ini lebih enak diliat dan gak ngebosenin. Meskipun imbasnya film ini jadi punya kualitas yang terkesan dank tingkat parah. 

Terdapat lebih dari satu poin cerita yang dipertanyakan keberadaannya, kek perlakuan Amanda Waller terhadap sesama koleganya, atau kenapa Waller ngirim 8 orang semi-luar biasa buat ngatasin antagonis film ini kalo dia bisa langsung suruh, I don't know, SUPERMAN buat ngatasin dia? Atau misalnya-- ah sudahlah, Cinema Sins bisa ngasih tau lebih jelas.

That said, tokoh-tokoh dalam film punya jauh lebih banyak warna dari film tetangganya. Penampilan yang ditampilkan oleh para pemeran juga gak kalah kece, yang bisa lebih kece lagi seandainya writing film ini lebih mateng. Kita semua udah tau Margot Robbie dan Harley Quinn-nya yang lebih enak diliat dari Joker, atau Deadshot-nya Will Smith yang punya pesona khas... ya Will Smith.

All in all, mungkin rating dia gak bisa bagus, tapi gak sejelek itu juga. 

Butuh waktu 2 bulan lebih buat Marvel buat ngebales. Well, mereka bisa ngebales lebih cepet, tapi save the best for the last, kan? 

Doctor Strange diputar perdana pada tanggal 13 Oktober di Hong Kong. 

Nah ini. 

Civil War sih gue udah menduga bakal bagus, tapi Doctor Strange... gue gak punya ekspektasi yang tinggi. 

Sampe akhirnya gue tonton, tentu aja. 

Right off the bat gue bakal bilang film ini bener-bener ngagetin gue, in a good way
Ini Inception...

Mulai dari visual film yang dinominasi Academy Awards sampe action set pieces yang suguhan enak bagi mata hingga ke klimaks yang bener-bener unorthodox, film ini seakan-akan ngeluarin sesuatu yang baru ketika kita kira dia gak bakal kasih apa-apa lagi. 
...ini Doctor Strange.

Soal visual, film ini seakan terisnpirasi dari Inception. Tau kan, film yang ceritanya adalah mimpi dalam mimpi dalam mimpi? Bedanya, Doctor Strange bisa 10 kali lebih teler dari film tersebut kalo diukur dari sudut visual. Selama di bioskop gue nonton ni film, gue biasanya ngelongo sambil nggeleng-nggeleng kepala, bilang "Weh, teler ni film." Visuals tersebut nyampur secara mulus dengan action dalam film tersebut yang, kek yang tadi gue bilang, enak diliat pula.  

Gak lupa adalah formula Marvel yang paling khas ada dan sangat sehat walafiat dalam film ini. Yep, humor. Meskipun disuguhkan lebih sedikit dari kebanyakan film Marvel lainnya, kekocakan yang datang dalam dosis kecil tetep bisa bikin ketawa. Ditambah lagi Benedict Cumberbatch yang anehnya, dibalik ketamvanannya, bisa ngelawak juga. Si Sherlock masih bisa menggelitik, mau itu secara sengaja maupun secara gak disengaja, terutama di klimaks film tersebut (yang akhirnya menjadi meme).       

Lucunya, gue gak sebut cerita. Yep, sayang sekali, cerita Doctor Strange, meskipun dibawakan dengan baik, bukan cerita yang bener-bener bagus. Cliche, malahan. Belom lagi ditambah tokoh antagonis yang, untuk kesekian kalinya, ngebosenin. Then again, eksekusi cerita ini semacam menutupi ke-biasa-banget-an dari cerita tersebut. 

Oh ya, lupa. 

Rating. 

90% juga. 

Tentu aja gue gak bakal nyandingin rating masing-masing film sebelah-sebelahan, ntar keliatan mirisnya. 

Entahlah apa para kritikus film emang bersekongkol buat ngebenci DC dan ngasih rating jelek buat film-film mereka, atau emang film mereka gak bagus-bagus amat. Batman vs Superman emang, ehm, semacam ampas, tapi Suicide Squad juga gak pantes dapet rating serendah itu. 

Di sisi lain, Marvel sebagai pemenang kentara dari perang taon lalu mungkin emang keliatannya jadi bagian persekongkolan para kritikus buat ngasih nilai bagus (I mean, skornya sama persis!), atau film mereka emang bagus juga. Civil War mungkin nilanya agak ketinggian, tapi Doctor Strange... yah, leh uga. 

