Saturday, March 28, 2015

THIS IS NOT A REVIEW: Crows Zero

Starring: - Shun Oguri as Takiya Genji
             - Takayuki Hamada as Tamao Serizawa
             - Sousuke Takaoka as Izaki Shun
             - Kenta Kiritani as Tatsukawa Tokio
             - Kyōsuke Yabe as Katagiri Ken
             - Motoki Fukami as Rindaman
             - Watanabe Dai as Bandō Hideto
Rilis: 27 Juli 2007
Box office: $ 22 juta
Genre: Action 
Lama: 2 jam 9 menit 

Kali ini gue menyajikan sesuatu yang sedikit berbeda. Biasanya gue me-review (trus THIS IS NOT A REVIEW apalah artinya?!) film terkenal yang jelas udah pernah nongol di bioskop. Yah, anggeplah macam The Raid 2, atau Big Hero 6, atau Breaking Daun The Maze Runner. Tapi, seperti yang udah gue bilang tadi, gue akan menyajikan sesuatu yang berbeda. Gue gak tau apa ini film pernah nongol di bioskop Dua-Satu ato enggak, tapi satu hal: film ini greget banget. Nope, judulnya tidak menyiratkan film horror asal Jepang (percaya sama gue, Jepang dan Thailand adalah pakar film horror). Greget dalam arti: tema yang dibawakan. Kita sebagai orang Indonesia mestinya udah familiar banget sama tema ini, tapi yang gue suka adalah film ini bisa merubah perspektif kita terhadap tema itu. 
Apaan sih? Kasitau woy!! 
Tawuran. 
Yah tahu aja kan, golongan pelajar Indonesia terbagi atas dua hal: alim dan bengal. Bengal sendiri terbagi atas dua kategori lagi: nakal dan anarkis. Di sini akan gue bahas anarkis, yaitu semacam nge-geng dan kurang lebih jadi mafia sekolah. Anarkis sendiri bisa (bila mau) dibagi menjadi dua hal: intra/antarsekolah. Golongan anarkis jelas udah menjadi sumber berbagai keresahan di masyarakat, apalagi kalo masalah mereka dibawa ke luar komplek sekolah mereka. Jalanan tempat banyak mobil motor gerobak lewat jadi ring tarung mereka. Bisa aja toh, gara-gara sepatu setengah juta mereka kecirit tokai langsung tawuran? 
Kurang lebih tahun lalu, atas rekomendasi temen gue, gue berhasil menemukan film greget ini. Tapi, ada satu hal yang jelas berbeda. Kita semua tahu betapa peserta tawuran reguler di masyarakat udah kayak granat. Kita gak pernah tahu kapan mereka bisa meledak, dan masalah macam apa yang bisa bikin mereka meledak. Seperti yang gue bilang tadi, kecirit tokai bisa jadi salah satu alasannya. Intinya, mereka bisa hajar-hajaran kapan, dimana, dan dengan siapa aja. 
Apa bedanya dengan disini??

Welcome to Suzuran 
Setting utama di film ini adalah SMA Pria Suzuran, yang jelas gak ada di Indonesia (tapi diam-diam diimpikan ada). Menurut film ini, Suzuran ini udah semacam kandangnya remaja tawuran. Bahkan selama satu film, gak ada adegan murid-muridnya belajar. Yang ada, nongkrong sana sini, corat-coret piloks sana-sini, ngerokok pula. Guru? Satu-satunya alasan guru tidak jadi korban tawuran anak-anak adalah karena predikat mereka sebagai guru. Dari tahun ke tahun, selalu ada perebutan kekuasaan mutlak atas seluruh anak murid di Suzuran. Bahkan, ada aja remaja yang cukup ngide buat daftar ke Suzuran buat ngebuktiin kemampuannya gebuk orang lain. Yah intinya, kalo mau jadi manusia yang bermartabat dan berguna bagi masyarakat dibandingkan jadi tukang bogem, ya jangan ke sini.
Sampai pada film ini, penguasa (atau yang paling deket ke pangkat 'penguasa') Suzuran adalah Tamao Serizawa, antagonis utama film ini. Serizawa sudah menguasai sebagian besar dari Suzuran, dan juga punya paling banyak pengikut. Versi simpelnya, dia adalah yang paling mendekati sebagai raja anak-anak greget Suzuran. Padahal, postur dia gak segede anak-anak lainnya. Rada pendek gimana, gitu.
Semuanya berubah saat ada murid pindahan yang seangkatan sama Serizawa. Takiya Genji, anak Yakuza (wajar aja sih kalo Yakuza ngirim anaknya ke sekolah yang mendidik muridnya menjadi Yakuza). Genji pindah dengan mandat dari bokapnya (Yakuza, jelas) untuk menguasai Suzuran, suatu pencapaian yang tidak berhasil dicapai si bokap itu. Tapi TERNYATA *jengjengjeng* sebuah rintangan besar berdiri di hadapannya! Siapakah dia? 
Saksikan setelah pesan-pesan berikut ini.
Tamao Serizawa, tolol. 
Dan dimulailah petualangan Genji, dibantu oleh Ken Katagiri, untuk menjatuhkan Serizawa dan menguasai Suzuran. Gimana, sih, Genji ini, dia sampe berani buat ngadu dirinya, anak baru (tapi gak ingusan) melawan Serizawa yang sudah punya kekuatan bonafid di Suzuran?
ki-ka: Rindaman, Tokio, Serizawa, Bando, Izaki, Ken, Genji

The Immorals
Genji adalah anak pemimpin Yakuza.
Itu kurang?
Genji sebagai protagonis tergambarkan sangat ambisius dan dalam beberapa adegan, arogan. Jelas, lu ngirim anak Yakuza ke sekolah isinya anak tawuran semua, gimana gak cocok? Meskipun dia berperan sebagai protagonis, peran yang dia jalani di film ini setara sama anti-hero. Ayolah, semua protagonis di semua film di semua jagat pasti baik-baik, atau minimal punya nilai moral, kan?
Genji ini pengecualian. 
Ya, dia berusaha menggulingkan Serizawa. Ya, dia berusaha melawan tirani yang mengepalai semua golongan Suzuran. Tapi tujuan sebenarnya Genji bukan mengalahkan Serizawa. Melainkan jadi penguasa Suzuran. Dia sebenarnya gak peduli, sejauh mana dia bakal bertindak untuk menguasai Suzuran. Intinya, sebagai anak Yakuza, dia punya tingkat ego yang sangat tinggi. Bertindak berdasarkan insting, dan berani menghajar siapa saja yang dia anggap menghalanginya, bahkan teman sendiri. 
Trus, Genji ini ada baik-baiknya gak, sih? 
Genji, dibaliknya kesombongan tulennya, punya sisi agak baik. Misalnya egonya yang sangat tinggi membuat dia sangat setia kawan dengan teman-temannya. Dia (menurut gue) menganggap teman-temannya sama dengan dirinya. Kalo ada yang dihajar, dia menganggap dirinya yang dihajar, dan dia bisa nuntut dendam. Yah, interpretasi lain adalah dia gak pingin geng-nya kekurangan tenaga kerja. Kalo ada yang dihajar secara licik, berarti kekuatan geng-nya melemah, dan dia menganggap itu adalah kecurangan. Intinya (lagi), Genji adalah orang yang peduli dengan orang-orang yang dekat dengannya. 
Bagaimana dengan Serizawa, antagonis yang semestinya jahat?
Serizawa punya anak dari segala karakter seorang antagonis: sombong. Ya mikir aja sih, sebelum Genji dateng, Serizawa udah di atas angin. Suzuran entar lagi udah punya dia. Trus ada si anak ingusan (pernyataan yang salah, buuung) ini dateng. Bisa apa dia? Mikir gitu kali, si Serizawa ini. 
Tapi beda dengan Genji yang sangat ber-ego dan sangat temperamen, Serizawa sangat kalem. Serizawa kalem dalam arti ketika Genji udah mulai menarik perhatian dan menggalang kekuatan, dia gak panik. Dia pede dan yakin bahwa Genji ini, mau sebanyak berapapun orang yang berdiri di belakang dia, bakal kalah. Dia, menurut gue, adalah seorang good sport, tidak merendahkan Genji ketika si anak Yakuza ini berusaha melawan Serizawa.
Makin mirip dengan Genji adalah sifat Serizawa yang tidak segan. Dia gak segan menghajar orang yang dia anggap tidak sejalan dengan pikirannya, meskipun itu adalah temannya sendiri. Dia tidak segan menghajar orang yang menantangnya. Dia tidak segan membela temannya yang lebih lemah. Dia tidak segan membogem orang yang sembrono dan curang, meskipun-- ah sudahlah, intinya dia tidak segan. 
Pada akhirnya, dua manusia utama tidak bermoral di film ini adalah dua sisi dalam satu koin. Makin deket lu ngeliat mereka berdua, mereka sebenarnya sangat mirip. Paling pertama adalah mirip dalam hal kemampuan mereka menjotos orang lain. 

UUUUUURRRRREEEEEEAAAARRRRGGGHHHH!!!!!!!
Sayang sekali, gue gak sedang ngebahas pupuk urea disini. 
Yang gue bahas adalah murid Suzuran teladan pasti tereak-tereak sebelum tarung. Ya kan biar semangat. Lagian, kalo senjata tarung lu adalah jotosan lu sendiri, masa lu letoy? Ntar lu tarung letoy juga. Ntar lu baru lima menit muka lu udah kekubur ke tanah. 
Oh ya, tadi gue sebut pake jotosan?
Yep, beda dengan generasi ngawur yang kita sering liat di TV, di Crows Zero iki, mereka tawuran tanpa pake senjata dalam bentuk apapun. Yah, kecuali satu adegan tawuran, tapi itu gak termasuk tawuran, karena lawannya adalah geng motor. Ya namanya adu jotos antargeng. Tapi seriusan! Mereka disini bertarung hanya gebukan, jotosan, bogem-an, tendangan, dan tentu saja, teriakan yang bisa bikin lawan terkencing-kencing. Ya di sisi baik dari jenis tawuran yang anak-anak di TV praktikkan, mereka pinter, bisa berimprovisasi, barang sehari-hari (macam kaki kursi dan gear sepeda) bisa dijadiin senjata. 
Jadi, terpenting di film ini adalah sebagaimana kuat jotosan lu terhadap muka lawan lu. 
Dan apakah jotosan itu bisa sekuat sampai kerasa di luar layar? Jelas karena banyaknya adegan adu bogem di film ini, maka semua bogem-an yang melayang harus terasa, toh? Otherwise kita kira ini anak-anak Jepang lagi main tampar-tamparan. Ahh, kaya banci aja.
Bagusnya, film ini berhasil membuat tinju-tinju yang melayang kerasa
Kayak, kalo ada kepalan tangan mendarat di muka, kita sampe ngerasa betapa sakitnya pukulan itu. Setiap kali kena, kayak, JDUAAAKK!! Mukul pake perasaan, gitu lho. Apalagi kalo udah adu jotos berjamaah. Gak tau kenapa, gue waktu nonton jadi semangat sampe rasanya mau ikut tawuran juga. Dan gak lupa, sambil teriak-teriak. 
Di sisi koreografi, gak mungkin tertata ala The Raid 2. Ayolah, mau sekolah kurikulum tawuran juga muridnya kan bukan anak Karate semua! Yang ada adalah para murid tonjok sana tonjok sini, sampe orang yang ditonjokkin jatoh, tepar. Terutama para tokoh utama. Pokoknya tokoh figuran yang digebuk tokoh utama pasti kalah. Pasti. Kalo gak kalah, berarti figuran itu bukan figuran. 
Again and again, menurut gue, meskipun terkesan berantakan dalam hal koreografi, it's a beautiful mess. 