Marvel, yang bagi mereka tahun ini mungkin sama seperti tahun-tahun sukses sebelumnya dan yang akan datang, berhasil melewati tahun ini dengan    

marvelously good. 

DC, yang entah kenapa belom berhasil menghasilkan film yang bagus (namun gak sejelek pendapat kritikus), tergopoh-gopoh melewati tahun 2016 dengan keadaan 

deceptively bad.  

...

...

...

Yah, begitulah tahun lalu. 

Gue udah capek nulis. 

Sekarang gue nanya, 

gimana 2016 lo? 

Until the next post, bungs! :D 

Thursday, January 26, 2017

THIS IS A REVIEW: 2k16

Sorry

Sori kenapa? 

Bagi yang belom tau, di post gue yang terakhir, gue terlalu triggered sama sebuah video random di YouTube sampe gue lupa ngucapin sesuatu yang wajib diucapin minimal setaon sekali. 

Happy New Year, guys

Telat lebih dari 3 minggu, tapi gapapa lah. 

Ah, pura-pura aja gue ini, jelas ada apa-apa-nya, lah. 

Kalo udah kek gitu, gue kedengeran kek orang yang ketiduran pas countdown tahun baru dan baru tereak-tereak "'Met tahun baru semuanya!" jam 10 pagi, di saat semua orang udah balik lagi ke kehidupan mereka. Gak semua orang, sih. Contoh nyata? Gue. 

Anyways, sekarang adalah tahun 2017, yang berarti tahun lalu adalah tahun 2016 (you don't say?), dan kayaknya gue belom pernah ngelakuin beginian sebelomnya, jadi apa salahnya gue lakuin sekarang. 

Itulah yang gue bilang sebelom gue memutuskan untuk nyoba gerakan keep up di kelas senam lantai gue, yang berujung ke kepala gue mantul di lantai. Seenggaknya, itulah yang temen-temen gue bilang waktu itu. 

Gue mau ngapain, 'mangnya? 

Gue mau ngulas tahun 2016. 

Tau sendirilah, banyak bener yang terjadi taon lalu, ada yang bagus, yang jelek juga ada. Mau gimanapun, tahun lalu kata gue merupakan taon yang terbilang menarik, saking menariknya sampe gue harus menyeret diri gue sendiri buat bikin satu post didedikasikan buat taon tersebut. 

Sebelom kita mulai, gue mau bilang kalo event-event yang secara pribadi gue anggep menarik. Ato, gue entah kenapa tertarik buat ngikutin event tersebut. Mungkin peristiwa itu sekilas gak penting buat orang kebanyakan, tapi gue anggep penting dan 'kena'. Begitu juga sebaliknya. 

Jadi mau semantep gimanapun peristiwa Brexit juga, gue gak bakal taro di sini soalnya... ya gue gak menganggep peristiwa tersebut bener-bener kena ke gue. Ato gue anggep gak penting. Oke, that came out wrong. Then again, peristiwa ini gue sebutin juga di post ini karena gue tau bagi orang banyak ni peristiwa mengena banget. Honorable mention lah, istilahnya. 

Yaudah, gece, kita kelarin review yang satu ini. 

Make America Great Again

Gak terasa, masa jabatan presiden Amerika udah kelar. 

Yep, beberapa bulan lalu, negara adidaya terbesar (dan ter-rakus, tergantung sikon) dihadapkan dengan kenyataan bahwa mereka harus memilih pemimpin baru.

Masa Barack "Roastmaster" Obama berakhir. 

Mau gimanapun kekhilafan dan kemantepan yang dilakukan oleh Obama ini selama dia jadi presiden, yang pasti, orang bakal kangen bener sama ni orang. Seenggaknya, menurut komen-komen yang gue temuin di YouTube. Orang bakal kangen sama kepribadian-nya yang down to earth, citra family guy-nya kuat bener, dan tentu saja, kepiawaiannya dalam meng-mak-jleb lawan-lawannya. 

Makanya gue kasih dia gelar "Roastmaster". Kalo dia emang kebetulan jago bakar-membakar dan goreng-menggoreng makanan, makin klop-lah gelar itu.

Setelah dia kelar, Oval Office Gedung Putih akan jatuh ke satu dari dua orang. 

Hillary "Bond Villain" Clinton dan Donald "Bad Hair Day Everyday" Trump



Setelah pertarungan yang panjang yang intens, seru, dan terkadang kocak juga (tengok aja debat mereka, entah kenapa gue menganggap debat cagub DKI Jakarta lebih serius), kursi kepresidenan Amerika Serikat jatoh ke 

Bernie Sanders.

Yeah, I wish

Donald Trump. 

Belom pernah gue ngeliat perpecahan pendapat segede ini sebelumnya di sosmed. Sosmed sono, maksudnya. Kalo di sini mah, gak ada yang pingin Trump naik. Kayaknya. 

Begitu ketauan Trump bakalan jadi presiden ke-45 Amerika Serikat, sosmed langsung pecah dengan banyaknya orang yang kecewa, sedih, nangis, dan dongkol ketika si Trump jadi presiden. Gue tau yang dukung Trump banyak juga, tapi sejauh ini gue lebih banyak ngeliat selebriti nge-tweet kekecewaan mereka dibandingkan dengan kepuasan mereka ketika Trump naik. 

Misalnya, Chris "Captain America" Evans.

Chris bilang... ah sudahlah, liat aja gambarnya. 

Ah, sudahlah. Dia udah naik. Udah disesah, pula. Mau gimana lagi? 

Say what you will about this guy, but one thing for sure,

Donald Trump adalah salah satu contoh nyata dari istilah 

"Where there's will, there's way."

Terjemahannya, 

Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. 

Sound familiar? 

Tu quotes sangat gencar di film-film drama, dokumenter motivasi, dan acara-acara yang melibatkan Mario Teguh. 

Hohoho, lo kira cuman orang baik doang yang bisa menerapkan pepatah di atas? 

Alkisah, ketika gue denger tentang si Trump ini mau nyalonin diri jadi presiden beberapa bulan sebelom pilpres, gue bener-bener gak percaya. Ayolah, masa' seorang businessman yang gak punya pengalaman politik sama sekali dan gak punya kerjaan selain jadi orang kaya mau jadi presiden? Itulah kata gue waktu itu. Temen-temen gue di Malang juga senada, ngatain si Trump ini gendeng. 

Belom lagi kebijakan dia mau bikin tembok segede The Wall-nya Game of Thrones, trus suruh negara tetangga bayar? 

What in the actual hell, man?

Fast forward beberapa bulan kemudian, gue udah kuliah, dan gue denger si Trump dan si Hillary lagi perang menuju Gedung Putih. Instantly, gue langsung mikir, "Ah, orang Amerika gak goblok, pasti mereka tau Hillary yang lebih baik." Siapapun selain manusia berambut amburadul itu, lah.  

Dan gue salah. 

8 November 2016, pemenangnya udah ditentukan. 

Against all odds, bukannya si wanita yang menang. 

Simpel aja, kata gue banyak orang milih Trump bukan karena Trump ini lebih sabi, lebih pinter, ato bahkan lebih mampu dari Obama. Nope. Mereka milih Trump karena mereka gak suka Hillary. Mereka udah tau khilafnya Hillary di masa lampau. Mana mau mereka dipimpin sama orang yang gak bisa bedain email negara sama email pribadi?

Banyak orang yang gak pingin Trump menang. 

Tapi toh, dia menang juga. 

Nah sekarang, 

dengan si Trump ini udah legit jadi presiden salah satu negara terbesar di dunia, 

gimana sejauh ini? 

Pelantikan Trump kiri, Pelantikan Obama kanan. Just sayin'.
Yah, pas dia dilantik jadi presiden 20 Januari lalu, 

rusuh serentak dimana-mana. 

Bahkan, menurut Sanji temen gue yang college di sono, demo lumayan gede dan rusuh di daerah San Fransisco. Warga setempat banyak yang jadi korban penyerangan, dan bahkan orang Asia pun dijadikan sasaran serang juga. To be honest, kalo si Sanji ini diserang juga, gue lebih takut buat yang nyerang dia daripada dia sendiri. 

Gimana sejauh ini? 

Entahlah, menurut lo gimana? 

Rest in Peace, Guys and Girls 
David Bowie.

SPOILER ALERT! 

Gue bakal tewas. 

Dan lo pada juga. 

Kapan? Dimana? Gimana?

Itu dia. 

Tiap taon pasti ada aja orang terkenal yang meninggal, tapi entah kenapa, gue ngerasa ini adalah taon yang zonk buat para selebriti. Bukan karena banyak dari mereka yang terlibat skandal dan teman-temannya, tapi gegara banyak seleb yang meninggal taon lalu. 