(+) - Tema yang dibawakan (pertarungan antarpelajar) dibawakan dengan ultra-greget.  
     - Musik yang membawakan suasana dengan baik. 
     - Karakter para tokoh terlihat diantara aura action yang tebal.
(-) - Protagonis yang terlalu antagonis.
    - Adegan dramatis yang tidak mengharukan (saking machonya film ini).
    - Kalo tidak hati-hati, film ini membawa pengaruh buruk ke generasi muda (nonton dulu, lahh).  

NILAI: 87/100

Conclusion: Faktanya, Crows Zero berdasar manga Crows yang dibuat oleh Hiroshi Takahashi. Crows Zero adalah prekuel dari manga greget ini, dan menurut gue, membuat gue menjadi semi-tertarik terhadap cerita Crows sesungguhnya. Action yang ngebakar semangat penonton, cerita yang fresh, dan tokoh yang unik adalah alasan film ini bersinar. Dua kekurangan diatas? Sebenernya tidak memengaruhi mulusnya jalan film ini. 

Until the next post, bungs! :D


 
 

Monday, March 23, 2015

Rebooted! Renamed! Remade!

Setelah sekian lamanya gue ini ber-hiatus ria dari blogging gue, akhirnya gue memutuskan untuk mengubah alter ego gue di internet. Mungkin karena gue merasa gue udah menetap dengan kerjaan sampingan blog gue, jadi butuh pijakan yang lebih mantab.

Pertama-tama, siapa, apa, atau makhluk macam apa Blinkyman ini. Lu pada masuk ke blog gue, dan ngeliat: Blinkyman's Blog. Blinkyman?? Nama macam apa itu? Lahir dari mana dia? Apa tujuan sebenarnya dia di dunia ini? Siapa aku? Kenapa kucing bekaki enam empat?? Loh? LOH?

Blinky (bling-ki, blinq-khi, bling-q) adalah.. MUSUH DARI PAC-MAN. Tepatnya, sebagai setan pengejar Pac-Man yang berwarna merah. Man adalah.. MANUSIA/ORANG/PRIA PUNYA SELERA/LELAKI. Yah kenapa dari sekian banyaknya tokoh gaming yang lebih layak gue pilih, gue malah pilih setan-setanan warna merah yang jadi warna biru klo Pac-Man salah makan obat? 

Ini dimulai dari sejarah gaming gue sebelum beralih ke PC Gaming: Xbox 360. Bagi man-teman yang belum familiar dengan sistem X360, ada yang namanya user di X360. User, ya semacam user di komputer. Ada admin, ada user dengan nama-nama aneh seperti PENUNGGU KAMAR 35, dan sejenisnya itulah. Prinsip dari User pada X360 kurang lebih mirip. Dan nama dari user ini dibawa ke dalam game, jadi kalo di game Call of Duty lu nge-kill atau di-kill, ya nama User itu yang muncul, anggeplah: ORANG_WARAS KILLED C4Y4N6K4MUCELALOEH atau C4Y4N6K4MUCELALOEH KILLED PLAYER1. Ya, itu emang alay kronis, mohon tidak ditiru di rumah. 

Akhirnya, gue setelah banyaknya kealayan, membuat User dengan nama: Blinkyman. Gue, faktanya dapet ini dari profile picture yang disediakan dalam membuat User. Gak banyak, gue harus jujur. Gak terlalu kece lagi, ini gue jujur juga. Akhirnya, dari banyaknya opsi yang disediakan, ada gambarnya si anu itu. BLINKY. Dhemit merah bermata biru yang kerjaannya ngejer-ngejer Pac-Man di game Pac-Man ras manapun. Gue pilihlah si dia, dan karena gue buat Username berdasarkan Profile Picture gue, yah beginilah jadinya. Blinkyman. Ya gue tahu gue gak kreatif. 

Loncat ke jaman 2010-an. Gue sekarang udah punya Steam, versi simpelnya: toko game online. Di Steam akhirnya pake nama-nama lagi pula, dan setelah berbagai kealayan lainnya, gue keinget Username X360 gue: Blinkyman. Gue pake lagi dah itu sebagai nick gue di game-game yang menggunakan add-on Steam (ini ngawur karena gue gak ngerti istilahnya). 

Sekarang loncat lagi ke tahun 2015. Blinkyman adalah nama yang jelas gak semua orang pake. Ya bukan apa-apa, tapi emang gak ada orang yang segoblok itu buat pake nama segoblok itu juga. Selain gue. Gue mikir buat ganti nama. Tapi, gue juga gak mau melepaskan sesosok hantu yang tumbuh bersama dengan jiwa gamer gue. Akhirnya, setelah sedikitnya pertimbangan, gue mengubah nama menjadi...

BLINQMAN. 

Ada apa dengan Q? Penjelasan terletak di Scrabble. Selain daripada Z, Q adalah huruf dengan skor tertinggi, mengingat betapa susahnya pake huruf itu. Z dan Q skor per hurufnya sama: 10. Ditambah lagi, per permainan Scrabble, dalam satu set huruf-huruf yang digunakan, cuman ada satu Z dan satu Q. Yah, itu menjelaskan betapa uniknya Q ini sebenarnya. Dan gue bertanya dengan diri gue sendiri, kenapa gak Z? Anggeplah, dengan huruf Z, nama gue bisa jadi Blinkymanz. Atau Blinkzyman. Atau ZblinkymanZ. Eh. Itu ide yang bagus juga. Atau Blinkymanzzz. Kan sama-sama uniknya. Gue beranggapan kebanyakan orang udah pake huruf Z, sekeren-keren atau sealay-alaynya dia. Penggunaan huruf Z kan, bisa dalam bentuk 'Duhhh ngantukzzzz bangettzzzz'. Q? Palingan cuma satu orang terkenal, yaitu Q dari serial James Bond. Tugasnya? Memberikan peralatan greget kepada Bond macam Aston Martin bersenjata mesin dan pena yang bisa meledak. 

Lagipula, bunyi 'kee' pada 'ky' bisa diganti dengan bunyi 'kee' pada Q, kan? 

Secara sangat waras dan terhitung, domain dari blog ini juga berubah. Menjadi blinqman.blogspot.com. Jujur, sebenernya domainnya sempet gue ubah jadi bloodphantom.blogspot.com. Wuusshhh, mantep toh? Sayangnya mendapatkan kritisi negatif dari berbagai pihak, termasuk nyokap gue sendiri. Bilangnya, 'terlalu serem', 'terlalu alay', dan 'terlalu drastis'. Drastis dalam arti kenapa gue yang fun, funky, dan ringan tiba-tiba punya nama BLOOD PHANTOM. Setan Darah, broooo. Itu udah kayak cerita-cerita serem yang ada di novel-novel serem yang ada di bagian-bagian terserem di Gramedia. Apaan tuh? Akhir cerita, blinqman.blospot.com.

Aneh, makin alay aja gue, ya?

Dan faktanya (lagi), judul post ini gak berarti. Yang relevan cuman RENAMED!-nya doang, karena nama ganti, domain ganti, judul ganti.. tapi isinya tetep. Mungkin ada tambahan-tambahan, tapi marilah kita bersama berharap gue bisa lebih baik dari gue-gue yang terpampang di blog ini di selanjutnya. 

BlinQman, ya? Okeeee?

Until the next post, bungs! :D

Saturday, March 14, 2015

THIS IS NOT A REVIEW: Big Hero 6

Starring: - Ryan Potter (Supah Ninjas) as Hiro Hamada
             - Scott Adsit (Mary Shelley's Frankenhole) as Baymax
             - Daniel Henney (X-Men Origins: Wolverine, The Last Stand) as Tadashi Hamada
             - T.J. Miller (Transformers: Age of Extinction) as Fred
             - Jamie Chung (Dragon Ball Evolution, The Man with the Iron Fists) as Go Go
             - Damon Wayans, Jr. (Let's be Cops) as Wasabi
             - Genesis Rodriguez (Hours) as Honey Lemon
             - James Cromwell (L.A. Confidential, The Green Mile) as Robert Callaghan 
Budget: $165 juta
Box Office: $572,2 juta
Lama: 1 jam 42 menit

Mendadak band Fall Out Boy menjadi terkenal, padahal gue gak mereka sebelum tahun 2013, tahun lahirnya film Percy Jackson: The Sea of Monsters. Yang udah nonton dan bertanya-tanya lagu macam apa yang dimainkan waktu Percy loncat-loncat dan salto di awal film, ini gue kasitau. Judulnya adalah *tarik nafas dalem* My Songs Know What You did in the Dark (Light Em Up). Emang panjang banget kan judulnya, makanya gue tarik nafas dulu. Eh, kok gue ke sini?
Intinya, teman-teman, gue tahu pertama kali film ini adalah saat gue mau nonton The Maze Runner (yang ironisnya, seperti yang gue bahas sebelumnya, gue tahu saat sedang nonton film lain). Trus, ada semacam preview, trailer, ekstra, cinematic, apapun lah itu cara nyebutnya. Ternyata adalah trailer dari film ini, Big Hero 6, diiringi dengan chorus-nya MSKWYDITD (LEU). Waktu itu gue kira Big Hero 6 adalah film animasi *maap banget* low-budget yang sering nangkring di sinema-sinema lokal. Maksudnya, film animasi yang jarang orang tonton karena, yah, film animasi lainnya yang lebih terkenal. Lagipulaa, gue liat developer-nya, yaitu Disney. Tok. Yah biasanya ada Disney-Pixar yang hobi buat film-film CGI mantep macam Up, Wall-E, Cars, Toy Story, dan semacamnya. Buatan Disney, sendirian, secara khusus Walt Disney Animation Studios? Penghasil lagu move-on tergreget sepanjang segala abad, Frozen. 
Apakah film ini mampu membuktikan bahwa Disney memang bisa buat film animasi dewe?  