Mulai dari David Bowie si penyanyi nyentrik tulen, Alan "Snape" Rickman, Muhammad "The Black Superman" Ali, sampe terakhir mama-anak Debbie Reynolds dan Carrie Fisher.

Alan Rickman. 

 Anggep aja, banyak yang berduka taon ini. Fans Harry Potter lah, fans Star Wars lah, fans musik, fans ini, fans itu, banyak bener yang baper taon ini. Misalnya Sanji yang penggemar Harry Potter paling terpukul dengan meninggalnya Alan Rickman. Ato temen-temen gue yang feminis sedih dengan meninggalnya Carrie Fisher.

Mungkin lo bertanya, "Mo, lo gak sedih sama satu pun orang terkenal yang meninggal taon ini?" 

Mungkin gue sedih sama meninggalnya Carrie Fisher. Gue sendiri adalah seorang penggemar Star Wars yang, meskipun tingkatnya sangat casual dibandingin sama mereka-mereka yang udah masuk ke novel, komik, dan serial TV *ehm Clone Wars ehm* sampingan saga sci-fi tersebut. Nope, gue filmnya aja udah cukup. 
Princess Leia yang diperankan oleh Carrie Fisher.

Mungkin gue sedih sama ilangnya Princess Leia gara-gara gue pernah ngeliat dia idup, dan dia bener-bener seger pas dia idup. Pas dia udah tua pun, dia masih punya that charm yang ada di dia pas jaman-jamannya dia masih punya rambut kunciran donat. Itu, dan gue yang baru sadar kalo Leia jauh dari cliche damsel in distress yang ngetrend dari dulu sampe sekarang. Salah satu dari sedikit contoh pertama dari strong female character. Mungkin itu juga yang bikin dia jadi salah satu tokoh gerakan feminisme. 

Mungkin. 

Tapi kematian yang paling ngena ke gue taon lalu bukan datang dari dunia perfilman. 

Dunia sepak bola.

Meninggalnya Johan Cruyff emang menyedihkan, tapi ada satu lagi yang bakal bikin Johan Cruyff nangis juga. 

Para penggemar bola yang baca pasti tau, dong. 

Dimulai dari tanggal 28 November 2016. 

Sebuah pesawat mengalami kecelakaan di dekat Medelin, Colombia. 71 orang tewas, 6 orang selamat. 
ni Chapecoense. 

Isi pesawat tersebut?

Sebuah klub sepak bola. 

Chapecoense namanya. 

Backstory kecelakaan ini bikin sederetan kematian ini tambah miris, sebenernya. 

Mereka terbang ke Colombia buat ngadepin Atletico Nacional dalam rangka laga final Copa Sudamericana. Laga ini adalah pertama kalinya mereka nyampe final, setelah taon sebelomnya terhenti di perempat final dan gak ikut taon-taon sebelomnya. Laga ini dianggep sebagai laga yang paling spektakuler yang pernah mereka jalanin dalam sejarah klub.

Gue cuman bisa ngebayangin seberapa senengnya mereka pas terbang ke Colombia. Seberapa seneng pendukung mereka, seberapa seneng juga keluarga yang di rumah nungguin mereka buat tanding, dan seberapa seneng juga  temen-temen mereka yang bela-belain pulang kerja cepet demi nontonin mereka tanding. 

Then, shit happened

Bodo amat dengan kenyataan kalo mereka ini adalah klub kecil yang bahkan kita gak tau ada sampe insiden ini kejadian. Come on man, ini adalah satu-satunya kesempatan mereka buat meraih sebuah kehormatan, sebuah gelar, dan sebuah kebanggaan seumur-umur klub itu berdiri, and then this? 

Gue hampir bisa relate. Gampang, bayangin aja kalo isi pesawat itu pemain Chelsea. 

Setelah berita beredar, dunia sepak bola pun berbelasungkawa, dengan banyaknya pemain bola top kek model part-time Cristiano Ronaldo turut mengungkapkan belasungkawanya untuk para pemain Chapecoense. 

Gimana dengan 6 orang selamat tadi? 

3 diantaranya adalah pemain Chapecoense: Alan Ruschel, Jakson Follman, dan Neto. 

Alan mengalami cedera di punggung dan sudah dioperasi, sekarang lagi masa penyembuhan. Mestinya. 