(Akhirnya) Bukan dari Dongeng
Salah satu kebiasaan Disney, buruk atau bukan, adalah kebanyakan film-nya (garisbawahi kebanyakan) adalah adaptasi dari dongeng terkenal. Bayangin aja, dari 2000-sekarang, tercatat 8 biji film Disney adalah adaptasi dari dongeng, klasik atau kontemporer, terkenal atau enggak. Belum lagi film-film masa kecil seperti Snow White, Cinderella, Pinocchio, dan kaum-kaumnya. Susah sih buat Disney, udah semacam mengakar dan menjadi tradisi untuk membuat film berdasarkan suatu cerita.
Sampai Walt Disney Company membeli Marvel Entertainment, 2009.
Oke jelas ini mantep banget. Marvel itu kan yang buat superhero kece macam Sapidol Spider-Man, Setrikaan Iron Man, Captain America, dan teman-temannya. Okelah kalo itu semua udah dibuat filmnya (huhu, jadi gak ada Spider-Man buatan Disney dong), tapi liat aja komik-komik Marvel yang belom dibuat filmnya masih banyak! Bejibun banget kemungkinan-kemungkinan film yang Disney bisa buat. Apalagi karena mereka bisa aja kehabisan dongeng-dongeng pengantar tidur itu, kan?
Setelah kurang lebih lima tahun setelah dibelinya Marvel Entertainment, Disney akhirnya membuat sebuah film berdasarkan komik Big Hero 6, dengan judul film yang sama.
Apa pendapat gue tentang (permulaan) perubahan source material Disney?
Yah kita mulai dari apakah mereka bener-bener setia terhadap sumber aslinya. Sejauh yang gue tahu, Disney memang secara umum setia, tapi sering sekali mengubah nada dan irama cerita. Jelas aja, biar gak terlalu gelap dan tragis, minimal setragis cerita aslinya, seperti The Little Mermaid (SPOILER: di cerita aslinya, Ariel bunuh diri). Lagian, Disney adalah pembuat hiburan untuk anak-anak, kan? YA KAN? Maap ngelantur, sekarang balik lagi ke pertanyaan: Apakah Disney tetap loyal terhadap kisah asli Big Hero 6?
Oke, anggep aja kayak film The Maze Runner (lagi). Team Big Hero 6, misalnya. Mulai dari Baymax, yang di film dibuat oleh Tadashi, sebenarnya di buat oleh Hiro sendiri di komik. Baymax sendiri juga bukan robot bantal kayak di film. Di komik, dia adalah semacam bodyguard dan ajudan bagi Hiro, dan dia bisa berubah wujud menjadi sebuah makhluk-mirip-naga. Meskipun dia tetaplah robot, tapi jelas gak ada deket-deketnya sama guling hidup yang ada di film. Sekali lagi, Disney, membuat segala source material lebih kid-friendly. Malahan, tim Big Hero 6 di film gak kalah gampang diserap dan tetep nyambung sama sumber aslinya, meskipun dengan wujud kekuatan yang berbeda.
Apa yang gue bilang soal film-film yang kayak beginian? Unwatchable. Oke, sebelum gue dirajam dengan tomat, batako, dan benda keras lainnya, unwatchable artinya unsur di komik tidak ada di film, oke? Bagaimanapun, film ini lebih berkesan sebagai reboot dari komiknya, dengan unsur-unsur yang lebih miring ke arah teknologi dibandingkan dengan kekuatan gege belaka. Ayolah, semua kekuatan Big Hero 6 di film berdasarkan iptek! Nonton dulu, wes.


The Immortals
Apa yang gue bilang soal terkenalnya Fall Out Boy secara tiba-tiba? Nampaknya selain MSKWYDITD (LEU), Fall Out Boy punya Immortals, yang menjadi soundtrack film ini. Lagu ini punya hubungan dengan tema film ini, yaitu sekelompok orang-orang biasa yang menjadi superhero luar biasa. Menjad, yah, dengan segala kekurangan gue membuat quotes keren, Immortals. Abadi. Dan, bagaimana dengan orang-orang abadi ini?
Duo Harada, Hiro dan Tadashi, adalah protagonis dan deuteragonis secara berurutan. Gimana cara lu buat orang yang gak punya kekuatan super menjadi jagoan? Hiro, jelas, badannya kecil, dan dia keliatan culun, meskipun gak ada sebanding sama komiknya. Tim-nya masing-masing punya kekuatan super, bagaimana dengan dia?
Kepintaran yang punya tingkat: PINTERNYA PINTERNYA PINTER.
Justru dari Hiro-lah, ada tim superhero Big Hero 6. Dia yang menemukan potensi-potensi dari masing-masing anggota tim (Go Go, Fred, Honey Lemon, dan Wasabi), kemampuan mereka masing-masing, dan memanfaatkan semuanya untuk dijadikan kekuatan super. Desain kostum, senjata, gadget-gadget canggih, terutama punya Baymax, idenya si Hiro ini.
Dan apakah orang yang sangat pintar berarti dia gak punya kelemahan? Yah Hiro masih muda, dan jelas, hal ini mengarah ke satu hal: kelabilan. Dalam film, sepinter-pinternya Hiro, dia, menurut Baymax, sering mengalami mood swings atau bahasa Indonesianya: kegalauan. Dan di situlah datang tokoh deuteragonis 6 Pahlawan Besar.
Tadashi Hamada, voiced by Daniel Henney.
Anehnya, Tadashi tidak hadir dalam konflik utama cerita, tapi menurut gue dia tetaplah seorang deuteragonis, dan yang bagus pula. Tadashi adalah kakak Hiro, dan adalah pelengkap yang sangat bagus bagi Hiro. Meskipun dia punya, seenggaknya, taraf kepinteran yang setara dengan Hiro, tapi dia adalah semacam moral compass bagi Hiro. Dia adalah pemotivasi Hiro, dan juga sebagai satu-satunya pendukungnya di tengah kemelaratan. Padahal, kaya yang gue bilang sebelumnya, tidak hadir dalam mayoritas film. Gimana caranya, tuh!?
Dan bagaimana dengan yang lain? Fred, Go Go, Honey Lemon, dan Wasabi? Masing-masing punya watak yang sangat unik, padahal pemunculan watak tersebut sangat singkat. Fred yang funky dan Go Go yang tangguh dan berani (padahal kaum hawa, lagian Go Go juga bukan nama wanita yang kewanitaan banget). Honey Lemon yang penuh gairah, dan kedengeran adalah satu-satunya tokoh di film yang menyebutkan nama Hiro dengan benar. Wasabi, meskipun memiliki badan paling besar di tim (di bawah Baymax, jangan salah), tapi sebenernya sangat rapi, terkendali, dan (mungkin) terlalu patuh sama peraturan.
Mantepnya, karakter mereka sangat terlihat dan sangat hidup, padahal tidak terlalu sering dimunculkan. Ini disebabkan oleh cerita yang lebih berputar diantara perkembangan karakter Hiro dan chemistry yang dia punya dengan Baymax. Tapi, tokoh-tokoh sampingan ternyata bisa punya karakter yang unik, kan?

Light 'Em Up!
SO LIGHT EM UP UP UP LIGHT EM UP UP UP I'M ON FIREEEEEEEEE!!!!!!!
Ah maap kebawa suasana.
Asal tau, tadi itu adalah chorus dari lagu trailer film ini, MSKW.. ah sudahlah. Dan ngapain gue menghubungkan lagu itu dengan pembahasan gue kali ini?
Yah akhir-akhir beredaran film animasi dengan tema yang super-berat. Yah, anggeplah seperti Wall-E, Frozen, dan Up. Wall-E menggambarkan bagaimana manusia bisa sangat maju dalam hal teknologi tapi sangat mundur dalam hal kemanusiaan. Up menggambarkan bagaimana usia bukanlah rintangan dalam menggapai mimpi. Frozen menceritakan bagaimana tidak harus selalu pangeran yang menyelamatkan sang putri. Maksudnya pembawaan tema yang bisa menggugah hati dan akhirnya film ini nyasar ke piala-piala Oscar, meskipun film ini juga nyasar ke sono, sih.
Gue di sini bukan buat nguraiin tema yang dibawakan di film ini, tapi CARA PEMBAWAANNYA.
Ngomong-ngomong tema dari film ini (minimal menurut gue) adalah yang terpenting bukanlah di film, game, atau komik jenis apapun, motif balas dendam endingnya gak pernah baik.
Nah, jelas itu adalah tema yang dalem banget dalam film kayak ginian, karena faktanya tema itu adanya di game macam God of War, atau film John Wick. Dua-duanya punya genre action tingkat tulen, bukan animasi. Namun, pendapat gue mengenai film ini adalah film ini gampang dicerna oleh penonton sasarannya, yaitu semua umur. Ringan, istilahnya.
Kenapa?
Yah pertama-tama karena dialog antartokoh yang simpel. Gak banyak pake majas, penyiratan, subliminal message, dan semacamnya. Dan percaya gue, klo materi BI gue mengandung majas, gue nyerah. Dialog tidak terlalu bikin bosan karena hidup dan penuh ekspresi. Di sisi lain, juga tidak terlalu ekspresif dan terlalu indah sampe-sampe setara dengan Shakespeare. Halah. Dialog juga gampang ditangkep dan bahkan, dengan kata-kata simpel dapat menunjukan dengan baik perasaan dari tokoh-tokohnya. Bahkan Baymax yang notabene adalah seekor sebuah robot, koplak banget! Padahal robot, dan selama film, nada bicaranya datar.
Lainnya adalah adegan, sequence, dan scene dalam film tidak terlalu berat. Gue akuin, gue gak terlalu suka genre drama, atau action drama. Kalo ada adegan mengharukan dalam film, gue biasanya rusak keadaan mengharukannya dengan perkataan semacam, "Yah, mati deh dianya." Ada adegan mengharukan dalam film ini, yang sayangya gue rusakin juga. Tapi bagusnya adalah cara mereka memanfaatkan adegan tersebut. Bukannya dengan eksploitasi yang setara dengan memeres seperes-peresnya susu sapi. Biasanya film drama itu kalo ada adegan mengharukan, ada aja si tokoh utama sampe tengadah ke langit (cuacanya ujan-ujan gitu), terus tereak "TIDAAAAAAAAAAAAKK!" Kalo berhasil, ya bagus. Kalo gagal, malahan ketawa, bukannya nangis.
Cara mereka di sini adalah adegan mengharukan yang mengagetkan penonton terjadi, lalu bukannya itu adegan sampe berlarut-larut, tapi efek dari adegan itu dibawakan dalam cerita. Kalopun misalnya ada adegan yang mengungkit lagi adegan mengharukan itu, gak terlalu panjang, tapi jelas. Jadinya, penonton gak nangis, tapi ya terharu juga. Lagian, ini film anak-anak, kan?

(+) - Sekilas beda, tapi tetep setia sama sumber aslinya.
     - Karakterisasi yang bagus  dan keliatan dari semua tokoh.
     - Pembawaan tema berat tidak membuat penonton kehilangan fokus dari nature film yang kekanak-kanakkan.
(-) - Antagonis yang kurang jahat.
    - Ada unsur film yang tidak terselesaikan (nonton dulu wess...)

NILAI: 95/100

Conclusion: Pertama kalinya Disney mengadaptasi bukan dari cerita panjang, atau cerita pendek ternyata berbuah kecut manis. Banget. Storytelling yang ringan tapi cerdas, tokoh yang unik dan tridimensional, voice acting yang manjur, dan masih banyak lagi unsur mantep dari film ini. Semoga ini mendorong Disney Animation untuk membuat adaptasi komik lagi, dan gue dengan sabar menunggu masterpiece mereka selanjutnya.

Until the next post, bungs! :D


Friday, February 27, 2015

THIS IS NOT A REVIEW: The Raid 2

Starring: - Iko Uwais (Merantau) as Rama
             - Arifin Putra (Rumah Dara, Hati Merdeka) as Uco
             - Tio Pakusadewo (Habibie dan Ainun, Java Heat) as Bangun
             - Alex Abbad (Merantau (lagi), 99 Cahaya di Langit Eropa) as Bejo
             - Yayan "Mad Dog" Ruhian (Merantau (kebetulan tolol macam apa ini?)) as Prakoso
Lama: 150 menit
Budget: US$ 4,5 juta
Box Office: US$ 6,5 juta
Genre: Martial Arts Action Crime Thriller 

Setelah hampir 17 tahun berleha-leha (baca: hidup) di Indonesia, gue sampai kepada sebuah kesimpulan. Tentang dunia layar lebar Indonesia. Bahwa dua genre film yang paling marketable terhadap masyarakat penonton Indonesia adalah dua: Percintaan dan Hantu. Kadang dua-duanya digabung menjadi sebuah fusion yang lebih serem dari genre Horror itu sendiri. Yep. Hantu Bercinta. Gue baru aja bertarung dengan hasrat tubuh gue untuk langsung muntah ke layar laptop gue setelah menulis kata tersebut. Sampai akhirnya pada tahun kiamat 2012, gue menemukan genre baru yang membawa angin sejuk terhadap perfilman Indonesia: Action. Dalam bentuk The Raid: Redemption. Film action yang gak tanggung-tanggung dalam setiap adegan actionnya! Dar! Der! Dor! Jdug! Croot! Emang bener-bener sadis sih, tapi gue udah terbiasa sama adegan sadis saat masih bertualang dengan game-game gue. Lagian, jarang-jarang, toh, ada film Indonesia yang bisa menghasilkan salah satu meme paling terkenal di 1Cak? Yah, klo gak ngerti silakan ke www.1cak.co.id . Intinya, The Raid: Redemption merupakan salah satu film action terbaik yang pernah gue tonton selama gue idup. 
Dan gue tetep antusias, malahan rada kayak kesambit, waktu gue denger sekuel film greget ini diumumkan. Dengan judul The Raid 2:  Berandal. Mungkin The Raid 3 punya subtitle Gelandangan (ini lagi-lagi gue dapet dari 1cak), tapi gak tau ya. Gue bener-bener seneng dan langsung kepincut bahkan ketika baru liat trailer-nya doang. Pas waktu BARU dirilis di Indonesia, deket-deket ulang tahun gue, gue langsung nonton. Kata adek gue sih, sadis-sadis sampe orang bule yang nonton muntah di bioskop gitu. 
Apakah gue tetep muntah, seperti gue muntah ketika melihat perfilman Indonesia yang yah begitulah, atau apakah gue puas sama seperti gue puas sama The Raid: Redemption?

Now with a STORY!
Mereka bilang The Raid yang pertama memiliki sebuah kelemahan mayor, yaitu cerita yang mendingan-gak-usah-ada-sekalian. Gue bilang, cerita di The Raid memang menjadi latar belakang action yang ultra gila dari film tersebut, dibandingkan action yang waras menjadi latar belakang dari cerita yang semi-waras dari film-film action biasanya. Intinya, fokus dari The Raid bukanlah cerita, melainkan action. Tapi nampaknya sutradara Gareth Evans (kapan nih, kita bisa punya The Raid sutradara asal dalam  negeri?) mendengarkan orang-orang yang bercuap ini, sehingga di The Raid 2 kita punya cerita yang lebih dalam. 
Cerita bermulai beberapa jam setelah peristiwa pembacokan, penembakan, dan penggorokan di The Raid berakhir. Rama disarankan oleh Andi untuk menemui seorang petugas polisi bernama Bunawar, dan memberikan bukti bahwa Tama, antagonis The Raid, sedang menyuap pihak kepolisian. Bunawar setelah menerima bukti langsung mengajak Rama menjadi anggota tim rahasia kepolisian yang bertugas menyelidiki korupsi dalam kepolisian. Bunawar sendiri menjadi kepalanya. Rama awalnya menolak, tetapi setelah mengetahui Andi dibunuh (maap banget spoilernya, tapi ini spoiler udah ada di beberapa menit pertama film, jadi begitulah) karena membantunya, ia akirnya setuju, dengan alasan Bunawar memperingatkan Rama sang pelaku bakal mengincar Rama dan keluarganya. 
Dan masuklah Rama ke dunia kejahatan yang lebih greget dari Mad Dog. Sebagai petugas yang menyamar, Rama ditanam dalam organisasi Bangun, salah satu organisasi kejahatan tergege di Jakarta. Caranya? Mendekati Uco, anak Bangun. Dengan ini, ia bisa mendapatkan kepercayaan Bangun, dan diterima dalam organisasinya, sambil melakukan penyelidikan terhadap dugaan penyogokan Bangun terhadap kepolisian. 
Dalem, kan? The Raid memiliki cerita yang cenderung eksplosif dan blak-blakkan, sedangkan The Raid 2 condong ke arah sembunyi-sembunyi dan subversif. Tapi jangan kira gak ada  bunuh-bunuhannya, ya...

The Return of the Mad Dog
Bahasa Indonesianya: Kembalinya si Asu Edan. Ooh, maap, itu bukan bahasa Indonesia beneran, sih. Apa yang gue bahas disini? Kita semua yang udah nonton The Raid yang pertama pasti inget tokoh Mad Dog yang diperankan oleh Yayan Ruhian. Mad Dog, seperti namanya, adalah serba anjing gila. Berantem ya kaya anjing gila, ngomong ya kaya anjing gila (meskipun gak sepenuhnya gila), dan aktingnya ya lebih gila lagi. Hanya Mad Dog yang mampu menyaingi tokoh utama Rama dalam bertarung, bahkan kalo bukan karena lampu neon nyasar mungkin Rama udah dipotekin lehernya sama ni orang (nonton dulu!)
Kenapa orang kaget akan keberadaan Mad Dog di The Raid 2?
Dia udah mati.
Emang bener, lampu neon nyasar memang telah menyelamatkan Rama-- dan mengakhiri hidup Mad Dog yang gue gak peduli sebenernya lahir dari dewa tarung macam apa. Intinya, Mad Dog tewas, jadi gak mungkin dia ada di The Raid 2, kan?
Siapa yang bilang itu si Mad Dog yang diperanin Yayan Ruhian di The Raid 2?
Yayan Ruhian memerankan Prakoso, ahli bunuh yang bekerja di bawah komando Bangun. Yang gue suka dari Prakoso adalah  betapa berbedanya dia dengan Mad Dog yang ada di The Raid. Mad Dog, seperti yang lu tau, saking gregetnya dia sampe dia punya meme sendiri. Prakoso, mungkin kalo berantem memang seganas Mad Dog. Tapi, karakterisasinya, seriusan, bener-bener beda. Mad Dog mungkin kalo dia dibolehin sama sutradaranya abis bunuh orang pasti dicabik-cabik trus dihidangkan dengan saus lemon trus dimakan sama dia. Intinya, sadis bener.
Prakoso, di sisi lain, kalem. Aneh kenapa dia bisa sekalem itu, padahal diperankan oleh orang yang sama dalam serial film yang sama. Prakoso terlihat lebih cool dan terkesan tenang dalam setiap adegan yang melibatkan dirinya. Terutama adegan dia ngomong-ngomong sama istrinya (edan, cantik banget! Emang bener istrinya ya?) dan juga adegan dia ngomong sama Uco. Nada bicara dia jarang banget naik, tapi dalam akting Yayan Ruhian terdapat juga Prakoso sebagai pembunuh bayaran yang, err, baik. Ya, emang Prakoso tidak berperan dalam sisi antagonis cerita, tapi baik dalam arti disini adalah baik yang gak mungkin lu lihat dalam seorang pembunuh profesional. Lemah lembut, lah. Akting Yayan Ruhian dengan baik memberikan kesan bahwa si Prakoso itu sebenarnya juga punya sisi halus juga.
Salut gue sama si Mad Dog ini, pekerjaannya bukan aktor tapi dia bisa ngebuat karakterisasi seorang tukang bunuh-bunuhan punya sisi yang tidak terlalu suka bunuh-bunuhan. Mantabh.

Nothing but the Kills
Dan ini adalah fitur yang paling gue suka dari film ini! Betapa semua unsur yang terdapat dalam The Raid di-upgrade! Unsur yang orang suka, seperti koreografi joget adu gebuk yang lebih indah dan lebih rapi, darah yang mencrat-mencrot dan terlihat seperti darah betulan, dan tipe adegan action yang lebih penuh variasi! Mengenai darah betulan, gue pernah bahas masalah darah yang kayak Fanta abis dikocok (The Man with the Iron Fists), atau yang belum pernah gue bahas, darah kayak saus tomat (The Raid: Redemption). Sekarang efek darah, ya kayak darah gitu. Encer dan bener-bener merah, dan keluar seperlunya dan serealistis mungkin.
Unsur yang orang kurang suka, seperti cerita yang terlalu transparan, semacam bersih bening kayak gak ada cerita (yep, nyolong dari Cling). Soal cerita, gue bahas di atas.
Yang gue perhatiin dari blockbuster Indonesia ini adalah fokus yang bener-bener sama yang namanya cerita, dan apa yang terjadi dalam cerita tersebut. Mikir aja sih, kalo misalnya semua unsur diperhatiin, penonton bingung entar. Latar kebanyakan, tokoh kebanyakan, konflik kebanyakan, orang bakal bingung sebenernya ini nonton The Raid ato film konspirasi macam The Departed. Jadi, detail-detail yang tidak terlalu penting ditinggalkan dalam film ini. Latar kota tempat semua kejadian The Raid 2 tidak dikasitau. Meskipun semua orang tau jelas ini adalah Jakarta. Bagaimanapun pada menit ke 81 akan dipertanyakan dengan sungguh-sungguh sebenarnya settingnya di mana.
Intinya, sepertinya Pak Sut Gareth Evans menebalkan, menggarisbawahi, memiringkan, dan mengcapslock action di sini. Gak. Banyak. Bacot. Gue suka.

(+) - Action yang lebih kreatif dan lebih rapi (meskipun lebih banyak darah).
     - Yayan Ruhian yang minim pengalaman akting membawakan Prakoso dengan baik.
     - Cerita yang lebih nyambung dan lebih solid.
(-) - MENIT. DELAPAN. PULUH. SATU.
    - Lagi-lagi ending nggantung.

NILAI: 93/100

Conclusion: Peningkatan di kurang lebih semua unsur terdapat dalam sekuel The Raid ini. Jarang gue temuin sekuel yang lebih bagus dan asik dibandingin film pertamanya, dan bagusnya, ini adalah salah satu dari sekuel-sekuel itu. Ending yang ngegantung bikin dongkol, emang, tapi itu adalah pemicu gue untuk mantengin The Raid 3, kapanpun ia akan datang.