Follman mengalami luka parah dan berujung pada satu kakinya harus diamputasi. Kecuali dia mau ikut paralimpik, Follman gak bakalan bisa main bola profesional lagi.

Neto pun sudah dioperasi sejak kecelakaan tersebut dan dilaporkan bisa bermain sepak bola lagi untuk kedepannya. 
Pemain yng selamat diarak ke stadion untuk menerima piala
mereka. 

Setelah kecelakaan tersebut, gimana nasib mereka di kejuaraan tersebut? 

Lawan mereka, Atletico Nacional, langsung mundur dari babak final tersebut, menyebabkan gelar juara otomatis langsung jatuh ke Chapecoense.

For that, sirs, you have my utmost respect.

Gue baper (dan percaya sama gue kalo gue bilang gue jarang baper) pas ketiga penyintas kecelakaan tersebut diarak ke stadion dan dihadiahi piala Copa Sudamericana di depan para pendukung dan penonton yang nyorakin mereka tanpa akhir. 

That my friends, is the ultimate bittersweet ending. 


Buat kalian pemain yang udah di tempat yang lebih baik di atas sana maupun yang masih di bawah, 

Keep on playing the beautiful game, wherever you may be.

Buat semua yang masih idup sampe sekarang kalian baca ini,

dan gue ngutip Avicii,  

Live a life you will remember.  

Buat semua yang udah ninggalin kita tahun lalu, 

Rest in peace, guys and girls. 

A Real American Hero

Actually, selain dari jiwa-jiwa yang udah ninggalin kita taon lalu, ada satu yang menonjol. 

Menariknya, satu jiwa ini bukan berasal dari orang biasa. 

Actually, scratch that, jiwa ini bukan berasal dari orang. 

Hohoho, para warga internet udah langsung tau gue bakal ngebahas siapa. 


Harambe


Seekor Western lowland gorilla dari Cincinnati Zoo, America Serikat. 

Kalo dia punya ekor, that is.

Apa kerjaan gorila ini, sampe dia dipuja-puja bak pahlawan nasional, diarak bak martir, dan bahkan punya suara di pilpres Amrik? (yep, ada yang legit memilih seekor gorila koid untuk jadi presiden salah satu negara terbesar di dunia)

Apakah dia menghajar penebang ilegal hutan tempat dia tinggal? 

Tidak. 

Apakah dia menyelamatkan seorang bocah dari serangan harimau? 

Nope? 

Apakah dia membantu mendirikan bendera Amerika Serikat di Capitol Hill? 

Hell naw

Trus dia ngapain? 

Get this, bungs. 

Dia ditembak mati. Di sarang dia sendiri. 

That's it

Ayolah, pasti ada jauh lebih banyak penjelasan dari sekadar 2 kalimat, 7 kata, dan 33 kata, kan? 

Pada tanggal 28 Mei 2016, Cincinnati Zoo, seperti hari-hari lainnya, dibuka untuk umum. Harambe pun juga ber-kebun-binatang ria seperti biasanya, di kandangnya, diliatin dan ditontonin oleh para pengunjung. 

Kemudian, pada jam 4 sore waktu setempat, shappened (shit happened)

Dari sekian banyaknya pengunjung yang datengin kandang Harambe adalah seorang ibu yang membawa anak kecil berusia 3 tahun. 

Nah, sampe sini, gue gak mau kekhilafan tingkat apa yang menyebabkan ibu ini kelupaan buat ngawasin anaknya sehingga anak kecil tersebut sempet 

manjat pager setinggi 3 meter, 

nyelinep ngelewatin semak sepanjang 1,2 meter, lalu

jatoh ke dalam kandang Harambe.

Menurut Wiki (dari semua sumber terpercaya gue pilih wiki, yep), that very moment anak kecil tersebut jatoh ke kandang Harambe, pihak kebun binatang langsung mengisyaratkan semua gorila di kandang tersebut untuk langsung masuk ke tempat mereka masing-masing. Semua gorila pun nurut.

Semua kecuali--you guessed it--Harambe.

Menurut laporan saksi mata, Harambe nyamperin anak kecil malang itu (yang gue anggep lebih malang lagi punya nyokap sekhilaf itu), lalu ngebawa anak itu ke tur singkat kandang dia. Lebih tepatnya, nyeret bocah itu. Not to worry though, dia diseret di parit berisi air dalam kandang tersebut. 

Untuk beberapa menit selanjutnya terdapat interaksi antara Harambe dengan bocah tersebut, antara lain 

1) mendirikan bocah tersebut ketika dia duduk, 

2) mendudukkan bocah tersebut ketika dia berdiri, dan

3) membantu naikin bocah tersebut ke daerah di luar parit yang kering.

Mau dipikir juga, sebenernya interaksi antara bocah ini dengan Harambe tidak mengandung unsur bahaya, intens, atau bahkan resiko sekalipun. Okelah kalo Harambe beresiko ngapa-ngapain bocah tersebut, but come on man, kita semua tau gorila gak makan orang. 
Look familiar?

Yang ada, interaksi Harambe dengan anak kecil tersebut punya unsur kemiripan dengan interaksi antara si bayi dengan si gorila dari film Baby's Day Out. Itu loh, yang seorang bayi merangkak keliling New York City tanpa sadar kalo dia udah bikin kedua orang tuanya kalap setengah idup. 

Bedanya, bayi di film tersebut nyasar ke kandang gorila pas kebun binatang udah ditutup

Ini malah lagi peak hours

Walhasil, bejibunnya penonton kandang gorila tersebut udah teriak-teriak panik bukan main. Apalagi nyokapnya anak tersebut, yang gue yakin teriak paling kenceng. Numpuknya ribut yang dihasilkan oleh para pengunjung bikin Harambe puyeng dan, ehm, 'disorientasi', menurut Los Angeles Times

Di tengah kepanikan tingkat gendeng tersebut, di tengah interaksi yang mendalam (?) antara Harambe dengan bocah tersebut, tiba-tiba 

shots fired

Literally

Anak kecil tersebut sedang berada di antara kedua kaki Harambe ketika peluru mengenai gorila silverback tersebut. 

Dan gugurlah Harambe

satu hari setelah ulang tahunnya yang ke-17. 

The rest is history, kata gue. 
'Nuff said. 

Setelah peristiwa tersebut, meledaklah Harambe di media sosial. Netizen beramai-ramai membuat meme terkait dengan Harambe, memuja-muja dia bak pahlawan, membuat hashtag sebagai rasa empati dan solidaritas dengan gorila tersebut. Saking gilanya ledakan meme Harambe tersebut, sampe dia didaulat menjadi salah satu capres Amerika Serikat. 

Seakan-akan dia udah jadi manusia. 

Then again, ini adalah Amerika Serikat, jadi mestinya kita gak terlalu kaget kalo mereka menangisi kematian seekor gorila lebih dari kematian sesama manusia.

My thoughts on this? 

Harambe gak salah. 

Ya gak mungkin juga sih nyalahin dia, mengingat dia bukan orang juga. 

Bocah tersebut juga gak salah. 

Toh dia masih terlalu kecil buat tau kalo kandang gorila itu untuk, ya, gorila. 

Staf kebun binatang yang membunuh Harambe juga gak sepenuhnya salah. 

I mean, emang dia yang mengakhiri hidup Harambe, tapi gue tau kalo dia hampir gak punya pilihan dalam situasi tersebut. 

Peluru bius? 

Peluru bius didaulat gak bakalan mempan terhadap Harambe yang berbobot 200 kilogram. Malahan, bius tersebut bisa bikin Harambe kalap, lalu marah, lalu mulai ngelakuin yang enggak-enggak.

Gue, dan banyak banget netizen lainnya menuduh 

nyokapnya anak kecil tersebut. 

Nyokap macam apa yang membiarkan anaknya keluyuran ngelewatin halang-rintang sampe dia nyungsep ke kandang gorila segede itu? 
BOOM. 

Niat ngasuh anak gak, sih? 

Coba lo lebih hat-hati. 

Anak lo gak bakal nyasar ke kandang Harambe, 

Harambe gak bakal nyamperin anak lo, 

kepanikan gak bakal terjadi, 

dan terpenting, 

Harambe gak bakal tewas.

Untung Harambe. Kalo itu kandang buaya gimana? Bukan kandang buaya pun, lo udah naro resiko cedera / luka luar biasa gede ke anak lo.  

Udah gitu, lo baru aja memaksa staf kebun binatang buat mencabut nyawa salah satu binatang peliharaan berharga mereka. Asal tau, spesies gorila Harambe, western lowland gorila atau gorilla gorilla gorilla (yep, gak becanda gue) udah didaulat sebagai salah satu jenis satwa liar yang critically endangered atau udah terancam punah tingkat tulen. 