Until the next post, bungs! :D


Monday, February 23, 2015

Chapter 2 of Roque Mendez, Debt Collector

Those light stunt with the burglars had him at least pulling himself up from his couch, Mendez thought. After he disposed of the unconscious thieves, tidied up his apartment and cleaned any blood stains left behind, he went for his couch-- again. Mendez lied on his couch, and tried to close his eyes in an attempt to fall asleep. After achieving full tranquility and finally starting to drift from consciousness, his phone rang. Mendez was startled, and thinking his phone was inside his pants' pockets, tried to fetch it from there. Then he realized his phone was located on the small table his wartime photo was also located. He sat upright, trying to reach the phone, of which was still ringing. Due to him actually being terribly drowsy, he accidentally nudged his own phone, sending it to the floor. He heard the impact of his phone, and cursed silently. When he tried to reach his phone on the floor, which is still ringing in spite of the fall, Mendez lost his balance on the couch, and tumbled on the floor, crashing down with a solid thump. When he finally got hold of his phone, it was no longer ringing, the call was missed. Infuriated, he decided to sleep on the floor right there and then.
When he came around, it was already morning. The sun shone through the only window his apartment got. He was still on the floor, lying. In his black leather jacket and all. He even still had his brown boots on. He felt stupid. One second he became a home defender, jabbing those thieves out cold. The next second, he stumbled from his own couch, half-asleep, all for a cell phone. It was two significantly contrast behavior one man could've done in one night. He rose from his position, and fetched his phone. He looked at his phone call log, specifically the one he missed last night. It was a set of jumbled numbers with the area code at the front. Curious, he called the number. 
After a couple of seconds, someone picked up. Male. "Who's this?" are the words Mendez heard first. "The guy you called up at 12 AM. Jesus man, didn't you know one irmao is asleep?" "I thought your business did not know any boundaries on time of appointment." "Yeah that applied when I'm definitely not asleep! From whom did you get this number?" "It doesn't matter, Mr. Mendez. What mattered are your competence in this occasion. I've heard from the person who gave me your number that you are very skilled in... collecting debts." "Oh, that person must've been Big T. I've done a couple of jobs for 'im recently, mostly in collecting debts from--" "Am I correct?" There was a brief pause before Mendez replied, "Well, if that's how T is going to put it, you can say I'm capaz." "Well, I've got a proposition for you." "This better be good." "I do hope you are interested in my offer. Someone owed me big time." "And how much is this 'big time' we're talking about?" "Eight hundred thousand dollars. Goes by Cliff Daniels. Sucks at backroom poker. If you manage to pull this off, I'll give you thirty percent of the money he owed." "And how will I know this is not some poor pateta whom you just thought deserved to suddenly owe you eight hundred thousand bucks?" "I'm sending your number his bank records. In advance, I'm telling you that from his investments in various businesses around town, he had already acquired three million dollars. Of course, in case you don't understand math, three million dollars is more than enough to cover up the money I loaned to him." "Ah, entendo." "Don't ever contact this number again. And before you proceed, Mr. Mendez, Daniels had used some cash he had on him to hire some muscles, in case someone like you showed to collect something that isn't  rightfully his." The other guy hung up. Mendez put the phone in his pocket, then took out from his all-along-hidden gun holster a revolver -- Taurus Raging Bull, with some intrigue carvings on the barrel. His signature gun, where pulling it off from his shirt was intimidating enough for his opponent to throw away their guns. Roque thought, muscles? Just the way he liked it.
Along with the bank records (which did not lie about Daniels' wealth) sent to Mendez was two addresses. One was Daniels' home address, and the other was supposedly the place Daniels' usually hang out and play some poker. Minutes later, Mendez was at the debtor's apartment doorstep. No sound was made from inside of the apartment. It should have occured to Mendez- Daniels' supposedly hired muscles weren't around. At least, when those tough-guys-Mendez-hadn't-met were around, they were there to protect something of Daniels' possession - be it cash, lucky poker chip, or even himself. So he tried breaking down the door. A couple of hefty kicks had almost broken the door down. When Mendez went for the third, he heard footsteps that weren't there before, and a shriek. It was Daniels, surrounded by two men, full of muscles (hence the term muscles) both seemingly eager to punch Roque in turns. "Hey! You trying to break my apartment down? Roberts sent you, didn't he?" Roque dryly replied, a pint of laid back attitude was heard from his voice. "Bem merda, I didn't even know his name was Roberts. You owed him three hundred grand, didn't you?" "Well, if he was to take it from me, he was gonna get it by himself, instead of sending off some chump from you!" Roque felt this was at least the six hundred time he was called a chump and felt different from the first time he was called that. He felt energized instead of humiliated. After all, in this line of job of debt collecting, it's the first thing he'd expect. Still, his reaction was still the same. He whipped out his revolver and shot Daniels' at the leg. Of course he'd shot his tall goons if he'd make it quick, but he slipped the gun into his holster and marched to kick the bodyguards in the ass.
The way Mendez saw it: Tank Top and Muscle Shirt. Both were similarly burly in build and looked eager enough to smash Mendez' head into the wall. Tank Top walked upon Mendez slower than Muscle Shirt, but he seemed to be more calculative; seemingly examining and deliberately anticipating Mendez' movement.  All while Muscle Shirt approached Mendez faster, more reckless, and seemed to have his nostrils blowing out hair like a bull in a bullfight, ready to charge on his matador. Only now it wasn't some enthusiastic bullfighter with a red cape. Just a downsized adversary. But Roque thought, not like that. He's had so much of goons thinking him as a frail blond guy oblivious to trouble. Fact is, he's had so much now he had gotten used to it.
Muscle Shirt gave a hefty swing on Mendez only for his fist to hit nothing. Mendez had ducked and almost instantly gave Muscle Shirt a blow to his crotch before moving up on Tank Top. Tank Top sent Mendez an upfront kick only to find it being blocked by Mendez. That is, before Tank Top jabbed Mendez in the face. Mendez raised both his forearms fast enough to block Tank Top, and then punched him across the face. Tank Top was thrown to the wall, his face came crashing into the the concrete. For good measures Mendez grabbed him by the crown and then shoved Tank Top's face to the wall. Tank Top surprisingly still budged, which made Mendez kicked his thigh, sending him on his knees. He was about to grab Tank Top's crown again when a pair of hand locked itself on his arms. Mendez couldn't see, but he immediately knew this was Muscle Shirt. The lock was very good that Mendez' struggle was not enough to break himself free. Instead, he took some step back until he pinned the wall hard. He heard a loud thud, hoping it was Muscle Shirt impacting against the wall. The grip on his arms suddenly loosened. Knowing he'd somehow hurt his captor in some way, he immediately knelt and bowed his head. This resulted in Mendez flipping Muscle Shirt over his body, sending him to the ground on his back. Muscle Shirt was stunned by this turn of events, but one last thing-- Roque Mendez' fist landed on his face, and suddenly he went dark. Mendez saw Tank Top attempting to get on his feet, and he instinctively kicked him in the face. It dazed Tank Top, making him whimpering in agony on the ground. Mendez wanted to make sure him not getting up, so he stomped on Tank Top's chest, shutting off the whimper. Now he's going for Daniels.
Two reasons for Mendez  shooting Daniels on the leg: He didn't want to off him, due to him the only being to know the location of his thirty percent. Second, Daniels would've left a noticeable trace of blood, or at least limped due to a .44 round crashing into his leg. Either way, it wouldn't be hard to find him. The blood traced to a level below; then into a room. Mendez banged on the door. "DANIELS!" No answer. "DANIELS!" Silence. "Daniels! Eu sei que você está aí!" Then he considered Daniels not understanding a thing he just blurted out. "Daniels! What I just said is, 'I know you're in there'!" Not even a sound from inside. "Seriously Daniels, have you considered the blood from your leg leading me to you!? Ah, never mind, this is gonna end one way or another anyways." With those out from his tongue, he kicked the door down. He found Daniels, obviously startled, on the center of the room. Near  him were an Asian family; mother, father, even a little girl. Suddenly Daniels took out a balisong from his pocket and clutched the little girl. He held her in front of him, pointing his folding knife at her, using her as a human shield. "Back off!" he shrieked. Mendez took out his revolver and readied his gun, setting his sights on Daniels. The latter responded, "Put that down! Put that piece down or this little gal is going to buy it!" Mendez replied, "We both know I'm not gonna do that. There's no need to drag some poor little girl into our business! Either you let her go, or instead, YOU are going to buy it." The little girl cried, and her parents spoke to her in Mandarin, trying to reassure her 'it's gonna be okay', by the looks of it. Daniels saw this and then turned to the mom and dad. "Shut it! Don't you ever give her any ideas. pal. I'm not kidding by slicing this girl's neck in front of you!" But the parents kept on talking, now evidently at Daniels, obviously talking him into letting their only daughter go. "I said shut it! Don't talk to me like that, or--" Daniels put his knife close to the girl's neck "'-- she's really gonna get it!" Roque was still aiming at Daniels, thinking Daniels might have done nothing more than bluffing, but judging by the situation, he was obviously put to the edge. It's not like he's going to slit the girl's throat, but it's also not like talking him out of this is going to get the job done. Roque saw Daniels still shouting at the family, distracted. He quickly took aim and discharged his gun.
Gunfire shook the room like thunder. Daniels howled, his right hand letting go of the knife and his left letting go of the daughter. Roque shot him at the same leg, only now he shot Daniels at the thigh, instead of at the shin like before. Daniels went down on his knee. Mendez walked to him, trying to subdue him before Daniels took the balisong and backhanded him. Roque was faster. He managed to drop his gun and grabbed Daniels' arm, then used the arm as a leverage to Daniels' body and sending it against his knee. Daniels' was knocked back, now bleeding heavily at the nostrils. Roque held him by the shirt and then put his gun on Daniels' wound. "Now, Senhor Daniels. It's not like I'm not gonna put another hole in your body. So you tell me, are you going to give Roberts his eight hundred grand?" Daniels was weak, but still managed to answer. "How am I gonna give it to him? You've beaten me to a pulp. I'm weak enough to be unable to get out of my bed, much less deliver that Roberts bastard his cash. Have you thought about this?" "Yeah then you better tell me where do you keep the money before I make you pulpier." "Ehh.. screw you." Daniels spat blood at Mendez' face. "Well, if that's the way you're gonna put it.." Mendez pressed his gun on Daniels' leg wound. The latter wailed in agony. "Tell me again. Where is the money?" Roque said as he loosened his gun. "AARRGH! Alright! Alright! I'll tell you!" Roque leaned to have a good listen. ".. in your mother's underwear cupboard." Roque now stepped on Daniels' wounded foot. He wailed even louder, his scream tore through the room. "Have I ever told you about talking trash about my madre? I don't normally make anyone paralyzed for life, but you're not even making this easier for yourself." "Stop it! STOP IT! AARGH! MY GOD! STOP!" "Anytime after you tell me where the money is.." "HOLY-- AARGH! MY APARTMENT! THE SAFE INSIDE THE BEDROOM! CODE 9367! JUST STOP!" Roque lifted his own foot from Daniels' leg. "That wasn't so hard, wasn't it?" "The cops are not gonna let you walk after this!" "I didn't murder you and feed your remnants to dogs, did I?" Roque walked away from Daniels, now slipping from consciousness. Roque saw the Asian family, terrified on what they had witnessed in the last five minutes. "Look I'm really sorry for the inconvenience. I'll pay for the door damage--" he pulled his wallet and gave some of his dollar bills to the father "-- and make sure to call the ambulance for this poor bastard. Again, I'm really sorry the sumbitch entered the wrong apartment and almost killed your daughter. I do hope you not having a vendetta against this deadbeat. He's just being pushed to the edge is all. Have a nice day." And with that, Roque left the apartment, leaving the family in complete shock and Daniels in complete unconsciousness.  