In other words, gorila di dunia ini udah tinggal dikit, dan berkurang satu lagi gara-gara kekhilafan lo. Gorila ini udah aman di kebun binatang tersebut, tapi mereka bisa-bisanya tewas dalam tempat yang aman. 

Gara-gara lo

Anyways, rupanya warisan yang ditinggalkan Harambe gak berhenti di tahun 2016 doang. Tahun ini, menurut Lemmino, bakalan ada film terinspirasi oleh peristiwa Harambe, dalam bentuk biopic




Nampaknya post ini jauh lebih panjang dari yang gue kira. Udah nyampe segini sebenernya udah panjang banget, dan masih ada *spoilers* 4 event lagi yang mau gue ulas. 

Jadi, sayangnya (ato untungnya), gue harus sekiankan post ini sampe di sini aja. 

Penasaran sama 4 yang lain? 

Stay tuned, 

and don't forget, 

until the next post, bungs! :D  











Thursday, January 5, 2017

TRIGGERED! - Views on Video Games

Apa yang bikin lo terpelatuk? 

Setiap orang beda-beda, sih. 

Kalo KSI sih, terpelatuk gegara kebudayaan Natal di Belanda mengandung unsur rasisme, dengan menggambarkan para peri-peri jahat musuh Sinterklas dengan kulit yang item. Bukan coklat, bukan sawo matang, item. Seitem tulisan ini
Ini KSI. 

Kalo FPI sih, terpelatuk sama Ahok. Apa yang Ahok perbuat buat Jakarta, apa yang Ahok bilang, bahkan kenyataan bahwa seorang manusia bernama Basuki Tjahaja Purnama masih idup so pasti buat mereka terpelatuk. Itu, dan unsur kafir, dalam artian perusahaan dari negara-negara yang menurut mereka kafir. Fitsa Hats, misalnya. 


Kalo kaum feminazi? Ah, kalo lo tanya gue, mereka got triggered for pretty much everything

Kalo gue? 

Awalnya gue masih bingung apa yang bikin gue triggered. Mungkin dulu gue sempet kena triggered pas LGBT dilegalisir di Amerika Serikat, yang udah pernah gue uttaran utarakan di salah satu post gue. But then again, itu bener-bener situasional, dan sekarang udah gak ada lagi isu mengenai pernikahan sesama jenis dan semacamnya. 

Sampe tadi pagi gue nonton sebuah video di YouTube. 

Judulnya The Media Learning of eSports oleh Tramah. 

Basically, di video tersebut, disuguhkan cuplikan-cuplikan dari channel berita tentang eSports. Ada cuplikan yang meliput salah satu event eSports, yang mana di dalamnya mereka menyajikan sebuah event eSports layaknya final Piala Dunia. Ada juga cuplikan berita yang meliput bagaimana para atlit eSports ini udah mendapatkan popularitas dan kredit layaknya atlit beneran. 

Actually, gak semua isi video tersebut itu bikin gue terpelatuk. 

But the ones that did trigger me, triggered me hard. 

Itu... agak gak enak didenger, ya? 

Intinya, ada beberapa orang dalam video tersebut yang bener-bener bikin gue pingin nembus layar hape gue dan kasih kursi ke muka mereka. 

Itu, atau facepalm. Tau sendirilah yang mana yang lebih realistis. 

Misalnya, di sebuah acara talkshow di channel skyNews. Tiga orang lagi ngomong-ngomong tentang ni satu topik, dan salah satu nanya: 

"Pertama, jelasin kenapa video gaming bisa menjadi sebuah pekerjaan." 

Oke, mestinya gue gak terpelatuk sama pertanyaan itu, soalnya toh banyak orang yang gak tau gimana caranya video gaming bisa jadi profesi. Mungkin dia cuman gak tau, bukan gak percaya. 

Gak lama kemudian, cuplikan sebuah talk show di channel entahlah. Mungkin gak dikasitau, takutnya kantor channel itu kena bom molotov dari kaum gamers

"Lo gak tau ada yang namanya atlit cyber?" 

Lalu seorang wanita pake sweater merah jawab: 

"Enggak, sumpah demi Tuhan, gue gak tau, tapi masalahnya ini: 

it's still not a sport, it's a game.