  

Saturday, February 14, 2015

THIS IS NOT A REVIEW: The Man with the Iron Fists

Starring: - Robin Fitzgerald Diggs (G.I. JOE: Retaliation, Brick Mansions) sebagai The Blacksmith
              - Russell Crowe (Gladiator, The Next Three Days) sebagai Jack The Ripper Knife
              - Rick Yune (Olympus has Fallen) sebagai X-Blade
              - Byron Mann (Street Fighter) sebagai Silver Lion
              - Dave Bautista (Smek Daun WWE) sebagai Brass Body 
Budget: 20 juta Dollar
Box Office: angka-diatas-ditambah-0.25 juta Dollar
Genre: Martial Arts

Setelah sekian banyaknya film adu gebuk ala China dan Hong Kong yang gue tonton dalam hidup gue, datanglah si satu ini. Dari judulnya aja, kita udah tahu tokoh utama (atau minimal, tokoh) dalam film ini. Seseorang dengan tangan, atau seenggaknya, tinju besi. Jujur, udah banyak istilah Iron Fists atau Tangan Besi dalam dunia film yang gue tonton, bahkan ada di game juga. Yah Tekken itu. Bahasa Jepang dari Tangan Besi adalah Tekken. Pengetahuan Baru! *JRENG*
Apa sih yang sesungguhnya membuat film in beda dari film CIIIAATTT! lainnya?
Gue sempet kira ini adalah jenis-jenis film itu yang bener-bener stylistic, dan menurut gue mungkin menggambarkan dunia Asia Tradisional dari sudut pandang orang bule. Anggeplah kayak 47 Ronin.
Gue juga ngira film ini orientasinya lebih ke arah light-hearted kayak film-berantem-apapun-yang-ada-Jackie-Chan-nya. Semua jenis film yang ada Jackie Chan-nya, atau mungkin kayak Kung Fu Hustle, seserius apapun tema atau cerita yang dibawakan, pasti ada aja lucu-lucuannya. Bahkan di adegan-adegan adu bogem paling tegang pun. Apalagi dengan tokoh utama yang bukan bule tradisional, kayak Michael Angarano di Forbidden Kingdom, atau Keanu Reeves di, yah, 47 Ronin. Tapi disini adalah seorang Afro, yaitu rapper RZA yang gue sebutin nama aslinya diatas. Maksud gue, come on, RZA!
Akhirnya, apakah beneran kayak gitu?

Rap Fu
RZA disini bukan hanya sebagai aktor. Dia juga pemeran dalam film ini. Dan bukan pemeran orang lewat. Dia adalah si protagonis Thaddeus Henry Smith, yang lebih sering dipanggil The Blacksmith. Dan dia bukan cuma protagonis. Dia kurang lebih yang bikin film ini. Yep, dia sutradara. Padahal ini sebenernya film pertamanya sebagai sutradara, dan sebenernya dia gak punya pengalaman di bidang ini dalam bentuk apapun. Lagian kerjaan dia juga bukan aktor, tapi rapper. Pencetus Wu-Tang Clan (yang sayangnya gue gak kenal). Gila, apa-apaan nih?!
Sebagai hasil dari latar belakangnya sebagai penyanyi-cepat, jelas dia menyalurkan, er, bakatnya dalam film ini. Yep, soundtrack dari film ini kebanyakan adalah lagu rap. Dalam setting China. Lagu dan score dari film ini kebanyakan berasal dari group-nya, The Wu-Tang Clan, RZA sendiri, dan Kanye West. Mikir aja sih, apakah dua unsur dari dua belahan dunia ini bakal nimbrung dengan baik?
Gue jelasin, ya.. 
Experimen RZA dalam memadukan unsur yang barat banget ke dalam unsur yang timur banget itu gak gagal. GAK. GAGAL. Harus gue akuin, memang adegan-adegan action dalam film diiringi oleh lagu rap kedengeran cocok. Maklum, dalam berbagai adegan action di film-film dimanapun, diiringi oleh score yang sesuai dengan suasana film. Kadang-kadang lagu berupa rap juga. Meskipun tidak semua lagu berantem dalam film ini terbuat dari unsur rap, namun mayoritas ya, rap itu. Dan score-score yang tidak terbuat dari rap dibuat oleh RZA itu sendiri, jadinya ada unsur baratnya juga, meskipun bukan rap. Bagus, pendapat gue. Lagu rap meskipun tidak membuat adegan action epic, tapi membuat adegan-adegan tersebut menjadi terkesan ringan dan asyik, betapa banyaknya orang yang terbunuh dalam adegan itu. Tidak terkesan terlalu serius, atau terlalu menegangkan, atau sadis. Jadinya sering ditaro di adegan-adegan yang hanya berperan sebagai sampingan dalam cerita. 

The Ripper and the Smith
Penokohan dalam film ini dibagi menjadi 2 (dua)(two). Orang yang ngegebuk dan orang yang digebukin. Semua sama aja. Minimal menurut gue. Kecuali dua orang. Yaitu The Blacksmith (RZA), dan Jack "Knife" C. Wales (Russell Crowe). Mereka ya secara kebetulan adalah dua dari tiga bule mayor di film ini. Yang ketiga? Brass Body (Dave Bautista), yang sayangnya masuk kategori penokohan pertama. 
The Blacksmith diperankan oleh Pak Sut dari film ini, RZA. Anehnya, meskipun dia adalah tokoh paling utama dalam film ini (bahkan teknisnya judul film ini adalah julukan dia), dia tidak terlalu terlibat dalam main plot dari film ini. Dia lebih berperan sebagai narrator dari cerita. RZA memerankan Blacksmith dengan lumayan, bahkan untuk ukuran Pak-Sut-sekaligus-aktor-yang-tidak-berpengalaman. Dengan pemeranan RZA, Smith terkesan kalem, tapi pakem. Dengan logat, suara, dan tampang yang selalu ngantuk, orang bisa ngira dia gak niat bangun dari tempat tidur. Tapi menurut gue, ini menyumbangkan sedikit saja untuk unsur badass dia, sebagai salah satu dari tiga protagonis dalam cerita. Singkat cerita, menurut gue, Iron Fists yang dia dapatkan di tiga perempat cerita didukung dengan baik oleh akting RZA. 
Dan ada Jack Knife. Dia adalah mantan perwira Angkatan Darat Inggris, sekarang menjadi utusan dari Kaisar di China untuk memecahkan masalah yang ada di film ini. Dia diperankan oleh Russell Crowe, si Robin Hood, dan dulunya si Gladiator. Jack Knife memiliki peran yang netral pada awal sampai pertengahan film. Crowe memerankan Knife dengan solid, maksudnya karakter yang kita tahu dari Knife semata-mata hanya berasal dari cara akting Crowe saja. 
Gimana sih, Knife ini?
Menurut gue, dia orangnya adalah gambaran dari bule-bule turis China. Cepat ramah dengan keadaan lokal, dikagumi dengan orang lokal, dan maklum dengan preman lokal. Yah minimal, dia nggak masalah karena dia memecahkan masalah dengan caranya sendiri, yaitu Pistol-Pelempar Shuriken-Pencincang-Pisau yang selalu dia bawa kemana-mana. Dia juga memiliki tingkat simpati yang lumayan terhadap tokoh Iron Fists saat mereka bertemu dan mulai berteman. Sayangnya, di tengah-tengah film yang penuh dengan adu hantam ini, Jack tidak terlihat seperti layak tarung, tapi lebih layak dikarung. Ayolah, dia, err, gendut, dibandingin dengan manusia-manusia lain di film ini. Adegan tarung dia tidak terlalu menggambarkan kemampuannya bertarung, tapi lebih ke kemampuan Russell Crowe dalam berakting. Lebih banyak ngomongnya. 
Blacksmith sendiri tidak mendapatkan banyak peran berantem dalam cerita sampai ke adegan klimaks dalam film. Yang gue sayangin adalah Iron Fists yang dia punya tidak punya gaya. Okelah, dia punya sepasang tinju besi, tapi dari semua persenjataan ngayal di film ini, Iron Fist-nya Blacksmith terlihat yang palling standar. Selama adegan-adegan dia pake begituan, itu keliatannya kayak terbuat dari batu. Kasih kilap dikit, lah! Untungnya masih bisa buat bogem orang. Dan mengingat latar belakang RZA baru dua kali akting (yang gue tahu), adegan berantem Blacksmith tidak memiliki banyak koreografi. Yah, minimal kita bisa ngeliat dua tangannya jotos orang. 

American Way of China
Apa pandangan bule terhadap China secara mainstream?
Film ini mewakili pandangan-pandangan itu. Jelas yang paling terlihat dalam film adalah adegan adu tonjoknya. Satu hal: pertentangan secara terang-terangan terhadap hukum fisika. Orang digebuk mental kemana-mana, atau yang ngegebuk itu yang terbang kemana-mana. Mikir aja sih, sejak kapan orang bisa rebahan bertumpu sama jari kaki doang? Yang udah nonton kemungkinan besar nggak ngerti blas ngerti sama maksud gue. 
Hal kedua: persenjataan dari kurang lebih semua pihak yang terlibat dalam setiap adegan adu gebuk dalam film. Ngayal abis, meskipun keliatan familier. Misalnya klan antagonis, Lion Clan. Mereka punya tongkat yang ujungnya bentuknya kayak ceker harimau. Gue sempet ngira itu alat penggaruk punggung, tapi sayangnya itu adalah senjata. Cara bunuh orang pake begituan? Ya garuk aja 'pala orang pake itu, susah amat. Dan senjata petarung lainnya, seperti X-Blade. Pemain DOTA yang nonton film ini pasti tahu satu hal: X-Blade adalah pemakai Blade Mail. Untuk yang gak, belum, atau tidak minat main, X-Blade dilihat dari baju zirah yang dia pakai. Terbuat dari pisau. Bukan berisi banyak pisau (meskipun senjata X-Blade adalah pisau, dilempar atau ditebas), tapi, ya terbuat dari pisau itu. Anggeplah dia bisa bunuh orang hanya dengan nyenggol orang doang. 
Dan pihak-pihak lain, misalnya Madame Blossom (Lucy Liu). Dia punya kipas yang ujungnya dihiasi pisau. Brass Body (Dave Bautista), punya tubuh yang bisa berubah jadi kuningan. The Gemini Killers (Andrew Lin dan Grace Huang), punya pedang pendek yang berbentuk Yin dan Yang. Bisa disatuin. Kayak puzzle piece, gitu. Ah, susah kalo belum liat. Makanya liat! Maap, kebawa suasana. 
Dan dikarenakan RZA sebagai Afro yang sangat bonafid, maka banyak adegan vulgar dan eksplisit dalam film ini. Adegan yang yah.. ngana-ngono begitu. Kadang gue nonton, dan gue mikir.. untung gue gak nonton ini di bioskop. Sama ortu gue. Kewarasan gue bisa dipertanyakan entar. 

(+) - Adegan adu jotos yang memuaskan 
     - Eksperimen film martial arts ala China dengan soundtrack Rap tidak mengecewakan. 
     - Style yang gila-gilaan dan unik, meskipun tidak benar-benar baru. \
(-) - Adegan-adegan Iron Fists tidak memuaskan. 
    - Banyaknya adegan vulgar membuat gue mempertanyakan film apa ini sesungguhnya
    - Efek darah (ya ini gak penting) yang keliatan kayak fanta abis dikocok

Conclusion: RZA yang jelas gak punya pengalaman sebagai Pak Sut tidak membuat film yang jelek. Tapi, jika disejajarkan dengan film-film setaranya, masih banyak yang harus diperbaiki. Style yang bagus dijaga, cheesiness yang jelek dibuang. Saran gue tu. 

NILAI: 76/100

Until the next post, bungs! :D






                 

Sunday, February 8, 2015

Chapter 1 of Roque Mendez, Debt Collector

Apartment 105 was silent and void of any life until a figure opened the door and stepped in. A man, with blond hair, a pair of aviator sunglasses, black leather jacket with rolled-up sleeves, a pair of black trousers, and a pair of brown boots. He entered the apartment, and went to the couch on the center of the apartment. He sat and reached for the remote controller of his television. Beside his couch is a small table, on the table was a  framed photo of him in a fully equipped and ready for combat army uniform. He didn't look so tired, or fatigued, or somewhat broken as he is now. He looked spirited, excited, and thrilled as a smile was plastered on his face. Next to the framed photograph was a dog tag, on the dog tag it read:
 Mendez
Roque
687-12-0932
AB
Catholic
Mendez got bored from watching television, and eventually took a nap right on the sofa. When he woke up, it was already dark, and he heard some strange voices in his apartment. Apparently, the night had fallen, and now, he is not alone in his own apartment. As those strange voices drew even closer, he fended off his will to get up from his comfy sofa, and pretended to be in deep slumber. Then, he heard a silent conversation. "Are you sure that we are walking to the right apartment?" asked a voice. Another different voice replied, "I'm really sure about this one, man. We've heard that this dude got some sick war medals made of gold and some shit like that." Then there's the third voice. "Yeah, I've been staking out this place for some weeks, and I've heard him having some nice amount of cash. From our little heist, I'd say we can get away with three hundred thousand dollars." Roque Mendez who had been listening to the whole conversation was struck. These small-time burglars must've been referring to his cash stash of his various business dealings. From the direction of the conversation, the thieves must have came from the window. All three of them, assuming they got a fourth strong-silent type that just does but not speaks. He then heard some quiet footsteps, just behind of his sleeping couch. Then he heard some silent rummaging and scrounging all over his apartment. He assumed they must've been trying to find his case of old-time war medals and his cash stash. So he crept slowly from his sleeping position to his lamp switch, located the wall next to the very window those thieves had just entered. Roque stood up, flipped the switch on, and said to those criminals, now obviously visible-- and shocked, "Buenas noches, adios. Though I must say, you guys are not very good at being some ladrones."
Three seconds later one of the robbers was downed on the floor while the other two, now brandishing weapons of their own, attacked Mendez. He had previously exploited the swing of one of the thieves' crowbar into knocking down his companion, who was lying on the floor as Mendez engaged the others. Another swing of crowbar attempt at Mendez was foiled as Mendez not only dodged the hit, but jabbed the thief in the jaw. Mendez then heard a cock of a handgun loading-- he immediately knew this was the third robber. So he gave the crowbar thief a hefty hook at his torso, before using him as a human shield facing the gun thief. He gave himself cover behind the poor human shield, then heard a gunfire. The next second, he heard a painful wail-- from the thief turned makeshift shield. The house defender briefly saw a glimpse of what looked like a stream of blood on the thief's left hand. That happened before Mendez swiftly picked up the thief's crowbar and flung it to the gunman. It landed on his forehead, and a loud thunk made sure he was down for the count. By now, the first thief to be knocked down had gotten up, and of course, enraged. He balled his fist, raised it and charged at Roque Mendez. Mendez ducked the thief's first jab, swayed from the second, blocked the fourth, and caught the thief's hand on the fifth. He spun the thief's hand to his back, dislocating it and sending forth a scream from the thief. Then he shoved the thief to a nearby table chest-first, while still locking the thief's hand. Mendez grabbed his head and sent it down to the table's edge. Realizing the thief wasn't out yet, he kicked the thief's calf, making him kneel, then gave the crown a powerful knee that it sent the thief's face against the the edge of the table. The thief was finally out cold, and  by the looks of it, he's maybe out for "Two weeks," stated Mendez. "By the next day you'll be eating with a paja attached to your hand."

Friday, January 30, 2015

Prologue of Roque Mendez, Debt Collector

Four men sitting in front of a table in a room. Then came upon them the fifth, carrying what would seem like four dossiers, each seemed to look hefty and most were stuffed with rap sheets, photos of mug shots, and compromising files.
"So, gentlemen," the fifth man closed the door behind him. "I had to pull some favors from the FBI, Local PD, CIA--no, wait, that seemed to go too far," he stated, "but I can assure you, these are all I can give to you about who are we going up against, and a little insight on how worthy it is to see these men be put behind bars." As those words flew from his mouth, he stacked the dossiers on the table. The other four men, each seemed to be more eager than another, quickly snatched the dossiers and flipped them open to see what sort of sins caused these four individuals to be collectors of rap sheets.
"So McConley, what are these you're giving us? Can you kindly convince us we are not looking at rap sheets of four unlikely thug from an unlikely ally that would certainly rob us for even more unlikely money?" asked one of the four men. "Yeah, Callum," added the other. "These individuals seemed to be that of those street criminals who wanted nothing more than easy cash." Detective Callum McConley sighed. "I say you read those hard-earned intel, then you start on piling me with questions."
The first dossier was that of all written information regarding "Trey Becks. Born and raised on this city. Former taxi driver, now he is a well-known street racer. While these criminal records I'm looking at showed nothing standing out, he was charged at least four times for illegal racing and twice for grand theft auto. Known to have resisted arrest once, witnesses stated that he was chased by 15 police officers across 8 rooftops before actually being apprehended due to tripping on a clothesline and landing on a dumpster" said the man who got Becks' dossier. As he flipped to the next page, he was shown a mug shot of this Trey Becks. It showed a mid to late 20s African-American person with an obvious streak of cockiness just drawn on his face. Although only his mugshots were shown, he was obviously  depicted of wearing a black hoodie mostly with hat down and a purple bandana on his bald head.
The second dossier displayed the known intel of Mitch Kwang. "Mitch Kwang was born in Singapore and he was raised in Singapore up until he joined the military program compulsory for adolescents reaching the age of seventeen. After the military program, he relocated to United States, where he stayed until now. He was known to be very intelligent and had no problems working his way around modern technology, most notably computer science. It was stated here that he was charged twenty times for hacking and was arrested three times for theft. Interestingly, all these thefts were all committed in electronic shops. His latest IQ score is 155." stated by the man reading Kwang's rap sheet. After flipping to the next page, he saw Kwang's mugshot: an early to mid 20s Asian, with a pair of glasses and the look that seemed to deceive anyone on first sight into believing that this boy barely even made it out of middle school. He seemed to be slightly overweight.
On the third dossier was all the data recorded on Drake Barons. "Born and raised in Canada, Drake Barons was a known contender in the Mixed Martial Arts sport. He was known to be a particularly good fighter, winning 40 fights with 9 KOs and losing 11. That is, until he met Joe Brass for the welterweight champion belt. After 5 rounds, he found out that Brass had been taking performance-enhancing medicine during the break time. In the sixth, he violently beat Brass and almost killed him. If it weren't for the officials, Barons was said to have killed Brass. Brass himself was suspended, but Barons didn't stop assaulting Brass during his time of suspension; his training, his lunch time, hell, even his window shopping time. This made Barons to be disqualified from the MMA Championship. Now, Barons currently collected paychecks from underground fighting rings and he currently made his living from that line of occupation. He was arrested and charged for mostly petty crimes: twice for assault, seven times for mugging, and five times for armed robbery." the man who got Barons' dossier read aloud. The next page contained, yet again, Barons' mugshots. His showed a man with a receding hairline, with age ranging from early to mid 30s. Even from his mugshots it can be seen that his body was packed with musles and obviously ripped. His look was that of a regular thug on a regular mugshot but with an empty and firm glare on whoever saw him.
The fourth dossier was filled with records of Johnnie Craig. "Ex-soldier," said the fourth man, "Served the country during the Vietnam War, went on four tours across North Vietnam, honorably discharged after the war ended, and now he was tied to both street and organized crime in this city. Field reports suggests he is the head of the Mean Street Gang, of which was known as the most powerful crime syndicate in town. Said gang, as reports suggests, took control of the underworld of crime in this city: drug trafficking, extortion, gun trade, and even prostitution." The dossier was different from the others; while the other three misfits consisted mostly of mugshots and rap sheets, Johnnie's dossier contained mostly documents from his years of service in Vietnam. There were a couple of photos of him and his brother-in-arms. Also, his dossier was noted for having little to no mugshots of himself. The closest picture of his current days were several shots of his face, which looked like it was taken by an undercover officer, as they were not very clear. Most depicted him wearing a black leather jacket with white shirt underneath and a fishing hat. 
"Detective," asked one of the four men, "I was just wondering if you can explain to us what does this all mean. What I'm saying is that these four men are indeed, erm, how would you say it, diverse, but they don't have that much of a pattern we can see, especially regarding of our objective now." The other added, " Yes, the primary objective of our operation is a kill/capture order on Stane Oakley. How do these individuals are connected to him?" 
Callum paused for a brief moment, before replying, "Stane Oakley is a former Gulf War soldier who was tied to international gun running trade, responsible for the disappearance of the Fox Company in Iraq. He was also believed to be involved in the massacre of innocent Iraqi men, women, and children during the war. Now he relocated his weapons business to our country and was known to supply over sixty-four organized crime syndicate all over the mainland. So the last time I heard he was in this city for business, I immediately knew this was the best time to finally put this sonofabitch down. Those dossiers? Johnnie Craig had let Stane into his gang as a weapons supplier and constant benefactor. The other three? They are Johnnie's top and most trusted lieutenants. If we can get close to them, we can get close to Johnnie. If we can get close to Johnnie, we can get close to Stane and finally we get to put down Stane for good." 

Aftermath of Considerations

Bukannya gue pernah bilang, kalo gue bakal post blog-blog yang berisi cerita fiksi bahasa Inggris buatan gue sendiri? Yah, setelah banyaknya pemikiran, pertimbangan, dan seterusnya itulah, akhirnya gue bakal post tu karya-karya gue! 

Ah, itu bukan berarti gue bakal berhenti post tentang film, game, dan pandangan gue terhadap panggung atraksi kita yang disebut KEHIDUPAN. Cuman ya, mulai sekarang gue bakal post karya-karya fiksi gue sebagai selingan post-post gue yang lainnya. I do really hope you to enjoy them!

Seperti biasanya dalam karya fiksi yang baik dan benar, SEMUA NAMA, PERISTIWA, DAN UNSUR-UNSUR YANG TERDAPAT DALAM KARYA GUE ADALAH BENTUK KARYA FIKSI, DAN SEMUA PERSAMAAN DENGAN DUNIA NYATA ADALAH KEBETULAN SEMATA

Until the next post, bungs!

Tuesday, January 27, 2015

YA NGGAK, SIH!?: Kurikulum 2013

Balik lagi ke urusan gue mengulas, ya apapun yang mau gue ulas di blog gue. Kali ini sedikit (secuil aja tepatnya) lebih serius dari blog yang gue udah post sebelum-sebelumnya. Film ya film mulu, game ya game mulu. Jujur, gue sendiri sedikit bosen. Ya nggak sampe bosen amet sih, tapi ya apalah hidup itu tanpa variasi?
Kali ini gue bakal ngebahas sebuah materi yang nggak ada asing-asingnya sama kehidupan persekolahan (dapet dari manaan tuh? Vicky Prasetyo?) di Indonesia. Yep. KURIKULUM 2013 dengan nama mangkal lain seperti KuTiLas dan K13. Kurang kerjaan amat, gue ngebahas beginian. Ya emang waktu gue nulis ini gue lagi nggak ada kerjaan, jadi gue gak bakal ngadu mulut. Gue punya alasan tersendiri buat nulis post ini. Gue sebagai seorang murid SMA punya pendapat sama Kurikulum ini, dan ya namanya juga pendapat, lu pada bisa selalu ngasitau gue pendapat lu pada. Gue, seekor seorang pelajar, sudah mengalami kurikulum ini selama dua tahun (mestinya, kalo perlu Pak Anies Baswedan langsung bubarin tahun pelajaran ini juga, tapi ya udah keburu jalan mau digimanain?). 
Apa rasanya?
Stroberi  Nyaman?
Vanilla Efektif?
Coklat Atau bukan keduanya?