Bukan cuman sekali dia ngomong eSports bukan, ehm, sport beneran. 

Padahal, ada satu lawan bicaranya, lagi ngadu ngomong sama dia: 

"Mau gimanapun juga, ini tuh melibatkan banyak banget unsur strategi, taktik, dan lo juga harus siap secara fisik dan mental untuk melakukan eSports ini. Mereka juga sampe dapet sport visas kalo mereka masuk negara ini--" 

"It's a game!

And so is a game of tennis, ma'am.

Oh, salah, ya? 

Emang yang bener apa? 

A sport of tennis

Believe it or not, semua olahraga yang lo tau, mbak, itu terdiri dari games. Semua pertandingan dari setiap olahraga disebut games. Game itu artinya pertandingan, mbak. Game dan sport bukan dua kata yang berasal dari dua dunia yang berbeda! 

Belom lagi ditimpalin sama kawannya: 

"That's not a sport." 

Oke. 

Okelah. 
Sepak bola jaman dulu. 

Emangnya dulu sepak bola diitung sebagai olahraga? 

You know, pas pertama kali dia dimainkan? 

Itu loh, sepak bola yang akhirnya jadi American Football, tontonan kesukaan lo pada. 

Emang dulu dia bener dianggap sebagai olahraga? 

Nope.

Guess what?

Dia dianggap sebagai hobi. Past time activity. Kegiatan buat ilangin penat.  

Sama persis kek video games sekarang.

Gak lama kemudian, ada orang lagi nambahin ke pernyataan si sweater merah ini, dan secara gak langsung, nambahin trigger-o-meter gue: 

"Kurang lebih 20 juta orang ini yang nonton eSports, mereka pasti lebih gila dari pemainnya." 

O RLY? 

Gimana dengan lo pada yang nonton langsung pertandingan American Football? Ato NBA? Ngapain lo pada buang duit, buang waktu, buang bensin, dan buang tenaga buat nonton kurang lebih 10 orang berebutan bola, lari kesana kemari, biar bisa masukin bola tersebut ke dalam sebuah keranjang? 

Gak gila, apa?

No offense buat penyuka basket. 

Atau lebih lagi, yang lapangannya lebih gede, American Football

Gak cuman lo ngeliatin sekumpulan orang pake baju bongsor dan helm kek riot police lari kesana kemari, lo ngeliatinnya di lapangan yang LEBIH GEDE. 

No offense buat penyuka American Football.

One question. Some, actually

Apa syarat dari olahraga? Yang sungguhan maksudnya, kan eSports gak kalian anggep.

Inilah syarat olahraga menurut SportAccord:

- Punya elemen kompetisi, ato perlombaan. 

- Tidak menyakiti makhluk hidup dalam bentuk apapun 

- Peralatan tidak dipasok oleh satu perusahaan/pihak

- Tidak mengandalkan unsur hoki/keberuntungan

Guess what again

eSports punya itu semua. 

Unsur kompetisi yang kental banget, gak ada binatang maupun hewan yang terbunuh, peralatan-- hell, sebenernya para pemain cuman perlu bawa diri doang, dan tidak mengandalkan unsur hoki, mengingat kalah-menangnya sebuah tim dilandaskan dari skill, kerjasama, dan kekompakan dari tim tersebut. 

Alright, apa lagi? 

"Itu mah bukan olahraga, kerjaan mereka duduk doang!" 

Okelah kalo mereka duduk. 

Tapi emangnya mereka gak gerak?

Tangan mereka gerak cepet banget, apalagi jari mereka, yang kadang-kadang bisa sampe cedera saking secepet-kilatnya reflek yang tiba-tiba bisa muncul. Gak semua orang bisa kek gitu, lho. 

Lo bisa, gak? 

"Semua orang kan bisa main game, masa' dijadiin olahraga?" 

True dat, semua orang bisa main. Semua orang bisa masuk, semua orang bisa ikutan, semua orang bisa join.  

Tapi gak semua orang jago, ya nggak, sih? 

Oke, gue udah gak triggered lagi sekarang. 

But think about it though

eSports mungkin gak dianggep sebagai sebuah bentuk olahraga sekarang. 

Tapi toh, 

sepak bola dulu juga. 

Until the next post, bungs! :D









SEE YA LATER SPACE COWBOY: Sebuah Update (lagi).

Hey, you. You're finally awake! You're trying to find a new post on this blog, right? Then found nothing, just like the rest of us ...