Sedikit backstory, dari sudut pandang gue K13 itu kayak perkuliahan. Bedanya lebih disesuaikan dengan status para pelajar sebagai, ya pelajar, bukan mahasiswa. Bukan lagi paket-paket pelajaran selama satu tahun dua semester. Bukan lagi kelas-kelas per tahun. Bukan lagi yang namanya tinggal kelas. Dan, bukan lagi cara belajar yang sama. Disini, siswa ketika masuk tahun ajaran baru diberikan sebundel paket SKS (Sistem Kredit Semester) selama enam semester, masing-masing semester enam bulan. Jadi ya, selama tiga tahun itu kita sebenernya mengikuti sebuah paket isinya berbagai mata pelajaran (untungnya yang wajar). Bukan paket-paket individual yang disediakan per tahun ajaran. 

Penjurusan? Yah sekarang penjurusan namanya berganti menjadi peminatan. Garis bawahin namanya ganti, karena sebenernya gak ada bedanya antara peminatan dan penjurusan. Toh tetep aja lu masuk ke dalam MIA (alter ego dari IPA dengan nama lain Matematika dan Ilmu Alam), IIS (nama lain dari IPS, singkatannya Ilmu-Ilmu Sosial), dan IBB (gue gak tau ini ada sebelumnya atau gak, tapi adalah nama lain dari Bahasa, dan IBB ini adalah Ilmu Bahasa dan Budaya). Sesuatu yang unik dari tahun ini adalah bahkan anak MIA bisa punya Sejarah. Yep. Sejarah. Penjajahan Belanda, Jepang, Proklamasi, dan kaum-kaumnya. Atau anak IIS bisa punya Kimia. Oksigen, reaksi, tingkat keasaman dan sebagainya. Dari  sini, kawan-kawanku, kita bisa lihat bahwa K13 mengurangi identitas daripada peminatan itu sendiri. Semuanya gara-gara? SKS. Bukan Sistem Kebut Semalam, ya. 

Jadi SKS itu, seperti yang udah gue sebutin di atas, ngasih paket pelajaran buat TIGA TAHUN. Bukan TIGA DWIWULAN (Yah, itu satu semester). Satu SKS itu adalah satu kali pertemuan pelajaran. Dan satu kali itu adalah dua jam pelajaran. Awal kita masuk, kita udah dikasih beberapa SKS buat pelajaran-pelajaran yang kita dapatkan selama pembelajaran tiga tahun kita. At least, itu menurut pendapat gue. Sebagai contoh, gue dapet pelajaran Sejarah di kelas X gue. Terus, selanjutnya setelah peminatan, yaitu semester 2 kelas X, gue gak dapet Sejarah lagi. Berarti gue bakal terus ngehindarin Sejarah terus ya nggak, sih?
Nggak.

Anggeplah kita dapet paket pelajaran Sejarah sebanyak yah anggeplah 30 SKS. Lalu SKS ini didistribusikan ke dalam masa belajar-mengajar kita. Klo misalnya kuota Sejarah buat satu semester (misalnya 3 SKS, berarti tiga pertemuan per minggu) tidak sampai menghabiskan SKS Sejarah yang dkasih ke kita awal tahun itu, apa artinya? Haha tentu saja. Kita bakal dapet lagi Sejarah di semester berikutnya, Ya mau semester 2 kek, ato 3 kek, ato 6 kek (ya, kelas 3 SMA semester 2), sampe total SKS yang diberikan habis. Mungkin gue salah disini, bisa minta tolong pencerahan?

Trus gue bakal berhenti di sini?

Nggak. Ya nggak, sih?!

Selain dari SKS, juga ada perubahan dari konsep pembelajaran yang diberikan kepada kita protagonis dari petualangan kurikulum ini. K13 mengimbau murid untuk lebih rajin memanfaatkan media pembelajaran yang tersedia di luar sekolah, dan lebih sedikit mengandalkan guru. Guru dulu sering memberikan penjelasan berupa materi, praktik, dan teori (mungkin gak ada bedanya sama materi kali ya). Sekarang? Guru lebih sering meletakkan dasar dari suatu topik pembelajaran, memberikan tugas yang berhubungan (paling sering presentasi), dan siswa mencari sendiri di rumah. Pembelajaran yang didapatkan disini lebih sering dari internet. Mandiri itu bagus, ya nggak, sih?

Tidak. *JREEEENG*

Jujur, konsep yang diberikan oleh kurikulum ini bagus. Ya minimal kalo gak bagus, gak bakal dijadiin konsep dasar kurikulum, toh? Yang gue permasalahin disini adalah pelaksanaannya. Dengan lu berusaha menjadikan murid mandiri, berarti lu bisa membuat mereka betul-betul terlepas dari peran seorang guru, gitu? Mereka bisa cari materi sendiri? Belajar sendiri?

Trus buat apa sekolah?

Dari sini sih, lu keliatannya dateng ke sekolah cuman buat terima KD (Kompetensi Dasar, ya kayak tujuan lu belajar sebuah materi), trus pulang. Lah, kan, peran guru dikurangin. Gak boleh sering-sering ngejelasin. Lu seringnya cari bahan di rumah, ato kalo gak di sumber-sumber lain dah. Apalagi gue juga mempertanyakan buku cetak. Gue perhatiin, buku cetak adalah salah satu sarana yang jarang dipake di kurikulum ini. Sering banget dibagiin, tapi akhirnya gak dipake. Diliat dari isinya, yah kita bahkan disuruh memperkaya pengetahuan dengan tugas-tugas. Buku cetak bro, bayangin! Tujuan kita ke ssekolah yang paling penting buat kita adalah bertemu dengan teman-teman tercinta. 

Gila, gue nggak nyangka bisa setajem ini ngomongnya. Tapi, yah beginilah presentasi dari kurikulum kita. First Impression adalah penentu penilaian orang terhadap produk lu. Kalo jelek, ya berarti pendapat orang ke produk lu keselanjutnya udah negatif, dan itu berarti lebih banyak lagi usaha lu buat bikin pendapat dia berubah. Dan, ya begitulah sebenernya K13 ini. Banyak hal yang harus diperlurus, kata gue. Dan transisi dari kurikulum sebelumnya juga harus mulus dan lancar, sehingga orang bisa menerima perubahan dengan baik. 

Yang paling gue ngerti adalah SP (Semester Pendek). Beda dengan  tahun lalu, kalo misalnya ada mata pelajaran yang lu kurang beruntung dan gak lewat KKM, maka ya move on aja, yang penting gak bikin lu tinggal kelas. Seakan-akan pelajaran yang lu kurang beruntung itu dibiarkan aja. Yang penting pelajaran-pelajaran lainnya bisa buat nutupin kekurangan lu di pelajaran tersebut. 

Sekarang?

Ya SP itu. Per semester pasti ada pelajaran-pelajaran. Dan pelajaran-pelajaran itu memiliki kuota SKS per semesternya. Kalo terjadi sebuah kesalahan dan lu gak lulus KKM dari pelajaran itu, apa yang akan terjadi? Ya lu bakal ngikutin, anggeplah, versi compact dari pelajaran itu di semester berikutnya. Biar akhirnya bisa bikin nilai pelajaran lu lulus akhirnya. Versi compact ini disajikan dalam bentuk yang lebih pendek dari pelajaran yang udah lu ikutin selama satu semester, menjadi satu periode yaitu tiga bulan. Kapan aja lu jalaninnya? Setelah jam pelajaran sekolah, kalo di tempat gue sih jam ekstra. Perlakuannya sama nggak? SP dihitung sebagai jam intra, jadi lu bolos ikut SP udah kayak lu bolos sekolah. Berapa kali? Ya liat aja kuota SKS buat pelajaran itu di semester saat ada mata pelajaran itu. Misalnya Kimia di semester 3 memiliki 2 SKS (seperti yang gue bilang sebelumnya, 2 pertemuan per minggu). Dan, terjadi insiden dan akhirnya lu kena SP Kimia. Berapa kali lu harus pergi ke SP? Ya 2 SKS itu. 2 kali per minggu. 
Dari sisi gue, ini adalah sistem yang bagus, karena membuat orang menjadi lebih peduli sama pelajaran-pelajaran yang mereka terima. Biar gak kena SP. Lu repot, dompet lu ya repot, dan lu nya juga nggak enak. Dan, ini juga merupakan sarana yang baik bagi penguji tingkat kepahaman siswa terhadap materi-materi dari mata pelajaran. Sisi lain, ini membuat banyak waktu (yang katanya buat memperkaya materi) terbuang. Apalagi SP yang udah asli eman nilainya. Misalnya SP Kimia gara nilai rapot besarnya 74, dengan KKM 75. Bisa aja itu gara-gara guru mapelnya salah ketik angkanya, kan? 

Balik lagi ke konsep dasar dari K13 ini. Dengan adanya pelaksanaan konsep yang belum sempurna, gimana caranya biar, yah minimal berkurang ketidaksempurnaannya? Pendapat gue mengenai hal ini adalah keseimbangan antara murid mencari dan guru menjelaskan. Murid mencari sendiri cenderung pada murid tersesat dalam pencariannya agar sesuai dengan materi. Dari website resmi terlalu sedikit, dari website seperti tempat gue post ini gak selalu bener (kayak post ini sendiri aja belum tentu semuanya bener kan?). Fungsi guru dalam hal ini adalah mengarahkan murid agar tidak sesungguhnya tersesat dalam pencarian menuju harta karun materi yang bisa memperkaya pengetahuan mereka. Bukan cuma bilang bahwa Blog, Wordpress, dan kaum-kaumnya menyesatkan. Minimal dengan kita yang udah gede ini udah tau begituan. Guru menurut saya memberikan referensi (yang terpercaya tentunya) sebagai panduan terhadap materi tersebut. Biar minimal siswa lebih ngerti, gitu loh. Juga jangan semua materi ulangan berasal dari buku cetak, atau malahan semuanya berasal  dari sumber luar. 
Kenapa guru memberikan panduan sesungguhnya terhadap pencarian materi luar? Karena materi ulangan aja bisa beda dengan buku paket sebagai sumber tepercaya bahan ulangan, apalagi dengan bejibun situs-situs online yang ada di luar sana. Kan kunci jawaban dari ulangan guru yang tahu, bukan internet. Jawaban yang benar dari internet belum tentu jawaban yang benar menurut gurunya. Guru juga ikut mencari materi luar, agar juga bisa ngerti referensi-referensi yang dipunyai oleh murid. 

Mungkin kata-katanya bisa nambah, tapi segini lah dulu. Otak lagi rada mandek sekarang. Kasih opini boleh, lah. 

Until the next post, bungs!  

SEE YA LATER SPACE COWBOY: Sebuah Update (lagi).

Hey, you. You're finally awake! You're trying to find a new post on this blog, right? Then found nothing, just like the rest of us ...